Kepala DLH DKI Jakarta Andono Warih menyatakan penurunan itu rata-rata mencapai 620 ton per hari.
"[Penurunan itu] jika dibandingkan dengan data rata-rata harian periode 1-15 Maret 2020 sebelum penerapan WFH, dengan rata-rata tonase sampah 16-31 Maret 2020 setelah penerapan WFH," jelas dia, dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (8/4) dikutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiga strategi itu, pertama, strategi pintu depan pada tahap sebelum mengonsumsi. Misalnya, membawa kantong belanja ramah lingkungan sebelum belanda dan memakai masker kain yang bisa digunakan ulang.
[Gambas:Video CNN]
"Kita harus tahu dan sadar apa yang mau kita konsumsi sejak dalam pikiran. Jika itu menghasilkan sampah, tak akan kita pilih," kata Andono.
Kedua, strategi pintu tengah, dimana semua sisa barang tidak buru-buru dibuang ke tempat sampah. Misalnya, dengan mengambil makanan tidak berlebihan yang berpotensi menjadi sampah.
Ketiga, strategi pintu belakang, yaitu disiplin memilah sampah. Andono mencontohkannya dengan memilah sampah organik untuk dimasukkan ke komposter atau lubang biopori, sampah anorganik didaur ulang.
"Ada lebih dari empat juta pemulung terkena dampak Covid-19. Itu berdasarkan data Ikatan Pemulung Indonesia. Para pemulung kesulitan bekerja di tengah kondisi seperti saat ini," ujar Anggota Komunitas PUK, Surya Cahya Agung, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, dikutip dari Antara.
"Jika mereka tetap bekerja, jumlah sampah plastik yang dikumpulkan hanya sedikit karena banyak rumah makan yang tutup," imbuhnya.
Para pemulung ini, kata dia, juga rentan tertular virus yang menyerang saluran pernafasan tersebut.
(antara/arh)