Pemerintah Diminta Siapkan Dana Pemulangan Jemaah Tablig-TKI

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 14:13 WIB
DPR meminta pemerintah menyediakan dana kontingensi untuk memulangkan WNI jemaah tablig akbar maupun para TKI dan ABK di 116 kapal. Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) terdampak perpanjangan masa
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Komisi I DPR RI Teuku Riefky Harsya meminta pemerintah menyediakan dana kontingensi untuk memulangkan warga negara Indonesia (WNI) jemaah tablig akbar di sejumlah negara.

Dana kontingensi, menurutnya, juga harus disediakan untuk memulangkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia dan WNI yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di sekitar 116 kapal.


"Pemerintah perlu menyediakan dana kontingensi untuk evakuasi pemulangan TKI (Tenaga Kerja Indonesia), ABK, dan jemaah tablig yang tidak mampu," kata Riefky dalam keterangannya, Rabu (8/4).


Dia menerangkan dana kontingensi perlu disiapkan karena kondisi keuangan sejumlah WNI di luar negeri hampir bisa dipastikan menipis.

Berdasarkan catatan Kemenlu hingga Senin (6/4), menurut politikus Partai Demokrat itu, baru 44.650 dari 1,2 juta WNI di Malaysia yang telah kembali ke Indonesia. Sementara, dari 16.863 ABK yang bekerja di 116 kapal baru 4.496 orang yang pulang.

Sedangkan, dari 907 jemaah tablig yang tersebar di delapan negara, baru 10 orang yang sudah pulang ke Indonesia.


Terpisah, anggota Komisi I DPR RI Syaifullah Tamliha menyetujui kebijakan pemulangan WNI dari luar negeri secara mandiri. Ia meminta pemerintah mendata keberadaan sekitar 62 kelompok jemaah tablig asal Indonesia di India yang terjebak kebijakan lockdown.

"Saat ini ada sekitar 62 kelompok jamaah tabligh asal Indonesia yang terjebak di India, mereka perlu didata dan diinformasikan keberadaannya kepada keluarganya di Indonesia," ucap Syaifullah.

DPR Minta Pemerintah Siapkan Dana Kontingensi Pemulangan WNIInsert Artikel - Waspada Virus Corona. (CNN Indonesia/Fajrian)
Politikus PPP itu juga meminta semua kantor kedutaan besar dan konsulat jenderal Indonesia di semua negara bisa menampung WNI yang sedang berada di wilayahnya, baik yang sedang melakukan perjalanan, pelajar, atau mahasiswa.

Syaifullah menyarankan menyarankan agar WNI yang sedang berada di luar negeri segera mendatangi kantor kedutaan besar dan konsulat jenderal Indonesia untuk mendapatkan bantuan.

Menurutnya, Kemenlu sudah menyiapkan dana sebesar Rp100 miliar untuk bisa digunakan memenuhi kebutuhan WNI di luar negeri yang mengalami persedian makanan terbatas.

"KBRI dan KJRI juga harus melindungi WNI dari potensi rasisme di Eropa dan Amerika, di mana telah muncul fenomena rasisme terhadap orang-orang yang berwajah Asia," sambung Syaifullah.


Sebelumnya, Menlu Retno Marsudi memaparkan ada sekitar 1.456 warga Indonesia jemaah tablig akbar di luar negeri. Sebanyak 731 dari ribuan WNI tersebut merupakan jemaah tablig di India yang tengah terjebak aturan lockdown akibat virus corona.

"Mengenai jemaah tablig, data yang kami peroleh sekali lagi jumlah yang pasti kami tidak pernah tahu, tetapi setidaknya yang kami peroleh sampai saat ini jumlah (WNI) jemaah tablig adalah 1.456 orang dan 731 di antaranya berada di India," kata Retno disela panggilan video usai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo di Jakarta, Selasa (31/3) pagi.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menuturkan seluruh WNI jemaah tablig yang ada di luar negeri berstatus orang dalam pemantauan (ODP) virus corona.

Selain India, Kemlu juga mengungkapkan sebagian besar WNI jemaah tablig mengikuti acara keagamaan di Malaysia.

"Untuk (peserta) majelis tablig semua akan ditetapkan sebagai ODP jika pulang. Sedangkan yang bergejala (Covid-19) akan ditetapkan sebagai pasien dalam pemantauan (PDP) dan ditempatkan di karantina," ujar Muhadjir.


Sementara itu, Kedutaan Besar RI di Islamabad menuturkan tujuh WNI jemaah tablig dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

"Empat WNI positif corona berada di Provinsi Sindh, tiga WNI lainnya di Mandi Bahauddin, Provinsi Punjab," ucap Duta Besar RI untuk Pakistan, Iwan Suyudhie Amri, saat dihubung pada Senin (6/4). (mts/pmg)

[Gambas:Video CNN]