Korban Kebakaran Penjaringan Tolak Tinggal di Tenda

CNN Indonesia | Minggu, 28/06/2020 19:58 WIB
Warga yang mengungsi akibat rumahnya ambles beristirahat dalam tenda pengungsian di Lodan Raya, Pademangan, Jakarta (23/11). Sebanyak delapan kepala keluarga diungsikan akibat tanah ambles. (CNN Indonesia/ Hesti Rika) Ilustrasi tenda pengungsian bagi korban terdampak bencana (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebanyak 45 warga korban kebakaran yang terjadi pada Sabtu (27/6) pukul 23.30 WIB di Jalan Muara Baru Raya Kecamatan Penjaringan, Jakarta utara, memilih mengevakuasi diri ke rumah kerabat yang tak jauh dari lokasi kejadian.

Lurah Penjaringan Harsono mengaku warga sempat menolak tawarannya untuk mengungsi sementara dalam tenda darurat bencana. Puluhan warga yang tergabung dalam 15 KK itu masih khawatir tertular virus corona (Covid-19), jika mereka harus berdesakan dalam satu tenda darurat.

"Kita sudah tawarkan mau buka tenda atau ke tempat lain, akhirnya mereka tidak mau. Kan mereka banyak saudara yang tinggal di lingkungan situ, jadi mereka pilih tinggal di rumah saudaranya saja," kata Harsono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Minggu (28/6).


Kendati demikian, melalui Dinas Sosial (Dinsos) Penjaringan, 45 warga terdampak masih mendapatkan bantuan sementara berupa kebutuhan konsumsi makanan dan minuman. Bantuan akan tetap diberikan meski warga menolak mengungsi di tenda

"Dari Dinsos masih tetap berjalan, nasi kotak sehari tiga kali dikirim ke tiap rumah, ke warga terdampak," imbuh Harsono.

Terkait penyebab insiden kebakaran di sebidang tanah berukuran 120 meter persegi tersebut, Harsono mengaku hingga saat ini pihaknya bersama aparat gabungan yang terdiri dari TNI/Polri, Sudin Damkar, hingga Satpol PP masih menyelidiki penyebab pasti titik kebakaran.

"Masih kita selidiki, karena mereka [warga terdampak] masih mencari juga barang berharga yang tertinggal disana," ujarnya.

Senada, Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Utara Rahmat Kristanto mengaku hingga saat ini penyelidikan terhadap perhitungan kerugian masih berlangsung.

Berdasarkan laporan kronologinya, Rahmat menyebut awal mula si jago merah melahap total enam warga terjadi pada Sabtu 27 Juni pukul 23.30 WIB.

Seorang warga lalu melaporkan insiden kebakaran tersebut ke Pos Damkar. Atas insiden ini, sebanyak 12 pemadam kebakaran diturunkan untuk menjinakkan si jago merah, sehingga api dapat dipadamkan total pada pukul 00.33 WIB Minggu (28/6) dini hari tadi.

Namun naas, enam rumah di RT 17, RW 17, Kebon Tebu, hangus habis dilalap api. Penyebab disebut berasal dari percikan api dari lilin seorang warga pria, Meli (45 tahun). Kendati begitu, dalam insiden kali ini, Rahmat menyatakan tidak ada korban jiwa.

"Nihil korban jiwa ya Alhamdulillah, tidak ada yang luka-luka dan tidak ada yang meninggal dunia," tuturnya.

(khr/bmw/gil)

[Gambas:Video CNN]