Jalan dari Jambi, Suku Anak Tiba di Istana Minta Temu Jokowi

CNN Indonesia | Kamis, 09/07/2020 12:04 WIB
Aksi jalan kaki dari Jambi ke Jakarta oleh Suku Anak Dalam. Aksi jalan kaki Suku Anak Dalam. (Dok. Istimewa).
Jakarta, CNN Indonesia --

Suku Anak Dalam (SAD) dan Petani Jambi melakukan aksi jalan kaki menuju Istana Negara, Jakarta. Aksi jalan kaki dari Jambi ini mereka lakukan untuk meminta Presiden Joko Widodo segera menyelesaikan konflik lahan yang mereka alami dengan perusahaan sawit, yakni PT Asiatic Persada/PT. Berkat Sawit Utama di Jambi.

Suku Anak Dalam dan para petani Jambi ini diprediksi akan tiba di depan Istana Negara hari ini, Kamis (9/7). Mereka akan menuntut menemui Jokowi guna menyelesaikan konflik lahan tersebut.

Koordinator lapangan aksi Abun Yani menyatakan tak akan meninggalkan Istana Negara dan akan berdiam diri sampai Jokowi menemui mereka. Bahkan para Suku Anak Dalam dan Petani Jambi ini juga akan membangun tenda.


"Kalau nanti di depan Istana Negara, Presiden tidak menemui kami atau menyelesaikan konflik kami, maka kami akan membangun tenda di sana menunggu sampai bapak Presiden Joko Widodo menemui kami atau menyelesaikan konflik agraria yang kami hadapi," kata Abun melalui rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (9/7).

Dalam pernyataannya Abun menambahkan, pihaknya meminta Jokowi dan Kementerian ATR/BPN segera mengembalikan lahan seluas 3.550 hektare milik Suku Anak Dalam berdasarkan surat Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional nomor 1373/020/III/2016 tanggal 29 Maret 2016.

Tak hanya itu, mereka juga meminta pengembalian lahan milik Suku Anak Dalam dan Petani Simpang Macan Desa Bungku yang di klaim oleh PT. Asiatic Persada/PT. Berkat Sawit Utama.

"Kurang lebih lahan itu seluas 600 ha di wilayah kamp perut, karena berada di luar HGU PT. Asiatic Persada/PT. Berkat Sawit Utama dan berdasarkan SK Menteri Kehutanan No SK 327/Menhut-II/2010 tanggal 25 Mei 2010 lokasi tersebut berada dalam Izin Konsesi IUPHHK-RE PT. REKI," kata dia.

Suku Anak Dalam dan para petani ini juga meminta agar perpanjangan Hak Guna Usaha milik PT Berkat Sawit Utama dibatalkan.

Keputusan perpanjangan itu tertuang dalam Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor: 109/HGU/KEM-ATR/BPN/X/2019 tentang Perpanjangan Jangka Waktu Hak Guna Usaha Atas Nama PT. Berkat Sawit Utama, Atas Tanah Di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, tanggal 18 Oktober 2019 seluas 15.693.7004 ha.

Mereka juga meminta agar pemerintah dan aparat penegak hukum mengambil langkah hukum terhadap PT. Berkat Sawit Utama. Hal ini berkaitan dengan dugaan pembukaan lahan dan penanaman kelapa sawit di atas Kawasan Hutan, di atas lahan Konservasi, dan di Sempadan Sungai.

"Serta melakukan perluasan kebun yang diduga di luar Izin HGU termasuk perluasan kebun melalui anak perusahaan yaitu PT. Jamer Tulen dan PT. Maju Perkasa Sawit yang tanpa Izin," kata Abun.

Belum diketahui pasti sejak kapan aksi Suku Anak Dalam dan petani Jambi ini mulai dilakukan. Dari informasi dihimpun, mereka tiba di pelabuhan Bakauheni, Lampung pada Kamis (2/7) lalu untuk selanjutnya menyeberang ke pelabuhan Merak, Banten.

Diketahui pada April 2019 lalu Suku Anak Dalam dan petani Jambi juga pernah melakukan aksi serupa. Mereka berjalan kaki dari Jambi ke Istana Negara juga dengan tuntutan yang sama, yakni menyelesaikan konflik lahan dengan PT Asiatic Persada/PT. Berkat Sawit Utama.

(tst/osc)

[Gambas:Video CNN]