Melawan Pandemi Corona di Pinggir Jakarta

Nadhen Ivan, CNN Indonesia | Senin, 06/04/2020 12:57 WIB
Melawan Pandemi Corona di Pinggir Jakarta Suporter sepak bola membagikan nasi bungkus kepada pengemudi ojek daring di Jalan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (3/4). (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mikroba bernama corona, sungguh telah menghancurkan sendi kehidupan. Begitu kata Rhoma Irama. Dalam lagu berjudul "Virus Corona" yang dirilis 3 April 2020 itu, sang raja dangdut Rhoma Irama menggambarkan fenomena serangan virus yang telah menimbulkan banyak korban.

Dalam keterangan tertulis yang diunggah akun YouTube GPRecords, lagu itu menceritakan tentang kesedihan, kegelisahan dan ketakutan umat manusia di dunia akan virus corona yang sedang mewabah dan mematikan.

"Saya berharap semoga lagu ini bisa menginspirasi kita semua untuk menjaga agar penyebaran virus corona tidak semakin merebak," kata Rhoma


Pemerintah mengumumkan, per 5 April 2019 jumlah pasien positif corona mencapai 2.273 orang. Korban Meninggal 198 orang, dan pasien sembuh 164 orang. Upaya pemerintah untuk menekan penyebaran virus corona baru sebatas imbauan: jaga jarak, cuci tangan, dan gunakan masker. Wajib Memakai masker.

Rencana sejumlah daerah untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) belum dilakukan sepenuhnya. Pemerintah belum menetapkan daerah yang akan menerapkan pembatasan sosial, termasuk DKI Jakarta. Berdasarkan data di laman Covid 19, Jumlah kasus positif di DKI Jakarta, hingga 5 April mencapai 1.151 kasus. Korban meninggal 123 orang dan sembuh 64 orang.

Tingginya jumlah kasus di DKI membuat pemerintah DKI mengimbau perusahaan-perusahaan sebisa mungkin menerapkan Work From Home (WFH) dan meliburkan anak sekolah. Akibatnya, mengutip kata Rhoma, Sendi kehidupan hancur.

Banyak warga yang memilih untuk di rumah saja. Dampaknya, sopir angkutan umum, driver ojek online, dan pekerja nonformal lainnya tiarap. Penghasilan mereka berkurang.

Persoalan itu membuat masyarakat di DKI dan sekitarnya bersiasat. Mereka berupaya sebisa mungkin melawan serangan virus corona. Budaya gotong royong, saling membantu muncul di tengah masyarakat.
Di pinggiran Jakarta, warga bahu membahu untuk melawan corona. Mulai dari membuat warung darurat di kompleks perumahan hingga mengumpulkan donasi untuk membantu para sopir angkutan yang kehilangan pendapatan.

Jessica, seorang warga Bekasi, bergerak mengumpulkan donasi dari teman-temannya untuk diberikan kepada sopir angkutan umum yang melintas di dekat tempat tinggalnya.

"Saya kasihan melihat para supir angkot ini, karena beberapa kali pergi ke pasar dekat tempat ngetem-nya tuh mereka sepi banget penumpang," ujarnya, Senin (6/3).

Sejak dua hari lalu, ia dan beberapa temannya berinisiatif menggalang dana untuk nantinya dibelikan sembako dan dibagikan supir angkot itu.

Bukannya tak mau berdonasi ke yayasan-yayasan atau medium bantuan lainnya, namun Jesica ingin orang yang terdekat dari tempat tinggalnya bisa mendapat bantuan.

"Tapi apakah yayasan itu tau kalau sopir angkot itu kesusahan? Jadi selagi saya bisa ya lakukan," kata Jesica. "Kalau bukan kita yang lakukan siapa lagi, lagian kan mereka ini dekat sama tempat tinggal saya."

Jessica mengatakan, hingga kemarin, dia telah mengumpulkan donasi Rp3,8 juta.

"Uang itu akan dibelikan sembako dan dibagikan ke sopir angkot di Pasar Pondok Gede, Jumat nanti," kata dia.

Melawan Corona juga dilakukan warga di perumahan Telaga Jambu, Depok. Warga menyulap gudang masjid menjadi warung darurat. Tujuannya, agar warga tak perlu keluar kompleks untuk membeli kebutuhan.

Ketua RT di Telaga Jambu, Mulyasir menceritakan sejak informasi penyebaran corona mulai marak, warganya mulai ancang-ancang menerapkan social distancing.

"Sekarang di kompleks kami enggak bisa sembarangan orang untuk masuk untuk mencegah penyebaran virus corona," katanya.

[Gambas:Video CNN]


Warga akhirnya berinisiatif membuka warung darurat. Bermodal uang patungan warga mereka membuat warung yang menyediakan kebutuhan rumah tangga. Bahkan, sayuran pun disuplai. Pengelolanya pengurus gugus covid tingkat RT.

Warung itu beroperasi sejak pagi hingga pukul 20.00 WIB. Setiap warga yang berbelanja diberikan jarak. Tiap warga yang belanja di warung diberi waktu lima menit. Jarak tiap pembeli lima menit.

Pasokan barang kebutuhan pokok dibeli oleh pengurus RT yang menjadi satgas gugus covid-19. Mereka keluar kompleks untuk membeli kebutuhan yang diperlukan warga dengan prosedur ketat. Menggunakan masker dan sarung tangan, serta selalu cuci tangan.

"Kami bergerak mandiri membantu mengurangi beban pemerintah kota Depok," kata Mulyasir.

Ahmad, seorang warga Telaga Jambu mengaku sangat terbantu dengan warung itu. "Enggak perlu repot-repot keluar, harganya juga enggak jauh beda dengan toko di luar beda Rp100 Rp200 perak," katanya.

Selain warung darurat, warga juga menyiapkan sarana pencegahan. Saat ini mereka memiliki 1 diisnfektan chambers, 2 wastafel, dan 1 warung darurat.

Yasir khawatir warga bisa tertular virus corona bila harus keluar rumah, meski hanya ke warung yang jaraknya kurang lebih 5 meter dari gerbang pemukimannya, maka dari itu dibuatlah warung itu.

"Kalau warga itu pergi meski dekat, karena kalau ke warung atau pasar kan bisa berdesakan dan transmisi virusnya lebih cepat," tutur Yasir.

Yasir pun mengatakan warung darurat ini mendapat respon positif dari warga. Katanya, kini mayoritas warga jadi tidak perlu lagi pergi ke pasar.

"Kini warga gausah keluar rumah, bisa pesan lewat whatsapp nanti kami antarkan ke kediamannya," Yasir menambahkan.
Siasat untuk bertahan hidup di tengah pandemi Corona juga dilakukan Andre Silaban. Ia prihatin melihat sang Ibu kesulitan menjajakan barang belanjaan di pasar Jati Asih, Kota Bekasi setelah corona.

"Mama saya kan pedagang di Pasar Jati Asih. Satu waktu dia pulang terus saya tahu kalau dagangan ia sepi pembeli," jelasnya.

Imbauan pemerintah agar warga tak keluar rumah berdampak pada dagangan ibunya. Iapun pmulai bergerak menjajakan dagangan Ibu secara online.

"Saya akhirnya posting di Instagram dan Twitter dan ternyata ramai juga yang membutuhkan jasa ini," imbuhnya.

Dalam sehari bisa tujuh orang yang berbelanja online ke Andre. "Sama-sama untung saja. Saya juga bisa bantu Mama, saya bantu warga mendapatkan kebutuhan pokoknya," tambahnya.

Bila barang yang diminta konsumen ada di hari itu, ia akan segera mengantarkannya. "Tapi kalau barangnya enggak ada, akan saya antar besok harinya," lanjutnya.

Tak hanya menyediakan jasa pembelian hingga pengantaran kebutuhan pokok. Ia pun memikirkan cara agar transmisi virus tidak terjadi dengan pembayaran melalui uang tunai.

"Saya putar otak, akhirnya buka pembayaran melalui m-banking. Jadi benar-benar tidak ada kontak," ujarnya.

Andre tak tahu sampai kapan penyebaran corona berakhir. Yang dia tahu, dia harus bergerak agar keluarganya tetap bertahan hidup. Bergerak, bergerak, dan terus bergerak, agar roda kehidupan terus berjalan.
(ugo/ugo)