Wali Kota Solo Ungkap Kasus Baru Corona dari PDP Lama

CNN Indonesia | Selasa, 07/04/2020 18:02 WIB
Wali Kota Solo Ungkap Kasus Baru Corona dari PDP Lama Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo (tengah) menyinggung soal durasi tes Corona. (ANTARA FOTO/HO/Dodi)
Solo, CNN Indonesia -- Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengatakan di wilayahnya ada penambahan satu kasus positif Virus Corona setelah ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) sejak akhir Maret.

Usai pulang dari Surabaya dalam keadaan sakit, akhir Maret, pasien tersebut langsung dinyatakan sebagai PDP dan dirawat di RSUD dr Moewardi. Ia kemudian ditetapkan positif pada Senin (6/4) malam.

"Hari ini [kasus positif Corona] tambah satu. Itu sudah PDP lama tapi hasil lab-nya baru kita terima," katanya saat Jumpa Pers Covid-19 di Ruang Rapat Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Selasa (7/4).


Saat ini ada dua warga Solo yang dirawat di RSUD dr Moewardi karena positif Covid-19. Salah satunya adalah warga Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, tersebut.

Sementara kasus positif lain yang masih dirawat adalah warga Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres. Ia mengeluhkan sakit setelah merawat ayahnya yang sakit setelah mengikuti acara keagamaan di Bogor akhir Februari lalu. Ayah pasien itu meninggal setelah dirawat di rumah sakit sebagai seorang PDP.

"Informasi yang kami terima, ayahnya itu meninggal karena TBC. Bukan Corona," kata Rudi.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Solo, Ahyani, menerangkan dalam sehari terakhir jumlah ODP dan PDP juga naik bertambah. PDP tercatat sebanyak 47, bertambah dua orang dibanding kemarin 45 orang. Dari total PDP itu ada 17 orang masih dirawat di rumah sakit, 7 orang meninggal, dan 23 orang dinyatakan sembuh.

Sementara untuk ODP jumlahnya meningkat menjadi 311 orang. Bertambah 25 orang dalam satu hari. Dari total ODP, 198 orang masih dalam pemantauan. Sisanya sebanyak 113 orang dinyatakan selesai pemantauan.

[Gambas:Video CNN]
"Data ini belum termasuk orang-orang dari luar kota yang mudik ke Solo," katanya.

Terpisah, seorang pasien perempuan berusia 66 tahun yang pernah menyandang status PDP meninggal, Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Kota Cilegon, Selasa (7/4) pukul 10.00 WIB.

Prijo Wahjuana, Manajer Pelayanan Media RSKM, menjelaskan pasien tersebut awalnya pernah dirawat di Intalasi Gawat Darurat (IGD) RSKM Kota Cilegon dengan gejala mirip Covid-19. Pasien itu kemudian dirujuk ke RSUD Banten, sebagai rumah sakit rujukan utama di Provinsi Banten, Minggu (29/3).

Karena hasil pemeriksaannya negatif, pasien itu dikembalikan ke RSKM Cilegon pada Minggu (5/4). Namun, ia kemudian menghembuskan nafas terakhir pada pagi tadi.

"Kembali [ke RSKM] hari Minggu, kami terima dan rawat, tetapi tetap dengan status PDP karena statusnya kontak dengan di RSUD Banten," kata Prijo, di Kantor Pemkot Cilegon, Selasa (7/4).

Pasien merupakan Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Banten. Usai meninggal dirumah sakit RSKM, pasien langsung di urus pemakamannya sesuai prosedur jenazah Covid-19, karena menyandang status PDP.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Cilegon, Arriadna, selain berstatus PDP, wanita baya itu juga memiliki riwayat penyakit stroke yang masih di deritanya hingga meninggal dunia.

Wali Kota Solo Ungkap Kasus Baru Corona dari PDP LamaFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian
"Sudah dinyatakan negatif. Selain PDP, juga menderita penyakit stroke. Hari ini Ibu tersebut meninggal dunia," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon, Arriadna, ditempat yang sama, Selasa (7/4).

"Secara protap kita harus lakukan pemulasaran jenazah dengan protokol covid-19. Karena Ibu ini sebagai PDP yang belum dinyatakan sembuh," imbuh dia.

Arriadna berharap masyarakat tidak memberikan stigma negatif kepada korban dan keluarganya.

Pihak kepolisian dari Polres Cilegon dan TNI melakukan pengamanan lokasi pemakaman dan jalur yang akan dilalui oleh mobil jenazah, dari RSKM menuju rumah duka dan Taman Pemakaman Umum (TPU) di dekat rumah korban.

Sebelumnya, isu kecepatan uji laboratorium Corona sempat disoroti beberapa kepala daerah. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengeluhkan uji Covid-19 yang masih terpusat di Balitbang Kementerian Kesehatan.

Presiden Joko Widodo kemudian meminta Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 untuk mempercepat uji laboratorium terkait pemeriksaan Virus Corona untuk membantu pemetaan sebaran kasusnya.

"Mengenai kecepatan, saya betul-betul meminta agar tes PCR, rapid test, prioritas orang-orang berisiko tinggi, baik itu dokter dan keluarganya, PDP, ODP," kata dia, saat memberi arahan dalam Rapat Laporan Tim Gugus Tugas Covid-19 melalui siaran langsung di akun YouTube Sekretariat Presiden, Senin (6/4).

(syd/rnd/arh)