Curhat Dokter di RS Kariadi yang Positif Covid-19 soal Stigma

CNN Indonesia | Minggu, 19/04/2020 13:26 WIB
Doctor Giovanni Passeri relaxes in the doctor's lounge after completing a routine round of medical examinations during a night shift in his ward in the COVID-19 section of the Maggiore Hospital in Parma, northern Italy, Wednesday, April 8, 2020. Most of the times he is on a night shift the couch is the best Passeri can get to stretch out. A cardboard box at right holds envelopes with the medical charts of discharged patients. (AP Photo/Domenico Stinellis) Ilustrasi: Keseharian dokter yang menangani pasien Covid-19. (Foto: AP Photo/Domenico Stinellis)
Semarang, CNN Indonesia -- Pikiran Zaenal Muttaqien tak bisa beralih dari kondisi keluarganya di rumah. Dokter yang bertugas di Rumah Sakit Kariadi Semarang ini tengah menjalani isolasi mandiri lantaran positif terinfeksi virus corona (Covid-19).

Salah satu tenaga medis yang menangani kasus Covid-19 di Jawa Tengah tersebut mengungkapkan, keluarganya mengalami stigma negatif dari lingkungan sekitar. Ia merasa apa yang dialami keluarganya merupakan imbas dari kondisi dan tugasnya saat ini.

"Keluarga saya yang di rumah itu kasihan, tetangga, warga sekitar yang tahu saya positif terus mempersoalkan. Mereka takut tertular istri dan anak saya di rumah," cerita Zaenal.


"Ini juga dialami oleh tenaga medis yang saat ini berada di tempat karantina bersama saya, Bahkan, beberapa ada yang keluarganya diminta untuk sementara menjauh atau pindah dari lingkungan tempat tinggalnya," tambah dia lagi.


Sebanyak 30 dokter dan tenaga medis Rumah Sakit Kariadi Semarang kini masih menjalani karantina dan isolasi mandiri di hotel milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Di tengah masa karantina itu, mereka masing-masing bukan saja berjuang melawan virus yang hingga Minggu (19/4) menginfeksi lebih 2,3 juta orang di seluruh dunia, melainkan juga menahan rindu berkumpul dengan keluarga di rumah. Urusan tersebut masih ditambah pula dengan stigma negatif yang terpaksa dilabelkan ke para tenaga medis dan keluarga.

Zaenal menuturkan, stigma yang berlebihan dan memunculkan penolakan hingga pengusiran adalah respons yang sangat ia sayangkan. Imbasnya, boleh jadi kelak warga yang merasakan gejala atau juga positif Covid-19 justru akan memilih berdiam alih-alih terbuka, lantaran takut mendapat sanksi sosial dari sebagian masyarakat.

"Sikap-sikap penolakan ini bahkan bila sampai ke pengusiran, sebaiknya dihindari. Tujuannya apa, agar kita berani terbuka menyatakan bahwa diri kita positif. Ini penting sekali agar semua dapat saling menjaga dan memberi edukasi," jelas Zaenal.

Curhat Dokter di RS Kariadi yang Positif Covid-19 soal StigmaFoto: CNN Indonesia/Damar


"Tolong kepada masyarakat luas, kita atasi masalah Covid ini dengan penuh kepercayaan satu sama lain, menjaga jarak melindungi dari penularan tapi jangan melakukan penolakan, ini yang terpenting," tutur dia lagi.

Sementara itu, dari hasil tes dan pemeriksaan, pihak manajemen Rumah Sakit Kariadi Semarang menyatakan 57 tenaga medisnya positif Covid-19, beberapa di antaranya merupakan dokter spesialis dan dokter yang tengah menempuh pendidikan spesialis.

Para dokter dan tenaga medis tersebut tertular diduga dari pasien yang tidak jujur menceritakan riwayat perjalanannya. (dmr/NMA)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK