Kurikulum Darurat Berlaku hingga Akhir Tahun Ajaran

fey, CNN Indonesia | Sabtu, 08/08/2020 20:59 WIB
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Iwan Syahril mengatakan kurikulum darurat berlaku hingga akhir tahun ajaran 2020/2021. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Iwan Syahril mengatakan kurikulum darurat berlaku hingga akhir tahun ajaran 2020/2021.(AP/Achmad Ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Iwan Syahril mengatakan kurikulum darurat berlaku hingga akhir tahun ajaran 2020/2021.

"Kurikulum ini bisa berlaku sampai akhir tahun ajaran. Jadi tidak perlu khawatir kalau covid selesai harus pindah ke kurikulum 2013 seperti sebelumnya. Nggak juga. Bisa sampai akhir tahun ajaran 2021 nanti," ungkapnya melalui akun Youtube Cerdas Berkarakter Kemdikbud RI, Sabtu (8/8).

Iwan menyatakan kurikulum darurat dibuat karena banyaknya kendala yang didapati selama pembelajaran jarak jauh (PJJ). Ia menjelaskan kendala ini ditemukan bukan hanya pada guru, tapi juga siswa dan orang tua.


Menurut survei dan dialog yang dilakukan Kemendikbud, guru banyak mengeluh kesulitan melakukan pengelolaan belajar-mengajar karena situasi yang berbeda dari biasanya.

Kendala yang ditemukan pada mayoritas guru khususnya terkait ketuntasan kurikulum. Ia mengatakan hal ini sebenarnya sudah disampaikan melalui Surat Edaran Mendikbud No. 4 Tahun 2020, dimana diinstruksikan agar guru tidak fokus pada ketuntasan kurikulum di tengah pandemi.

"Walaupun sudah disampaikan tidak usah (dituntaskan), tapi prakteknya selalu perlu dilakukan (mengejar ketuntasan kurikulum). Sebenarnya dari SE Mendikbud Maret lalu sudah disampaikan tidak perlu," lanjutnya.

Upaya guru menuntaskan kurikulum tersebut kemudian juga terkendala keterbatasan waktu mengajar selama pandemi. Iwan mengatakan mayoritas siswa belajar dua sampai empat hari seminggu. Dengan waktu belajar maksimal dua jam per hari.

Hal ini mempersulit guru untuk mengejar pemberian materi kepada siswa. Belum lagi banyak waktu tersita setiap harinya karena harus berkomunikasi dengan orang tua secara rutin.

Kendala ini memunculkan persoalan pemberian tugas yang bertumpuk dari guru kepada siswa. Ia menjelaskan ini karena guru memiliki keterbatasan waktu untuk menyampaikan seluruh materi yang dituntut kurikulum.

Sedangkan siswa banyak merasa terbebani jumlah tugas yang terlalu banyak. Dan orang tua tak selalu punya waktu untuk mendampingi anaknya belajar setiap hari.

Untuk itu, kata Iwan, Kemendikbud telah menyederhanakan kompetensi dasar dan kompetensi inti pada kurikulum 2013. Jadi materi yang perlu disampaikan hanya fokus pelajaran yang esensial.

Selain itu, kurikulum darurat juga dibarengi dengan modul pembelajaran untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD). Terdapat tiga modul pembelajaran yang diberikan, yakni modul untuk pendamping, modul untuk siswa dan modul untuk guru.

Ia mengatakan modul ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi guru yang kesulitan berkomunikasi intens dengan siswa maupun orang tua. Modul hanya diberikan kepada siswa PAUD dan SD karena dua jenjang itu yang paling terkendala selama PJJ.

"Modul ini bisa dilakukan secara mandiri oleh pendamping di rumah. Jadi nggak selalu harus komunikasi dengan guru. Tapi tentu koordinasi dengan guru harus berkala," ungkapnya.

Sebelumnya Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan pihaknya sudah menyusun kurikulum darurat untuk digunakan guru dan siswa selama pandemi. Kurikulum ini berlaku untuk jenjang PAUD, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan khusus.

Pernyataan ini diumumkan Nadiem pada Jumat (7/8) kemarin berbarengan dengan pengumuman pembukaan sekolah di zona kuning. Dorongan pembuatan kurikulum darurat sendiri sudah disuarakan banyak guru sejak PJJ tahun ajaran lalu.

Pada awal tahun ajaran 2020/2021 sejumlah guru menagih janji Nadiem membuat kurikulum darurat. Ini karena pembelajaran di tengah pandemi jauh berbeda realitanya dengan situasi normal.

(age)

[Gambas:Video CNN]