Peningkatan pengguna sepeda itu terjadi hingga 10 kali lipat bila dibandingkan sebelum masa pandemi virus corona (Covid-19).
"Peningkatan jumlah pesepeda tertinggi berdasarkan penghitungan kami ada di segmen Dukuh Atas," kata Director ITDP Faela Sufa, Jakarta, Minggu (14/6) seperti dikutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:VIDEO: Giat Bersepeda di Masa Transisi |
Proses pengamatan itu dilakukan pada hari kerja di jam sibuk yakni pukul 06.30 hingga 08.00 WIB.
"Dari survei Oktober 2019 kita bandingkan dengan Juni ini pada masa PSBB transisi, ada memang di segmen Dukuh Atas dari Selatan ke Utara (Bundaran Senayan menuju Bundaran HI) pada jam sibuk pagi, jam kerja peningkatannya lebih dari 1.000 persen, dari 21 pesepeda menjadi 235 pesepeda," kata Faela.
Hitungan ini, lanjut Faela, dilakukan secara konsisten dengan hari dan waktu yang sama yakni hari kerja dan jam sibuk pagi pada Juni ini.
Dari pengmatan itu diketahui, peningkatan tidak hanya terjadi di segmen Sudirman-Thamrin, tetapi juga di segmen Gelora Bung Karno (arah selatan ke utara), tercatat dari 129 pesepeda menjadi 249 pesepeda atau peningkatan sebesar 93 persen.
"Tapi memang yang tertinggi di segmen Dukuh Atas, dari 21 menjadi 235 pesepeda, jadi 10 kali lipat peningkatannya, jadi kami ambil yang tertinggi," kata Faela.
Terkait fenomena tersebut, ITDP bersama pihak terkait menangkap peningkatan ini sebagai peluang untuk mendorong penggunaan sepeda sebagai moda transportasi alternatif di masa pandemi Covid-19.
Salah satu rekomendasi yang dikeluarkan ITDP bersama dua organisasi lainnya (B2W dan TfJ-FDT) adalah penyediaan jalur sepeda sementara atau 'pop up bike lane' yang kini hadir di koridor Thamrin-Sudirman dimulai sejak 13 Juni 2020 petang.
Pengendara sepeda melintas di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta, Senin, 1 Juni 2020. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
Menurut Faela, langkah Pemprov Jakarta memfasilitasi pesepeda selama masa pandemi ini juga dilakukan oleh pemerintah kota di sejumlah negara seperti Bogota (Kolombia), Mexico (Meksiko), Paris (Prancis), hingga Manila (Filipina).
"Ini bukan hal baru, ini sudah dilakukan di kota-kota besar di dunia, sejak awal Maret, Bogota sudah memulainya terlebih dahulu di sepanjang koridor BRT nya, di Paris, Mexico, bahkan Manila juga melakukan hal yang sama. Bedanya Jakarta sudah lebih duluan, jauh sebelum pandemi sudah menyediakan fasilitas pesepeda dengan menambah jalur menjadi 63 km," kata Faela.
ITDP menyatakan implementasi jalur sepeda sementara, idealnya dapat mencakup seluruh jaringan rute angkutan umum di DKI Jakarta, terutama 13 koridor TransJakarta, yang masih beroperasi di masa transisi PSBB.
Selain itu, mereka menyatakan ketersediaan jalur permanen itu permanen, tidak hanya pada waktu tetentu saja.
"Kita juga berharap jalur sepeda sementara ini tidak hanya hadir di akhir pekan saja, tapi permanen menjadi jalur sepeda yang terproteksi," kata Faela. (antara/kid)
Pengendara sepeda melintas di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta, Senin, 1 Juni 2020. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)