Hasil Rapid Test di Banten, 201 Orang Dinyatakan Positif

CNN Indonesia | Senin, 06/04/2020 22:51 WIB
Pemerintah Provinsi Banten sejauh ini telah menggunakan 4.197 unit rapid test dari yang tersedia 14.900 unit. Petugas medis dengan memakai alat pelindung diri memperlihatkan alat ‘rapid test’ COVID-19 di terminal kedatangan Pelabuhan Bandar Sri Junjungan Dumai di Dumai, Riau, Jumat (3/4/2020). (ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid)
Serang, CNN Indonesia -- Hasil rapid test Covid-19 yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menyatakan 201 orang reaktif, 3.984 orang non reaktif, dan 12 orang invalid. Pemrov Banten sejauh ini telah menggunakan 4.197 unit alat rapid test dari keseluruhan 14.900 unit.

Data itu diberikan Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Covid-19 yang juga Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten, Ati Pramudji. Dia menjelaskan data merupakan penggunaan rapid test hingga Minggu, 05 April 2020.


"Rapid test reaktif artinya IGG dan IGM di dalam tubuh manusia positif. Rapid test bukan untuk diagnosa pasti seseorang menderita covid-19 atau tidak, hanya untuk mengetahui antibody IGG dan IGM di dalam tubuh manusia," kata Ati dalam keterangannya kepada awak media, Senin (6/4).


Menurut Ati meski hasil rapid test seseorang dinyatakan reaktif atau positif, namun tetap harus dilakukan pemeriksaan ulang kedua kalinya. Jarak pemeriksaan pertama dan kedua, setidaknya tujuh hari.

Jika masih positif, maka dilakukan pemeriksaan menggunakan PCR ataupun test Swab lendir hidung dan tenggorokan untuk memastikan orang tersebut positif atau negatif covid-19.

"Diagnosa pasti tetap dengan PCR melalu SWAB Lendir hidung dan tenggorok. Dari hasil rapid test positif, harus dilakukan ulang yang kedua rapid test, jika yang kedua positif, maka untuk diagnosa pasti tetap harus dilakukan pemeriksaan PCR melalui Swab lendir hidung dan tenggorok," terangnya.

Pemeriksaan menggunakan rapid test diutamakan bagi tenaga medis yang bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19, Pasien Dalam Pengawasan (PDP), hingga orang yang pernah bersentuhan dengan pasien positif Covid-19.

Jika hasil rapid test reaktif, maka pasien harus melakukan karantina mandiri di rumah, jika pasien sedang tidak dalam perawatan rumah sakit. Namun jika pengecekkan dilakukan saat pasien dirawat di rumah sakit, maka karantinanya dilakukan di rumah sakit.

"Jika rapid test-nya PDP yang sedang dirawat di RS, maka dikarantina di RS. [Jika sedang tidak dirawat] Karantina rumah selama 14 hari dan dipantau oleh tenaga kesehatan Puskesmas," jelasnya.


Berikut data lengkap jumlah rapid test yang disebar ke delapan kabupaten dan kota di Banten, beserta hasilnya :

1) Kota Tangerang Selatan, ketersediaan rapid test sebanyak 2.600, reaktif 7, non reaktif 136, sisa 2.475.
2) Kota Tangerang, ketersediaan rapid test 5 ribu, reaktif 53, non reaktif 2.097, invalid 5, sisa 2.845.
3) Kabupaten Tangerang, ketersediaan rapid test 2.600 unit, reaktif 136, non reaktif 539 dan tersisa 1.926.
4) Kabupaten Serang, ketersediaan rapid test 1.260, reaktif dua, non reaktif 783, dan tersisa 474.
5) Kota Serang, ketersediaan rapid test 840, reaktif 0, non reaktif 32, invalid 1, sisa 807.
6) Kota Cilegon, ketersediaan 560, reaktif dua, non raktif 185, invalid 1, sisa 372.
7) Kabupaten Lebak, ketersediaan rapid test 800, reaktif 0, non reaktif 54, invalid satu, sisa 745.
8) Kabupaten Pandeglang, ketersediaan rapid test 1.240, reaktif satu, non reaktif 158, invalid 4, sisa 1.077. (ynd/fea)

[Gambas:Video CNN]