Ganjil Genap Berlaku dan Cemas Pekerja Naik Angkutan Umum

CNN Indonesia | Sabtu, 01/08/2020 20:35 WIB
Sejumlah pekerja khawatir pemberlakuan lagi ganjil genap akan meningkatkan penumpang angkutan umum. Kondisi tersebut berpotensi menjadi tempat penularan virus. Sejumlah pekerja khawatir pemberlakuan lagi ganjil genap akan meningkatkan jumlah penumpang angkutan umum dan berpotensi menjadi tempat penularan virus corona. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Eliz, seorang pekerja kantoran di Jakarta mengatakan pemberlakuan ganjil genap di sejumlah ruas jalan Ibu Kota mulai Senin (3/8) pekan depan, akan meningkatkan jumlah penumpang transportasi umum.

Ia menyebut kepadatan penumpang di transportasi umum ini bisa menjadi tempat penularan virus corona (Covid-19). Eliz pun khawatir terpapar virus jika terpaksa harus menggunakan angkutan umum.

"Kalau nanti malah harus ramai di transportasi umum khawatir tertular," kata Eliz, Sabtu (1/8).


Usia Eliz saat ini hampir menginjak 50 tahun. Beberapa informasi yang dia baca menyebutkan bahwa orang usia 45 tahun ke atas lebih rentan terpapar virus corona.

Ia mengaku selama ini selalu menggunakan transportasi pribadi saat beraktivitas di tengah pandemi virus corona.

"Kalau gunakan (kendaraan) pribadi kita lebih tau gimana keamanan yang kita gunakan. Kalau umum kita enggak tahu," ujarnya.

Eliz mempertanyakan kesiapan Pemprov DKI Jakarta dalam menyediakan transportasi umum saat ganjil genap mulai berlaku pekan depan. Menurutnya, akan sulit menerapkan protokol kesehatan Covid-19 jika terjadi kepadatan penumpang.

"Armada transportasi umum juga harus kita akui belum memadai. Bagaimana bisa menerapkan protokol physical distancing," katanya.

Hal senada diutarakan pekerja lain, Putra (38). Ia keberatan pemberlakuan ganjil genap saat PSBB transisi terlebih jarak rumah ke tempat kerjanya terbilang jauh.

Putra tinggal di kawasan Depok, sementara tempat kerjanya di bilangan Jakarta Selatan. Ia pun harus melalui sejumlah ruas jalan yang menerapkan ganjil genap.

Menurut Putra, ketika tak bisa membawa kendaraan pribadi dirinya akan menggunakan transportasi umum. Ia memprediksi terjadi penumpukan penumpang karena ganjil genap, khususnya KRL.

"Menurut saya bakal terjadi penumpukan pada alat transportasi umum khususnya KRL yang selama ini jadi favorit pekerja dari Depok yang bekerja di Jakarta," kata Putra.

Putra pun meminta Pemprov DKI Jakarta menunda pemberlakuan ganjil genap.

Pekerja lainnya, Jhon (29) was-was jika harus bertambah desak-desakan dalam angkutan umum karena imbas kebijakan ganjil genap nanti. Menurutnya, tak ada yang mengetahui jejak penumpang sebelum berpergian.

"Enggak ada yang tahu history penumpangnya gimana, tinggal di mana, mau ke mana dan habis gimana," kata Jhon.

Ras was-was Jhon bertambah karena ia masih memiliki bayi di bawah satu tahun. Menurutnya, sangat rentan tertular virus di angkutan umum jika terjadi penumpukan penumpang.

"Karena resiko virus menempel jadi ke hampir ke semua bagian tubuh," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan kembali menerapkan sistem ganjil genap bagi kendaraan di Ibu Kota mulai pekan depan atau pada Senin (3/8).

Hal itu Anies sampaikan usai mengumumkan perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi untuk kali ketiga di Jakarta yang berlaku selama dua pekan hingga 13 Agustus mendatang.

Penerapan kembali ganjil genap di jalanan ibu kota disebut lantaran volume lalu lintas kendaraan yang terus memadat selama penerapan PSBB transisi di Jakarta.

Sekitar 25 ruas jalan Jakarta akan kembali memberlakukan ganjil genap. Penerapan ganjil genap akan berlaku antara jam 06.00-10.00 dan 16.00-21.00 WIB.

Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya bakal melakukan penilangan terhadap para pelanggar aturan ganjil genap. Nantinya penilangan itu dilakukan secara manual maupun lewat sistem tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE).

(ndn/fra)

[Gambas:Video CNN]