Heryadi Silvianto
Alumni FISIP UI. Praktisi Public Relations yang tetap mengajar di Kampus, peminatan khusus terhadap isu dan tema Government PR, Social Media Activation dan PR Politik.

KOLOM

Dokter Reisa, Corona dan Angka-angka yang Bikin Pilu

Heryadi Silvianto, CNN Indonesia | Rabu, 17/06/2020 09:09 WIB
Anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Reisa Broto Asmoro di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Jumat (12/6/2020). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj. Dokter Reisa Broto Asmoro. (Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah lebih satu pekan dokter Reisa Broto Asmoro menghiasi wajah media, sejak muncul pertama kali dalam konferensi pers perkembangan harian covid-19 pada Senin (8/6) lalu.

Dokter yang pernah menjadi Putri Indonesia Lingkungan Hidup 2010 itu terlihat bersama juru bicara pemerintah khusus penanganan covid-19 dr. Achmad Yurianto.

Pemerintah menunjuk Reisa sebagai bagian tim komunitas Gugus Tugas Penanganan Covid-19 tentu bukan tanpa alasan. Paras yang rupawan, kompetensi dan latar belakang sebagai dokter menjadi profil yang menguatkan.


Dalam jangka pendek kemuncul Reisa dalam 'dunia persilatan covid 19' tanah air telah memberikan dampak 'wow effect' terhadap proses penyebaran penanganan covid 19.

Salah satu dampaknya obrolan tentang Reisa sempat memuncak menjadi trending topic di berbagai platform media sosial.


Terlepas dari keriuhan tersebut sejatinya ada sejumlah pekerjaan rumah bagi doker Reisa yang lebih besar yakni memastikan proses komunikasi krisis terjadi berjalan semakin efektif.

Karena tidak bisa dipungkiri hingga saat ini masih terjadi krisis komunikasi seperti informasi dan data yang tidak akurat, silang pendapat antar pejabat publik, sikap 'terserah' masyarakat dan lain sebagainya.

Publisitas dan Selebritas Penunjukan Reisa bisa diasosiasikan sebagai bentuk strategi komunikasi terkini dari Pemerintah dalam menyongsong masa transisi dari fase wabah covid 19 ke fase new normal.

Sejatinya, juru bicara mewakili organisasi selama krisis dan bertanggung jawab dalam menyampaikan pesan yang cepat dan akurat.

Penelitian sebelumnya telah menyarankan agar juru bicara mampu dipercaya dan berkontribusi untuk manajemen krisis yang sukses (Barret, 2005; Coombs,2007).


Profesi dokter lazim di sekitar kita, namun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian dari mereka kemudian menjadi pesohor atau selebritas.

Sebagaimana beberapa profesi lain, seperti atlet, pemuka agama dan lain sebagainya. Pada akhirnya profesi yang berhimpitan tersebut berkelindan satu sama lain menjadi aset yang berharga dalam menguatkan posisi atau produk tertentu.

Sebagaimana diketahui Reisa selain sebagai presenter, juga model dan bintang iklan. Dititik inilah kemudian efektivitas Reisa akan diuji apakah akan lebih dominan sebagai tanda atau penyampai pesan yang efektif.

Keyakinan umum di antara 'pengiklan' terkait menggunakan selebritas sebagai juru bicara adalah pesan yang disampaikan oleh selebritas memberikan tingkat daya tarik, perhatian, dan mungkin penarikan kembali pesan daripada yang disampaikan oleh non-selebriti.

Pemasar juga mengklaim bahwa selebritas memengaruhi kredibilitas klaim yang dibuat, meningkatkan daya ingat pesan, dan dapat memberikan efek positif yang dapat digeneralisasi ke merek (Cooper, 1984).
Anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Reisa Broto Asmoro berpose di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Minggu (14/6/2020). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/aww.Anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Reisa Broto Asmoro.(Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
 


Dalam situasi krisis seperti saat ini jangan sampai sosok mengalahkan pesan, hingga pada akhirnya media maupun publik terjebak dan gandrung untuk 'mengeksploitasi' personalisasi juru bicara bukan pada subtansi informasi.

Sehingga lebih mudah mengingat apa yang melekat (fisik, tampilan dan lainnya) dari seorang juru bicara dibandingkan apa yang disampaikannya.

Setidaknya dari satu pekan ini masih terjadi fenomena tersebut, dapat ditelurusi dari sejumlah pemberitaan dan respon publik selepas penunjukan dokter Reisa.

Informasi yang muncul lebih banyak fokus membedah sisi kepribadian, apa yang dikenakannya dan beragam informasi yang terkait dengannya.

Padahal di saat yang bersamaan data covid 19 ironisnya masih menunjukan tren yang enggan turun.
Dokter Reisa dalam kapasitas spokesperson memang tidak dituntut untuk mengobati, namun mengedukasi publik agar menjalankan sejumlah protokol Covid 19 dengan lebih baik.

Seperti menjaga jarak, tidak berkerumun, mencuci tangan dan berperilaku hidup bersih serta sehat.

Target utamanya, adalah membuat semakin banyak orang sadar dan ikut serta dalam pencegahan covid secara masif.

Tentu ini bukan kerja yang mudah, karena sejak Pemerintah mengkampanyekan new normal justru direspons dengan euforia masyarakat yang cenderung melanggar dan menyepelekan protokol covid 19.


Sontak kemudian membuat angka-angka pasien yang terpapar Covid kemudian melonjak.

Diketahui, kasus positif virus corona di Indonesia hingga Senin (15/6) mencapai 39.294 kasus. Dari jumlah itu, 15.123 orang dinyatakan sembuh dan 2.198 orang lainnya meninggal dunia. Khusus angka kasus positif terdapat penambahan 1.000 orang lebih.

Bahkan yang lebih menyakitkan ketika tersiar disinformasi yang dituduhkan kepada tenaga medis menangguk keuntungan dari pandemi ini sebagaimana beredar di media sosial.

Kemudian bagaimana memberikan penyadaran kepada masyarakat, mengingat angka meninggal saat ini sudah menembus 2.000 orang lebih maka sudah sepantasnya menjadi 'warning system' yang benar-benar bisa dipahami masyarakat.

Karena sejauh ini, kita mencermati publik tidak sensitif dengan seluruh seluruh angka-angka tersebut dan cenderung abai. Membangun kesadaran Publik, bukan personal positioning.

Jika pada akhirnya Reisa dan Achmad Yurianto tetap berduet, maka harus dipastikan bahwa peran mereka tidak saling menegasikan satu sama lain dan harus saling melengkapi.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto bersiap menyampaikan keterangan pers di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (27/3/2020). Berdasarkan data hingga Jumat (27/3/2020) pukul 12.00, jumlah kasus positif COVID-19 mencapai 1.046 orang di 27 provinsi se-Indonesia dengan jumlah pasien sembuh mencapai 46 orang dan  meninggal dunia mencapai 87 orang.  ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nzJuru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto. (Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
 

Pun jika tongkat estafet informasi diserahkan kepada dokter Reisa, sebagaimana Ahmad Jurianto menerima hal serupa dari Menteri Kesehatan Terawan yang kini mulai jarang muncul.

Maka harus dipastikan bahwa komunikasi publik yang terbangun harus semakin memperkuat desain besar penanganan covid 19 dari pemerintah.
Ada sejumlah prasyarat menjadi seorang juru bicara dimasa krisis. Juru bicara harus menyampaikan pesan dengan satu suara sepanjang krisis (Barret, 2005; Benoit, 1997; Coombs, 2007; Kaufman, Kesner, & Hazen, 1994; Turner, 1999).

Juru bicara harus mampu menangani pertanyaan media dan memiliki pengetahuan tentang krisis dan organisasi (Barret, 2005; Coombs, 2007).


Respons krisis pesan dari juru bicara yang dipandang sebagai ahli yang kredibel dan dapat dipercaya meningkatkan kepercayaan pesan respon krisis (Coombs, 2007) dan pengaruh hasil komunikasi positif pasca krisis (Heath, 1997; Yang, Kang, & Johnson, 2010).

Pada akhirnya, jika seorang juru bicara berhasil mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan masyarakat yang penting, daerah-daerah yang terkena wabah akan menghadapi lebih sedikit insiden penyakit, paparan, dan kematian.

Komunikasi krisis memerlukan kombinasi antara strategi komunikasi dan komunikasi persuasif untuk membangun keterlibatan pemangku kepentingan.

Secara simultan penunjukan juru bicara diharapkan mampu membangun hubungan positif antara organisasi dan publik. Kita ingin satu waktu melihat dokter Reisa dan Achmad Jurianto tampil di depan media mampu memberikan inspirasi yang mampu merubah perilaku masyarakat, bukan sekedar menyampaikan angka-angka yang semakin hari membuat kita pilu. (asa/asa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS