Mahfud Sebut Tenggat Sikap Pemerintah Soal RUU HIP 20 Juli

CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 05:55 WIB
Menko Polhukam Mahfud MD di dampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa  (kanan) memberikan keterangan saat diskusi terkait  Rencana Undang-undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP) di hadapan Forum Komunikasi Umat Beragama di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (5/7/2020). Kunjungan tersebut dalam rangka menyerahkan bantuan penanganan COVID-19 di Jawa Timur dan diskusi bersama Forum Komunikasi Umat Beragama  terkait Rencana Undang-undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP). ANTARA FOTO/Zabur Karuru/foc. Manko Polhukam Mahfud MD saat berdiskusi dengan FKUB Jatim terkait RUU HIP. (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan pemerintah akan mengirimkan tanggapan secara resmi ke DPR terkait rancangan undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) paling lambat 20 Juli.

"Tanggal 16 Juni kita sudah umumkan ke pemerintah, [bahwa] kita harus sampaikan ke DPR. Tapi kalau tenggat waktu [ialah] sampai 20 Juli pemerintah untuk menanggapi secara resmi," kata dia, dalam acara dialog di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (5/7).

Ia menyebutkan DPR mestinya lebih dulu membahas ulang RUU itu bersama masyarakat karena sudah menuai polemik.


"Pemerintah sudah menyatakan harus dibahas kembali bersama masyarakat oleh DPR dulu," kata Mahfud.

Hal itu disampaikannya terkait permintaan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Timur agar pemerintah segera membatalkan dan mencabut RUU HIP, bukan hanya menunda pembahasannya.

Ketua FKUB Jatim Kiai A. Hamid Syarif mengaku khawatir aksi penolakan masyarakat terhadap salah satu RUU yang masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) itu akan terus bergulir jika Pemerintah tak mencabutnya.

Poin Kontroversial RUU Haluan Ideologi PancasilaFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi

"Sekarang masih menggelinding. Sepanjang tidak ada pencabutan atau pembatalan, aksi [penolakan RUU HIP] ini akan terus menggelinding," ujar dia, kepada Mahfud.

Menurutnya, itu sangat berbahaya di tengah upaya Pemerintah menanggulangi pandemi Covid-19. Ditambah lagi, pada Desember mendatang, beberapa daerah di Indonesia akan melangsungkan Pilkada 2020.

"Saya tidak bisa membayangkan ketika digelar Pilkada serentak, muncul unjuk rasa besar-besaran, apalagi saat ini kita masih menghadapi pandemi," ujar Hamid.

Yang paling berbahaya, kata Hamid, jika aksi tersebut justru malah menimbulkan aksi tandingan dari pihak yang pro terhadap RUU HIP.

"Kalau ini terjadi akan muncul konflik, bisa vertikal, bisa konflik horizontal. Dalam kondisi begini khawatir ada aliran yang muncul menyusup," kata Hamid.

(frd/arh)

[Gambas:Video CNN]