BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi Hingga 18 Mei

CNN Indonesia | Minggu, 17/05/2020 00:59 WIB
Kapal nelayan banyak bersandar tidak melaut karena gelombang air laut yang tinggi di kawasan Muara Baru, Jakarta, Kamis, 9 Januari 2020. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan daerah pesisir Jakarta Utara mengalami air pasang maksimum pada 9 Januari hingga 11 Januari 2020. CNNIndonesia/Safir Makki BMKG keluarkan peringatan dini adanya potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan pada 16-18 Mei 2020. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini sekaligus mengingatkan masyarakat pelayaran dan masyarakat pesisir untuk mewaspadai adanya potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia pada 16-18 Mei 2020.

Gelombang tinggi ini merupakan dampak terjadinya pusat tekanan rendah di Laut Andaman, utara Aceh.

Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo menjelaskan pusat tekanan rendah 996 hektopascal (hPa) di Laut Andaman membentuk pola sirkulasi udara yang saat ini terpantau di perairan barat Aceh.


Menurutnya, dengan munculnya pusat tekanan rendah tersebut, maka pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya dari utara-timur dengan kecepatan 5-20 knot. Sedangkan di wilayah selatan Indonesia dari barat daya-barat laut dengan kecepatan 5-25 knot.

Kecepatan angin tertinggi terpantau di perairan utara Sabang, barat Aceh, selatan Pulau Jawa, dan Laut Arafuru.

"Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut," kata Eko dikutip dari Antara, Sabtu (16/5).

Tinggi gelombang 1,25-2,5 meter berpeluang terjadi di Selat Sape bagian selatan, Selat sumba, Laut Sawu, perairan selatan Flores, Selat Karimata, Laut, Jawa, perairan selatan Kalimantan, perairan utara Madura hingga Kepulauan Kangean, Selat Makassare bagian selatan, dan perairan Kotabaru.

Perairan lainnya, perairan Kepulauan Selayar-Kepulauan Sabalana, Teluk Bone bagian selatan, perairan Manui-Kendari, perairan timur Kepulauan Halmahera, Laut Halmahera, perairan utara Papua Barat hingga Papua, Samudera Pasifik utara Halmahera hingga Papua Barat, perairan utara Kepulauan Kei - Kepulauan Aru, serta perairan Fak-Fak - Amamapare.

Sedangkan tinggi gelombang 2,5 - 4,0 meter berpeluang terjadi di Selat Malaka bagian utara, perairan timur Pulau Sumeulue hingga Nias, perairan timur Kepulauan Mantawai hingga Bengkulu, Selat Sunda bagian barat dan selatan, perairan selatan Pulau Jawa hingga Pulau Sumba, Selat Bali - Selat Lombok - Selat Alas bagian selatan.

Selain itu, perairan selatan Pulau Sawu - Pulau Rotte - Kupang, Samudera Hindia selatan Jawa Timur hingga NTT, perairan Kepulauan Wakatobi, Laut Banda, periaran selatan Ambon, perairan Kepulauan Sermata - Kepulauan Tanimbar, perairan selatan Kepulauan Kei - Kepulauan Aru, Laut Arafuru, Samudera Pasifik utara Biak hingga Jayapura.

Sementara itu, tinggi gelombang 4,0 meter lebih berpeluang terjadi di perairan utara Sabang, perairan barat Aceh hingga Kepulauan Mentawai, perairan timur Enggani, perairan barat Lampung, Samudera Hindia barat Sumatera, dan Samudera Hindia selatan Banten hingga Jawa Tengah.

"Harap diperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran, baik perahu nelayan (kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 m), kapal tongkang (kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 m), kapal feri (kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 m), kapal ukuran besar seperti kapal kargo atau kapal pesiar (kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4,0 m)," kata Eko. (ANTARA/age)

[Gambas:Video CNN]