Survei CRC Menangkan Akhyar, MIDE Unggulkan Bobby di Medan

CNN Indonesia | Selasa, 15/09/2020 17:28 WIB
Dua lembaga survei memberikan hasil berbeda terkait Pilwalkot Medan: CRC unggulkan Akhyar Nasution, MIDE memenangkan Bobby Nasution. Para kandidat di Pilwalkot Medan, Bobby Nasution dan Akhyar Nasution, diunggulkan oleh dua lembaga survei terpisah. (Foto: CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan/Farid)
Medan, CNN Indonesia --

Dua lembaga survei mengeluarkan hasil berbeda terkait Pilkada Medan 2020. Lembaga Riset City Research Center (CRC) menyebut pasangan Akhyar Nasution-Salman Alfarisi mengungguli Bobby Nasution-Aulia Rachman. Sementara, Medan Institute For Democracy (MIDE) sebaliknya.

Survei CRC sendiri dilakukan pada periode 7 - 11 September 2020 dengan teknik multistage random sampling terhadap 400 orang responden, serta margin of error +/- 5 persen.

Direktur Riset CRC Ara Auza, di Medan, Senin (15/9), mengungkapkan padangan Akhyar Nasution-Salman Alfarisi mengungguli Bobby Nasution - Aulia Rachman dalam hal popularitas, elektabilitas, maupun akseptabilitas.


Dalam hal elektabilitas, Akhyar-Salman meraih angka 41,25 persen, berbanding Bobby-Aulia yang hanya 33,75 persen, dengan 25,25 persen tidak menjawab atau tidak tahu.

Sedangkan untuk pertanyaan terbuka (top of mind), elektabilitas Akhyar-Salman juga lebih unggul 35 persen daripada Bobby-Aulia 29,25 persen, dengan 35,75 persen-nya tidak menjawab atau tidak tahu.

"Elektabilitas Wali Kota paling besar pilihan responden adalah Paslon Akhyar Nasution - Salman alfarisi," kata Ara, dalam keterangannya.

Dalam hal tingkat popularitas, lanjutnya, Akhyar Nasution juga unggul 98,25 persen dibanding menantu Presiden Jokowi Bobby Nasution hanya 97,25 persen. Selain itu, Salman Alfarisi unggul 85,50 persen dibanding Aulia Rachman 74,75 persen.

Dalam hal kelayakan menjadi Wali Kota Medan atau akseptabiltas, 85,25 persen responden menyebut Akhyar layak dan 14,75 persen menilainya tidak. Sementara, Bobby dinilai layak oleh 77,5 persen, dan dianggap tidak layak oleh 22,5 persen responden.

Terkait alasan memilih pemimpin, survei CRC menemukan bahwa hanya 5,75 persen responden yang menyatakan memilih karena faktor calon terkait berasal dari keluarga tokoh politik atau tokoh masyarakat. Alasan terbanyak ialah jujur atau bersih dari praktek KKN (19 persen), tokoh agama (13,5 persen), dan kesamaan suku/agama (11,25 persen).

Sementara itu, Lembaga survei Medan Institute For Democracy (MIDE) memaparkan hasil berbeda.

Peneliti MIDE Ikhwanul Harahap menyebut elektabilitas Bobby Nasution mencapai 44 persen, mengungguli Akhyar Nasution dengan angka 8,8 persen dan Salman 4 persen.

Untuk tingkat popularitas bakal calon walikota dalam survei MIDE yang tertinggi adalah Bobby Nasution (90,9%), mengalahkan kandidat lain seperti Akhyar Nasution (64,5%) dan Salman Alfarisi (29,1%).

Terkait kriteria pemimpin, Ikhwanul menjelaskan masyarakat menginginkan pemimpin yang jujur, bersih, dan bebas korupsi; pandai dan berwawasan luas; dan memiliki program yang mampu menjawab keluhan masyarakat Kota Medan terkait berbagai permasalahan yang ada.

Survei MIDE dilakukan terhadap 1.000 responden dengan menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error 3 persen. Survei dilakukan pada periode 12-16 Agustus di seluruh kecamatan di Kota Medan.

Hasil survei MIDE ini sendiri diterima CNNIndonesia.com dari salah satu tim sukses Bobby Nasution.

Infografis Pilkada Serentak 2020 di Tengah Covid-19Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen

Diketahui, Pilkada Medan diikuti dua bakal pasangan calon yakni Akhyar Nasution-Salman, yang hanya mengantongi dukungan Partai Demokrat dan PKS; dengan pasangan Bobby-Aulia, yang diusung oleh delapan partai politik yakni PDIP, Gerindra, Golkar, NasDem, PPP, PAN, Hanura, dan PSI.

Akhyar sendiri saat ini menjabat Plt. Wali Kota Medan. Sebelumnya, PDIP lokal mendorongnya untuk menjadi calon wali kota. Namun, DPP PDIP memutuskan untuk mengusung menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution.

Kader tingkat lokal sempat menyuarakan penolakan. Pada akhirnya, Akhyar pindah parpol untuk mendapat dukungan bukan dari PDIP.

(fnr/arh)

[Gambas:Video CNN]