Bakamla Segera Beli Senjata Militer Ringan Tak Mematikan

CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 17:14 WIB
Kepala Badan Keamanan Laut, Laksdya Aan Kurnia menyebut dalam Omnibus Law Kelautan segala bentuk penegakan hukum di laut akan dipegang oleh Bakamla, Rabu (19/2). Kepala Bakamla Laksamana Madya Aan Kurnia menyatakan segera membeli senjata militer kategori ringan. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksamana Madya Aan Kurnia mengatakan pihaknya telah membuat daftar pembelian senjata untuk mengamankan perairan RI.

Aan tak merinci senjata jenis apa yang hendak pihaknya dibeli. Menurutnya, senjata tersebut masuk kategori ringan yang digunakan untuk membela diri.

"Senjata kecil saja, senjata ringan 30 milimeter. Jadi senjata untuk self defense untuk bela diri saja, bukan senjata mematikan," kata Aan saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon, Selasa (30/6).


Aan menjelaskan pembelian senjata merujuk Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 7 Tahun 2010 Tentang Pedoman Perizinan, Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Standar Militer di Luar Lingkungan Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia

Merujuk pada Permenhan tersebut, lembaga yang memang memiliki kepentingan menjaga teritori atau wilayah Indonesia diberi izin untuk mempersenjatai diri sesuai kebutuhan mereka.

Jenderal TNI bintang tiga itu mengatakan senjata tersebut akan dipasang di kapal-kapal milik Bakamla yang berlayar di perairan perbatasan.

Aan berkaca dari kejadian pada akhir 2019 lalu saat Laut China Selatan memanas. Ketika itu, kapal-kapal Bakamlah yang berjaga di perairan itu tak memiliki senjata seperti China, Malaysia, dan Vietnam.

"Sementara Coast Guard China, Malaysia, Vietnam itu sudah pakai senjata yang lebih besar," ujarnya.

Sebelumnya, anggota Komisi I DPR Bobby Adhityo Rizaldi meyebut Bakamla dibolehkan membeli senjata militer mulai Juni 2020. Kepemilikan senjata militer akan memperkuat Bakamla mengawasi perairan Indonesia terutama di sekitar Natuna yang dekat dengan Laut China Selatan.

Bobby menilai sejauh ini Indonesia cenderung lemah dalam pengawasan di perairan Natuna dekat Laut China Selatan. Selama ini Bakamla hanya memiliki daya dukung senapan ringan dengan jangkauan di bawah 1 kilometer.

Sementara, kata Bobby, kapal coast guard China dilengkapi senjata jenis Norinco dengan jarak tembak lebih dari 5 km.

China kembali melakukan provokasi di Laut China Selatan sejak beberapa pekan lalu. Mereka masih mengklaim perairan sekitar Natuna masuk wilayah perairannya.

Gelagat China memancing reaksi Amerika Serikat yang juga turut unjuk kekuatan di sekitar Laut China Selatan. Pihak Indonesia, dalam hal ini Kementerian Luar Negeri, masih menyatakan dengan tegas untuk tidak mengakui klaim China atas perairan di Laut China Selatan.

(tst/fra)

[Gambas:Video CNN]