Survei: Tren Kepala Daerah Milenial Meningkat Tiap Pilkada

CNN Indonesia | Minggu, 26/07/2020 17:34 WIB
Lembaga survei PRC menyatakan separuh calon kepala daerah milenial berasal dari dinasti politik atau punya kekerabatan dengan tokoh. Ilustrasi pemungutan suara dalam pilkada. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga survei Politika Research and Consulting (PRC) menyatakan tren peningkatan keterpilihan calon kepala daerah milenial meningkat dalam gelaran pemilihan kepala daerah (pilkada).

PRC mencatat pada Pilkada 2017, keterpilihan calon kepala daerah milenial sebesar 5,2 persen. Jumlah keterpilihan ini naik sebesar 10 persen pada 2018.

"Jika konsisten naik, Pilkada 2020 akan semakin banyak milenial memimpin suatu daerah," ujar Direktur Utama PRC, Rio Prayogo, dalam diskusi yang digelar daring, Minggu (26/7).


Rio tak merinci rentang usia yang termasuk kepala daerah milenial. Namun, dari 5,2 persen calon kepala daerah milenial yang terpilih, kata dia, hampir separuhnya berasal dari politik dinasti atau masih memiliki hubungan keluarga dengan seorang tokoh.

Sementara sisanya justru terjerat masalah dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Dari 5,2 persen itu, 40 persen adalah politik dinasti. 60 persennya harus berurusan dengan KPK," katanya.

Sebagai calon kepala daerah milenial, Rio menuturkan, seseorang mampu memaparkan dengan jelas alasannya maju dalam kontestasi pilkada. Calon kepala daerah milenial juga harus menjabarkan apa yang akan dilakukan untuk daerahnya.

"Itu prinsip politik yang harus dikedepankan. Semua pemilih milenial ingin calonnya bicara tentang itu," ucap Rio.

Di sisi lain, Rio juga melakukan survei pada kelompok milenial terkait pemilihan pada seorang calon kepala daerah.

Dari hasil survei menunjukkan, milenial cenderung memilih calon kepala daerah yang melakukan kampanye melalui media sosial ketimbang cara konvensional seperti blusukan.

"Mereka ingin sosialisasi lewat TV, radio, Facebook, Youtube sehingga bisa mengakses gagasan kandidat ketimbang blusukan atau kunjungan ke warga. Pemilih milenial lebih suka yang berbasis teknologi," jelas Rio.

Keseharian milenial yang tidak bisa lepas dari teknologi menurut Rio yang turut memengaruhi kecenderungan sikap politik saat ini.

Selain itu, lanjut dia, hasil survei juga menunjukkan bahwa pemilih milenial cenderung meminta pendapat ke lingkungan keluarga daripada tokoh masyarakat atau agama dalam pertimbangan politiknya.

Hasil survei menunjukkan 36,15 persen bertanya kepada suami/istri, 29,53 persen kepada saudara/keluarga, dan 16,15 persen kepada teman.

"Ini menunjukkan milenial lebih otonom, lebih rasional yang semestinya menjadi secercah harapan akan ada perubahan dalam kultur politik Indonesia," ucapnya.

[Gambas:Video CNN]

Survei ini dilakukan pada 28 Januari hingga 3 Februari 2020.

(psp/ayp)