Corona Kian Tinggi, Gugus Tugas Klaim Positivity Rate Turun

CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 16:31 WIB
Petugas medis melakukan tes diagnostik cepat (rapid test) kepada petugas posko dukungan operasi Gugus Tugas COVID-19 Pemerintah DIY di Pusdalops BPBD DIY, Baciro, DI Yogyakarta, Jumat (22/5/2020). Rapid test tersebut dilakukan guna mengantisipasi penularan COVID-19 di lingkungan kerja petugas posko dukungan operasi Gugus Tugas COVID-19 Pemerintah DIY pada saat melaksanakan tugas. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/wsj. Ilustrasi pengecekan Corona. (Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan angka positivity rate infeksi Virus Corona secara nasional turun menjadi 12 persen.

Positivity rate merupakan rasio jumlah kasus konfimasi positif Covid-19 berbanding dengan total pemeriksaan spesimen.

"Memang jumlah positif harian terus meningkat, tapi positivity rate-nya 12 persen, jadi jauh lebih rendah dari yang awal," kata Dewi di BNPB, Rabu (1/7).


Pada pertengahan Juni, Dewi sempat mengatakan angka positivity rate Corona di Indonesia berada di angka 10-14 persen.

Saat ini, lanjutnya, angka positivity rate turun sebab jumlah pemeriksaan spesimen meningkat. Meskipun, dalam seminggu terakhir jumlah positif Covid-19 bertambah hingga 8.227 kasus.

"Kita lihat data terakhir itu 28 Juni, 8.227 kasus dalam satu minggu, tapi ternyata orang yang diperiksa ini mencapai 55 ribu, jadi positivity rate-nya menurun," katanya.

Lebih lanjut, Dewi mengatakan saat ini tenaga medis tidak hanya melakukan pemeriksaan kepada orang-orang dengan gejala Covid-19. Pengujian spesimen juga dilakukan kepada orang-orang yang tidak punya gejala.

"Dalam rangka surveilans jika yang diperiksa orang sakit pasti angka positivity rate lebih tinggi, ketika angka ini semakin turun artinya kita mencoba memeriksa orang-orang tanpa gejala," ucapnya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya merilis angka standar positivity rate Corona adalah 5 persen. Angka ini menjadi acuan pemerintah untuk membuka aktivitas dan tempat-tempat umum.

"Standar WHO sebenarnya 5 persen, memang butuh usaha besar, kalau di Indonesia angka nasionalnya 12 persen tapi kalau lihat kabupaten angkanya berbeda-beda," katanya.

Sebelumnya, Epidemolog dari Universitas Griffith Dicky Budiman menilai dalih peningkatan kasus Corona sebagai dampak penambahan tes massal tak tepat. Menurutnya, pengendalian Covid-19 lewat kebijakan yang tepat dan edukasi warga yang benar mestinya sudah dilakukan sejak awal.

"Temuan kasus meningkat akibat cakupan tes yang meningkat [itu] betul," kata dia.

"Tapi harus difahaminya adalah cakupan tes meningkat tidak akan menemukan kasus banyak jika pencegahan sudah berhasil dilakukan, jika masyarakat semakin sadar, dan jika pengendalian Covid berhasil," imbuhnya.

(mel/arh)

[Gambas:Video CNN]