Sepekan Terinfeksi Corona, Dokter di Surabaya Meninggal Dunia

CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 07:21 WIB
Sejumlah petugas mengangkat peti jenazah seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) COVID-19 dari kendaraan untuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (11/5/2020). PDP berusia 56 tahun itu meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Undata Palu. Data Gugus Tugas COVID-19 Sulteng per 11 Mei 2020, jumlah kasus positif COVID-19 sebanyak 83 orang, PDP 31 orang, 3 meninggal dunia, dan 13 orang dinyatakan sembuh. ANTARAFOTO/Eddy Djunaedi/bmz/hp. Ilustrasi pemakaman jenazah yang meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona (ANTARAFOTO/Basri Marzuki)
Surabaya, CNN Indonesia --

Seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit (RS) Haji Surabaya, Jawa Timur, Arief Basuki meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona (Covid-19) pada Selasa (30/6).

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya, Brahmana Askandar mengatakan Arief selama ini bertugas sebagai dokter anestesi yang merawat pasien Covid-19 di ruang intensive care unit (ICU).

"Iya, terkonfirmasi positif Covid-19. Dia dokter anestesi, bertugas menangani pasien Covid-19 di ICU," Brahmana, saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com. Rabu (1/7) pagi.


Brahmana mengatakan bahwa Arief positif terinfeksi virus corona sejak sepekan yang lalu. Sejak itu, Arief dirawat secara intensif di RSUD dr Soetomo.

"Seminggu lalu beliau diketahui positif corona. Beliau dirawat intensif pakai ventilator saat itu," ucapnya.

Brahmana mengaku belum mengetahui dari mana Arief bisa tertular virus tersebut. Menurutnya, bisa saja Arief tertular dari pasien atau bisa juga saat berada di luar RS.

"Dokter tracing-nya sulit, bisa dari sesama dokter, bisa dari tenaga kesehatan lain, bisa dari RS bisa non RS," katanya.

IDI Surabaya mengaku sangat kehilangan Arief yang selama ini bertugas merawat pasien corona di ruang ICU. Ia berharap kejadian itu tak terulang baik terhadap dokter perawat atau siapa pun.

"Mudah-mudahan ini yang terakhir sehingga tidak ada tenaga dokter maupun tenaga kesehatan yang meninggal [karena] Covid-19," ucapnya.

Brahmana lalu meminta masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker, tak berkerumun dan disiplin mencuci tangan dengan sabun.

Hal tersebut penting dilakukan, sebab bisa meminimalisir risiko penularan Covid-19. Dengan cara itu juga, maka tugas dokter dan tenaga kesehatan akan terbantu.

"Kalau protokol kesehatan dijalani betul masyarakat, pasien tidak meluber, rumah sakit tidak overload. Sehingga paparan tidak makin besar," katanya.

Berdasarkan catatan CNNindonesia.com hingga kini sudah ada 10 dokter di Jatim yang gugur akibat Covid-19. Mereka berasal dari berbagai rumah sakit.

Secara keseluruhan, IDI mencatat telah ada 35 dokter yang meninggal dunia usai terinfeksi virus corona. Data tersebut disampaikan per 12 Juni 2020.

(frd/bmw/sur)

[Gambas:Video CNN]