Sultan Yogya Siapkan Gedung Bagi Tenaga Medis yang Terusir

CNN Indonesia | Kamis, 09/04/2020 13:26 WIB
Sultan Yogya Siapkan Gedung Bagi Tenaga Medis yang Terusir Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. (Antara Foto/Agus Nugroho)
Yogyakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menyiapkan tempat khusus untuk tinggal sementara bagi para tenaga medis penanganan virus corona yang  mendapatkan penolakan warga.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan, pihaknya telah menyiapkan Gedung Diklat Kemendagri Regional Yogyakarta di wilayah Baciro sebagai lokasi transit bagi tenaga medis yang membutuhkan tempat tinggal sementara karena mendapatkan penolakan dari warga.

"Jadi kami sudah berkoordinasi, tinggal mereka masuk," jelas Sultan di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (8/4)


Namun demikian, Sultan berharap, keberadaan dokter, perawat maupun tenaga medis lain di tengah masyarakat tak lagi dipersoalkan agar mereka dapat tinggal di tempatnya semula.
Wakil Sekretaris Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY, Biwara Yuswantana, memaparkan langkah pertama Pemda adalah menyiapkan tempat. Selanjutnya melakukan pendataan jumlah tenaga medis yang membutuhkan tempat singgah.

"Dinkes melakukan pendataan terhadap rumah sakit-rumah sakit mana yang membutuhkan," ungkap Biwara di Kantor BPBD DIY.

Selain itu, Biwara menuturkan pihaknya juga tetap melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya jasa tenaga medis menangani pasien virus corona.

Sosialisasi diharapkan bisa mencegah masyarakat memberikan stigma terhadap tenaga kesehatan terkait Covid-19.

"Kami berharap tidak ada penolakan-penolakan itu," imbaunya.

Terpisah, Kepala Dinkes Kabupaten Bantul, Agus Budi Raharja, menyatakan Pemkab Bantul juga telah menyiapkan beberapa kamar di Rumah Dinas Bupati dan beberapa alternatif tempat lain untuk tempat tinggal sementara para tenaga kesehatan tersebut.

Hanya saja, Agus menegaskan, fasilitas tersebut disiapkan untuk tenaga kesehatan di RS Rujukan dan RS Lapangan Covid-19 di wilayah Bantul.

"Sampai saat ini belum ada pengajuan dari tenaga kesehatan yang membutuhkan," ucapnya kepada CNNIndonesia.com.

Keberadaan tenaga medis terkait Covid-19 mendapat penolakan dan stigma negatif oleh sejumlah masyarakat di beberapa daerah.

Direktur Utama Rumah Sakit (RS) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Widodo Wiryawan mengaku mendapat laporan beberapa perawat mendapat stigma negatif. Salah satunya, ada perawat yang tak bisa memperpanjang sewa kos.

"Ada laporan ke kami bahwa ada perawat yang tidak bisa memperpanjang kosnya," kata Widodo kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/4).

Kasus serupa terjadi di Aceh. Salah satu petugas medis yang menangani pasien corona di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) diusir warga saat hendak kembali ke indekos miliknya, Selasa (7/4) lalu. (tri/wis)

[Gambas:Video CNN]