Selama pandemi virus corona (Covid-19), Evan tetap menjalankan pekerjaannya sebagai sopir taksi online. Tak banyak yang berbeda dari kegiatan kerjanya selama pandemi Covid-19.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satunya botol parfum berisi cairan alkohol. Setiap pengguna jasa baru masuk mobil, ia langsung minta izin untuk menyemprotkan cairan tersebut ke tangan penumpang.
Hal lain, yang menurut Evan berbeda adalah dirinya tak lagi menunggu penumpang di jalanan. Dia mengatakan kalau tak langsung dapat penumpang baru, ia memilih pulang dulu ke rumah sehabis mengantar. Tak peduli jauhnya jarak tujuan penumpang.
Sampai dirumah ia langsung mandi dan bersih-bersih. Setelah itu baru berangkat lagi menjemput penumpang baru. Pola itu terus dilakukan sampai malam menutup hari.
Sedikit kendaraan yang melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat saat hari pertama PSBB DKI Jakarta, 10 April 2020. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan) |
Itu, kata dia, wajib dilakukan demi menjaga orang-orang di rumahnya. Pasalnya, Evan tinggal dengan orang tua dan anak-anak kecil yang ia anggap rentan terkena virus. Keluarganya pun dilarang memakai mobil yang dipakai membawa penumpang.
"Tiap malam saya semprot semua desinfektan [ke dalam mobil]. Dari handle pintu, AC semua yang bisa kepegang penumpang,"ungkap Evan.
Ia mengakui rutinitas ini membuat pengeluarannya boros. Pihak perusahaan pun sebenarnya menyediakan cairan desinfektan secara gratis.
Namun ia memilih membeli desinfektan sendiri. Ini untuk meminimalisasi potensi berinteraksi dengan orang lain ketika harus ke kantor aplikasi angkutan online untuk mengambil desinfektan.
Jangankan pergi ke kantor, lanjutnya, pergi ke rumah ibadah saja ia pun mengaku masih was-was. Oleh karena itu, ketika pemerintah menutup rumah ibadah untuk kegiatan bersama, ia mengaku tak pernah nekat beribadah di sana.
Tapi, mengaspal mencari penumpang tetap dilakukannya karena dia butuh nafkah untuk menghidupi keluarganya meskipun di tengah pandemi Covid-19.
Evan bercerita, saat awal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di Jakarta pada April lalu, dirinya tak mendapatkan satu pun penumpang. Kondisi sulit itu pun membuatnya harus memutar otak, agar tetap mendapatkan uang untuk kebutuhan keluarga.
"Aku bahkan sampai harus gadai laptop. Karena nggak ada penghasilan. Pas ada duit langsung aku bayar. Karena nggak ada penumpang sama sekali, ya mau gimana," kenangnya.
Suasana kemacetan di jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, seiring dimulainya masa PSBB transisi, 5 Juni 2020. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
Lihat juga:Sunyi Senyap di Zona Merah Petamburan |
Kini, Pemprov DKI telah memberlakukan PSBB Transisi, di mana salah satunya membuka kembali perkantoran hingga tempat usah. Selain itu, ojol pun diperbolehkan kembali mengangkut penumpang.
Atas dua hal tersebut, Evan berharap penumpang yang menggunakan jasanya pun bertambah lagi, serta lebih banyak.
"Iya sih, mudah-mudahan jadi banyak [penumpang]," kata dia memungkasi perbincangan. (fey/kid)
Sedikit kendaraan yang melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat saat hari pertama PSBB DKI Jakarta, 10 April 2020. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Suasana kemacetan di jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, seiring dimulainya masa PSBB transisi, 5 Juni 2020. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)