Khofifah Minta Bersiap 'New Normal', IDI Nilai Belum Tepat
CNN Indonesia
Rabu, 20 Mei 2020 19:24 WIB
Surabaya, CNN Indonesia -- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan masyarakat Jatim harus siap menyambut new normal atau normal yang baru dalam menghadapi pandemi Virus Corona (Covid-19).
"New normal life mensyaratkan penyesuaian hidup berdampingan dengan Covid-19 hingga vaksin ditemukan. Artinya, protokol kesehatan ketat harus terus diterapkan," ujarnya, melalui keterangan tertulisnya, Selasa (20/5).
Maka itu, lanjut Khofifah, masyarakat harus lebih adaptif terhadap teknologi digital agar dapat terus produktif menjalani aktivitas, sambil tetap melakukan pencegahan penularan pandemi lebih luas.
"Intinya kita tetap produktif, tapi juga selalu waspada. Ini yang harus kita persiapkan betul, harus segera move on," tambah Khofifah.
Namun, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya Brahmana Askandar menilai protokol new normal itu masih belum tepat diterapkan di Surabaya dan Jawa Timur. Alasannya, jumlah kasus Corona masih terus meningkat.
"Kalau di surabaya belum tepat. Surabaya dan Jatim belum tepat waktunya untuk melakukan new normal atau pelonggaran," kata dia, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (20/5).
"New normal itu sebaiknya diterapkan ketika kasus sudah mulai melandai, transmisi lokal sudah mulai melandai. Kalau sekarang masih ditengah-tengah perjuangan kita. Di surabaya masih di tengah-tengah perjuangan. Jadi masih belum melandai," imbuhnya.
Brahmana juga pesimistis masyarakat siap untuk menerapkan new normal. Sebab kenyataannya warga masih banyak yang abai dalam menerapkan protokol kesehatan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
"Padahal kalau masyarakat menerapkan betul imbauan aturan new normal physical distancing, tidak bergerumbul, pakai masker tidak digunakan sebagai syarat saja tapi dipakai dengan benar. Kita lihat masih banyak hang tidak mengindahkan," ujarnya.
Jikapun new normal itu benar-benar diterapkan, dia berharap masyarakat menaati segala protokolnya.
"Kita kan tidak tahu kapan [pandemi Corona] berakhir. Jadi kalau ada protokol new normal itu PR-nya, satu, harus ditaati oleh masyarakat. Ketika protokol new normal tidak ditaati masyarakat, hasilnya tidak optimal, korban-korban akan berjatuhan," kata dia.
Berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19, jumlah kasus Corona di Jatim per Rabu (20/5) pukul 12.00 WIB mencapai 2.496 orang. Angka ini bertambah 119 orang dari hari sebelumnya. Sebanyak 387 orang di antaranya dinyatakan sembuh dan 228 meninggal.
Angka ini menjadikan Jatim sebagai provinsi juara kedua terbanyak dalam kasus Covid-19 di Indonesia di bawah DKI Jakarta.
(frd/arh)
[Gambas:Video CNN]
"New normal life mensyaratkan penyesuaian hidup berdampingan dengan Covid-19 hingga vaksin ditemukan. Artinya, protokol kesehatan ketat harus terus diterapkan," ujarnya, melalui keterangan tertulisnya, Selasa (20/5).
"Intinya kita tetap produktif, tapi juga selalu waspada. Ini yang harus kita persiapkan betul, harus segera move on," tambah Khofifah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
Brahmana juga pesimistis masyarakat siap untuk menerapkan new normal. Sebab kenyataannya warga masih banyak yang abai dalam menerapkan protokol kesehatan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Jikapun new normal itu benar-benar diterapkan, dia berharap masyarakat menaati segala protokolnya.
"Kita kan tidak tahu kapan [pandemi Corona] berakhir. Jadi kalau ada protokol new normal itu PR-nya, satu, harus ditaati oleh masyarakat. Ketika protokol new normal tidak ditaati masyarakat, hasilnya tidak optimal, korban-korban akan berjatuhan," kata dia.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen |
Angka ini menjadikan Jatim sebagai provinsi juara kedua terbanyak dalam kasus Covid-19 di Indonesia di bawah DKI Jakarta.
(frd/arh)
[Gambas:Video CNN]
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen