Jejak Wabah di Jakarta: Malaria, Kolera, hingga Leptospirosis

CNN Indonesia | Senin, 22/06/2020 11:10 WIB
Petugas medis Puskesmas Kecamatan Gambir mengambil sampel lendir warga saat tes Swab di Pasar Thomas,  Jakarta, Rabu, 17 Juni 2020. Tes swab untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 itu diperuntukan bagi para pedagang pasar. CNN Indonesia/Safir Makki Wabah virus sudah menyerang Jakarta sejak masa kolonial saat masih bernama Batavia. Ilustrasi (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menginjak usia 493 tahun, Jakarta diserang pendemi virus corona (Covid-19). Wabah virus corona yang mulai masuk Jakarta pada awal tahun 2020 itu sudah menginfeksi ribuan orang dan ratusan di antaranya meninggal dunia.

Wabah corona bukan satu-satunya yang pernah melanda ibu kota. Sejarah mencatat, sejumlah wabah seperti malaria, kolera, hingga leptospirosis pernah melanda Jakarta atau yang bernama Batavia saat era kolonial.

Sejarawan JJ Rizal menjelaskan, salah satu wabah yang paling pertama tercatat melanda Batavia yakni malaria sekitar tahun 1730-an. Pada tahun 1733, Kota Batavia mulai mencatat banyak sekali keluhan-keluhan dari orang-orang kulit putih, terutama mereka yang baru datang dari Eropa.


"Mayoritas orang Eropa yang sudah di Hindia Timur, Batavia, mereka juga mengalami kesulitan, karena mereka juga kena penyakit. Jadi mayoritas digambarkan mereka seperti zombie, menjadi putih. Itu tanda-tanda penyakit malaria," kata Rizal dalam sebuah diskusi online, dikutip Jumat (19/6).


Konsep arsitektural ruang kota Batavia dipaksa sedemikian rupa mengikuti arsitektural ruang Kota Amsterdam, Belanda dengan banyak kanal-kanal.Menurut Rizal, saat itu orang-orang Eropa tidak mengetahui bahwa wabah malaria berasal dari gigitan nyamuk. Mereka hanya mengutuk bahwa wabah itu berasal dari kesalahan arsitektural yang mereka buat.

Saat itu, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau kongsi dagang Belanda yang membuat kota Batavia hanya ingin membuat lokasi jajahannya mirip dengan tempat tinggal di kampung halamannya.

Saat itu VOC membangun tembok-tembok untuk memagari kota dari tiga sisi serta sungai besar dan kanal-kanal buatan menjulur ke dalam kota.

Konsep arsitektural ruang mirip Amsterdam Itu memang membuat Batavia menjadi Venesia di timur. Bahkan, konsep arsitektural Batavia saat itu berbuah julukan Koningin van het Oosten (Ratu dari Timur).

"Tapi mereka menunggu waktu, karena alam tropis, keseimbangan alamnya diubah sedemikian rupa, mengakibatkan bahaya-bahaya itu yang tersembunyi," ujar Rizal.

Pengunjung beraktivitas saat mengunjungi Museum Wayang di Kawasan Kota Tua, Jakarta, Minggu, 14 Juni 2020. Sejumlah museum kembali dibuka untuk umum dalam masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi fase pertama di Jakarta hingga 14 Juni 2020 dengan menerapkan protokol kesehatan bagi pengunjung. CNN Indonesia/Bisma SeptalismaKawasan Kota Tua di Jakarta. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma).



Nyamuk dan VOC

Kemudian, sekitar tahun 1785-1790 VOC perlahan menggeser pusat kota ke arah selatan. Namun, saat itu hanya pejabat dan orang-orang kaya yang ikut pindah, sementara serdadu-serdadu kelas rendah tetap berada di dalam kota benteng tersebut.

Wabah yang disebarkan melalui gigitan nyamuk itu juga dipercaya menjadi salah satu penyebab runtuhnya kongsi dagang Belanda tersebut.

"Akibat dari wabah ini, VOC merugi besar. Keuntungan mereka itu drop. Karena seluruh armada tidak bisa jalan. Pengiriman barang ke Eropa terganggu," ujarnya.

Memasuki awal abad ke-19, tepatnya tahun 1821, wabah kolera melanda Batavia. Menurut Rizal, pada tahun itu sebanyak 156 orang meninggal akibat kolera.

Rizal menjelaskan wabah kolera dibawa oleh para pedagang dari Pulau Pinang dan Melaka ke Semarang pada awal abad 19. Dari situ, penyebaran wabah yang disebabkan bakteri kolera (cholera asiatica) kian meluas ke berbagai daerah, termasuk Batavia.

"Kolera ini bukan hanya sekali terjadi, tetapi terjadi lagi tahun 1851-1853, dan 1860-an," tutur Rizal.

Menurut Candrian, pada awal abad ke-20, tepatnya pada 1911-1912 Batavia sempat dilanda wabah leptospirosis. Penyakit ini disebabkan kencing tikus yang menulari manusia, kemudian menjangkit ke sesama manusia.Di sisi lain, Arkeolog dan Anggota Tim Ahli Cagar Budaya DKI Jakarta Candrian Attahiyat mengatakan wabah yang melanda Batavia bukan hanya malaria dan kolera.

Wabah ini pertama kali ditemukan di Malang pada 27 Maret 1911. Menurut Candrian, wabah ini dibawa oleh tikus dari Ranggon ketika impor beras ke Surabaya kemudian merebak se-Jawa dan Sumatera.

Akibat wabah ini, pemerintah Hindia Belanda langsung membangung lokasi karantina di Pulau Onrust dan Kuiper, Kepulauan Seribu.

"Pembangunan karantina ini dikerjakan oleh 600 buruh dari Surabaya dengan dana 607.000 guilders dan selesai akhir tahun 1911," tutur Candrian.

Saat itu, orang yang baru pulang perjalanan laut dari luar negeri, termasuk orang yang baru pulang dari ibadah Haji diwajibkan diperiksa di Pulau Kuiper sebelum memasuki Pelabuhan Tanjung Priok

Rombongan diperiksa satu persatu setelah disemprot disinfektan, jika dinyatakan negatif langsung dipindah ke Pulau Onrust untuk menjalani karantina. Jika positif maka harus tetap di Pulau Kuiper selama 10 hari untuk menjalani isolasi dan perawatan

"Pulau Onrust dijadikan sebagai karantina selama 5 hari bagi yang negatif leptospirosis. Untuk mencegah tikus masuk barak, maka dibuat pagar antitikus," tuturnya.

[Gambas:Video CNN]

Pintu Gerbang Perdagangan

Mengenai sejumlah wabah yang melanda Jakarta sejak masa kolonial, Sejarawan Universitas Nasional (Unas) Andi Achdian menyebut karena DKI menjadi salah satu pintu gerbang dan pusat perdagangan di Indonesia.

Menurutnya, sirkulasi wabah dalam sejarah dunia bergerak dalam skala global, dan kota-kota besar seperti Jakarta atau Batavia saat itu menjadi hub-hub karena konektivitas global.

Sayangnya, perkembangan konektivitas global itu juga memunculkan dimensi gelap tentang wabah-wabah penyakit.

"Kalau dilihat wabah dalam pengertian sejarah modern dia memang selalu berkait dengan perkembangan peradaban dan teknologi manusia, khususnya dalam hal ini pergerakan orang, perdagangan dan koneksi global," ujar Andi.

Kini, wabah virus kembali menyerang Jakarta. Sejak Maret 2020 hingga 21 Juni, jumlah kumulatif kasus positif terinfeksi virus corona di DKI mencapai 9.830 orang. Dari jumlah itu, 5.054 orang sembuh, 615 orang meninggal, dan sisanya masih menjalani perawatan.

(dmi/fra)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK