Ditanya PDIP, Kominfo Bantah Beri Kantor Yosi Project Pop

CNN Indonesia | Kamis, 03/09/2020 08:40 WIB
Fraksi PDIP di DPR bertanya demikian terkait dengan isu Yosi Project Pop memimpin tim influencer pemerintah. Dalam rapat di Komisi I DPR, PDIP bertanya kepada Kemenkominfo mengapa memberikan Yosi Project Pop untuk berkantor (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Dede Indra Permana menanyakan alasan penempatan kantor Hermann Josis Mokalu atau yang akrab disapa Yosi Project Pop di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Pertanyaan itu disampaikan Dede saat menyinggung pernyataan Staf Ahli Kemenkominfo Henri Subiakto dalam sebuah program televisi yang menyebut nama Yosi Mokalu sebagai orang yang melatih influencer melalui program Siberkreasi.

"Sebenarnya saya ingin bertanya kepada Pak Menteri, tapi berhalangan hadir. Khususnya di Kemkominfo, Mungkin ke depan perlu diagendakan ulang supaya rapat komisi ini bisa rapat bersama menteri. Terkhusus di poin 9 ,di kinerja Kemenkominfo TA 2019 tentang Gerakan Nasional Literasi Digital atau Siberkreasi," kata Dede saat rapat di DPR, Rabu (2/9).


"Bagaimana ada beberapa program literasi digital yang dijelaskan Prof Henri, Staf [Ahli] Kemenkominfo dipimpin oleh kalau enggak salah Yosi Mokalu. Mereka satu-satunya komunitas digital yang bisa berkantor di Kemenkominfo. Pertanyaan saya, apa dasar kebijakannya dan berapa besar anggaran yang dialokasikan untuk Siberkreasi?" imbuhnya.

Merespons, Sekretaris Jenderal Kemenkominfo Rosarita Niken Widiastuti membantah Yosi Mokalu berkantor di Kemenkominfo. Menurutnya, yang ada di Kemenkominfo hanya berupa sekretariat, bukan kantor Siberkreasi.

"Kalau disampaikan Yosi itu sama sekali tidak berkantor di Kominfo hanya sekretariat yang menangani apa secara administrasi program Siberkreasi dengan anggaran Rp9,1 miliar dalam satu tahun," ucapnya.

Niken menambahkan, anggaran yang digelontorkan Kemenkominfo untuk operasional Siberkreasi sebesar Rp9,1 Miliar dalam satu tahun. Menurutnya, Siberkreasi adalah salah satu program kerja Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Ditjen Aptika) untuk mengajak masyarakat lebih melek digital dengan cara penggunaan media sosial untuk hal-hal yang produktif.

"Misalnya untuk UMKM go online, untuk nelayan go online, petani go online, dan juga untuk digital parenting. Di mana kami juga menggerakkan lebih dari 100 komunitas di dalam Siberkreasi itu atau lebih dari 190 ribu orang," ujar Niken.

Yosi Mokalu sendiri sebelumnya sudah buka suara terkait tudingan yang menyebut dirinya sebagai orang yang melatih influencer "pendukung pemerintah".

Menurut Yosi, ada kesalahpahaman yang terjadi di tengah masyarakat menanggapi pernyataan itu. Yosi tak menampik bahwa dirinya merupakan Ketua Siberkreasi, yang merupakan sebuah gerakan nasional literasi digital.

"Sebenarnya Prof. Henri mau menjawab dari situ, tapi ya bungkusan judul click bait dan beberapa media abal-abal memperuncing semua suasananya," kata Yosi Mokalu saat dihubungi Antara, Minggu (30/8).

(mts/bmw/bmw)

[Gambas:Video CNN]