Cerita Marbut Dilanda Kesepian Masjid Bekasi

CNN Indonesia | Selasa, 02/06/2020 07:42 WIB
Surono (67), marbot Masjid Jami Nurul Iman, Kota Bekasi, mengaku sedih dengan kondisi masjid yang sepi karena pembatasan kegiatan keagamaan di tempat ibadah. Pembatasan kegiatan keagamaan di tempat ibadah merupakan anjuran pemerintah dalam upaya mencegah penyebaran virus corona. Surono (67) marbut Masjid Jami Nurul Iman, Bekasi yang sedih dan merindukan jemaah yang ramai (CNN Indonesia/ Damar Iradat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Surono menatap dengan getir. Matanya tertuju bangunan Masjid Jami Nurul Iman yang terletak persis di depan rumahnya. Ia mengingat kembali saat suasana masjid yang biasanya ramai, kini mendadak sepi.

"Virus corona itu jahat. Buat silaturahmi kita jadi terhenti, orang jadi khawatir ke masjid lagi," kata Surono saat ditemui CNNIndonesia.com di kediamannya, Bekasi, Minggu (31/5).

Kediaman Surono dan Masjid Jami Nurul Iman berlokasi di Jalan Patuha, Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan. Sudah puluhan tahun Surono menjadi marbut atau orang yang menjaga dan mengurusi masjid.


Masjid yang sehari-hari Surono urus itu sebelumnya tak pernah sepi. Apalagi saat memasuki Ramadan, masjid pasti dipenuhi jemaah.
Masjid Jami Nurul Iman tidak lagi didatangi jemaahnya tak lepas dari anjuran pemerintah untuk membatasi kegiatan keagamaan di tempat ibadah dalam upaya mencegah penyebaran virus corona.

Surono memaklumi anjuran pemerintah itu. Menurutnya, wajar jika pemerintah membatasi kegiatan di tempat ibadah. Dia yakin semuanya demi keselamatan masyarakat secara umum.

Terlebih, kasus corona masih terus meningkat dari hari ke hari. Ia juga tak bisa memaksa agar jamaah kembali ke masjid. Surono hanya berharap wabah segera berakhir. Ia ingin melihat masjid kembali diramaikan oleh para jemaah.

"Sedih banget. Dari segi silaturahmi kita terputus, dari segi keuangan juga terganggu banget. Tapi apa mau dikata, kita kan enggak bisa apa-apa. pemerintah aja bingung, apalagi kita," ujarnya lirih.


Diketahui, pemerintah melalui Kementerian Agama baru saja mengeluarkan surat edaran mengenai penyelenggaraan kegiatan keagamaan di rumah ibadah di masa pandemi. Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman Covid di Masa Pandemi secara resmi diterbitkan Menteri Agama Fachrul Razi pada Sabtu (30/5).

Kebijakan tersebut bak angin segar bagi Surono. Namun, pria 67 tahun itu mengaku masih waswas dengan kondisi penyebaran virus corona.

"Tapi, kalau kita lihat berita, kalau corona positif, itu masih meningkat. Masih 500 per hari, sekarang udah 25 ribu," jelas Surono.

"Mau jadi apa? Saya juga sadar bahwa kita di zona hijau, tetap mereka (jamaah) harus waspada. Kalau yang sakit tolong dah, jangan ke masjid," lanjutnya.
Surono mengatakan Masjid Jami Nurul Iman sempat beberapa kali menggelar salat berjemaah, di antaranya Salat Idul Fitri pada Minggu (24/5) dan salat Jumat berjemaah pada Jumat (29/5).

Namun begitu, dari penyelenggaraan salat berjamaah tersebut, tetap saja jemaah yang hadir tidak cukup banyak. Warga masih khawatir untuk berkumpul, mengingat wabah virus corona belum mereda.

"Orangnya yang datang juga terbatas sih, orang-orang (warga) kita semua," jelas dia.
Masjid Jami Nurul Iman, Kota Bekasi sepi dari jemaah selama virus corona mewabah di Indonesia Masjid Jami Nurul Iman, Kota Bekasi sepi dari jemaah selama virus corona mewabah di Indonesia (CNN Indonesia/ Damar Iradat)

Gaji Dipotong


Selama pandemi corona, Surono tetap bekerja menjaga kebersihan masjid. Meski masjid tak lagi ramai, kebersihan dan kesucian masjid harus tetap terjaga.

Kendati begitu, Surono mengaku gajinya sebagai marbut ikut dipotong. Permasalahannya, pendapatan masjid ikut berkurang seiring pembatasan kegiatan keagamaan di tempat ibadah.

"Masjid itu kan income-nya dari tromol (kotak amal) umumnya, tromol didapat dari mengadakan salat, salat Jumat. Nah kalau enggak mengadakan, ya nol," ujarnya sambil terkekeh.
Sehari-hari sebelum virus corona mewabah, pihak masjid menyediakan empat kotak amal. Namun, selama masa pandemi dan jemaah yang hadir berkurang, masjid hanya menyediakan satu kotak amal.

Surono menerima gaji sejauh ini berkat tabungan kas yang dimiliki majid. Selain itu, warga sekitar juga turut memberikan bantuan

"Ada perhatian dari jemaah yang rejeki berlebih juga ada," ungkap Surono.

Soal gaji sebagai marbut di tengah wabah, Surono tak mau memberitahu. Dia hanya mengatakan pendapatannya menjaga masjid cukup untuk makan sehari-hari. Dia pun bersyukur masih menerima gaji.
Lagipula, menurut dia, meski dipotong, gaji yang ia terima merupakan bentuk pengikat antara dirinya dan masjid yang selama ini ia jaga.

"Setiap masjid ada anggaran (untuk gaji) marbut, bohong kalo enggak ada. Itu udah ketentuan. Tenaga orang masih harus dibayar, tetap ada," kata Surono. (dmi/bmw)

[Gambas:Video CNN]