Kisah Pilu dari Penolakan Jenazah Perawat Corona di Semarang

CNN Indonesia | Jumat, 10/04/2020 18:02 WIB
Kisah Pilu dari Penolakan Jenazah Perawat Corona di Semarang Petugas bersiap menurunkan jenazah pasien COVID-19 dari mobil ambulans. (ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE)
Semarang, CNN Indonesia -- Isak tangis haru tenaga medis RS Kariadi Semarang, Jawa Tengah, mengiringi keberangkatan ambulans yang membawa jenazah rekan mereka, perawat Nuria Kurniasih, yang wafat akibat terinfeksi virus corona (Covid-19), Kamis (9/4).

Perawat yang semasa hidupnya berjuang membantu perawatan pasien Covid-19 itu rencananya bakal dimakamkan di TPU Sewakul, Kabupaten Semarang. Di pemakaman itu pula kerabat-kerabat Nuria dikebumikan.

Namun, rencana keluarga Nuria untuk memulasarakan terhambat. Ketua RT dan warga sekitar menolak Nuria dimakamkan di TPU Sewakul, karena khawatir dapat menularkan virus corona.

Pihak keluarga pun memohon kepada warga agar NK boleh dimakamkan di sana, namun tak berbalas


Akhirnya, Jenazah Nuria pun dibawa kembali ke RS Kariadi. Pihak RS pun menghubungi pemerintah kota Semarang agar jenazah sang perawat bisa dimakamkan di TPU Bergota, Semarang.

Permohonan disambut, jenazah sang perawat itu pun akhirnya dikebumikan di TPU Bergota pada malam harinya.

"Kita berharap kejadian ini adalah yang pertama dan terakhir , dan kita juga tadi saya sampaikan secepatnya ini nanti tempat yang akan kita siapkan untuk makam ini tidak hanya kaitannya dengan yang Covid tapi juga untuk makam umum , nanti segera ada kepastian," ujar Wakil Bupati Semarang.

Sementara itu, saat diwawancara CNNIndonesia TV, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan pihaknya akan memperbaiki protokol pemulasaraan pasien terkait Covid-19 yang meninggal.

"Saya berharap betul tadi protokolnya kita perbaiki, sekali lagi saya minta maaf kepada keluarga, saya tidak bermaksud  menyinggung perasaan semuanya, tapi saya mencoba mengedukasi masyarakat seluruhnya khususnya Jawa Tengah, edukasinya transparan saja," ujar Ganjar dikutip dari siaran CNNIndonesia TV, Jumat (10/4) petang.

Ganjar mengaku mendapatkan pengakuan dari RT setempat yang menolak, hal tersebut terjadi dikarenakan kabar sebelumnya NK dikatakan meninggal karena sakit paru-paru dan bukan karena terinfeksi Covid-19.

"Sebenarnya konteksnya yang dibutuhkan adalah informasi terbuka, maka dari Rumah Sakit, dari masyarakat dan dari keluarga khususnya untuk Covid-19 tolong kiranya harus transparan betul," kata Ganjar.

[Gambas:Video CNN]
Sementara itu Dokter Spesialis Forensik RS Dr. Kariadi Semarang Eva Utomo menilai prosedur pemulasaran jenazah hingga pemakaman sudah diterapkan sesuai dengan prosedur tetap untuk Covid-19. Ia juga mengaku pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait pengurusan jenazah.

"Pengurusan jenazah ini sudah sangat aman, sangat rapi oleh medis, kebetulan kami juga sudah berkoordinasi dengan MUI untuk keabsahan syari untuk pemakaman jenazah muslim," tutur Eva.

Prosedur pengurusan jenazah Covid-19 yang dimaksud seperti memandikan sesuai dengan ajaran agama serta memberikan cairan chlorine dan disinfektan kepada tubuh jenazah sebelum dikafani dan dibalut dengan dua lapis plastik yang kedap udara dan dipastikan aman.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mendesak kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kejadian penolakan, stigmatisasi, kriminalisasi yang menimpa almarhumah, serta untuk para sejawat perawat lainnya.

"Kami perawat Indonesia dengan jumlah lebih dari satu juta perawat mengecam keras atas tindakan penolakan jenazah yang dilakukan oleh oknum-oknum warga yang tidak memiliki rasa kemanusiaan," kata Ketua Umum PPNI Harif Fadhilah dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (10/4).

Hingga saat ini, tercatat 10 perawat Indonesia gugur saat menjalankan tugas melawan pandemi covid-19. Selain perawat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga mencatat 20 dokter yang gugur terpapar Covid-19.

Sementara itu, data Pemerintah Pusat per (10/4) sore, total keseluruhan positif di Indonesia berjumlah 3.512 orang. 306 orang di antaranya meninggal dunia dan 282 orang dinyatakan sembuh.

(dmr, khr/kid)