Analisis

Dukung Gibran, Taktik Partai Gelora Gaul dengan Penguasa

CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2020 08:39 WIB
Pengamat politik menilai Partai Gelora tengah berupaya meningkatkan reputasi dan dukungannya dengan mendukung putra Jokowi di Pilkada 2020. Partai Gelora dinilai tengah mencari dukungan pemerintah dengan mendukung putra dan menantu Presiden Jokowi di Pilkada Serentak 2020 (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Partai Gelora yang digawangi mantan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tengah jadi bulan-bulanan kritik setelah mendukung putra dan menantu Presiden Joko Widodo di Pilkada Serentak 2020. Partai Gelora dituding mendukung dinasti politik dan tak sesuai dengan slogan Arah Baru yang selama ini digaungkan.

Petinggi Partai Gelora, Fahri Hamzah dianggap menjilat ludah sendiri, lantaran 2019 lalu sempat meminta Gibran agar tak maju di Pilkada Solo selama ayahnya masih menjabat sebagai presiden. Selain itu, dia dan Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta juga secara terang-terangan menyatakan tak setuju dengan politik dinasti. 

Diketahui, Gelora mendukung Gibran Rakabuming Raka di Pilkada Kota Solo, Jawa Tengah dan Bobby Nasution di Pilkada Kota Medan, Sumatera Utara.


Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Hendri Budi Satrio mengaku tak heran dengan sikap Partai Gelora yang dipimpin oleh eks tokoh PKS macam Fahri Hamzah dan Anis Matta.

Menurutnya, Partai Gelora memang butuh popularitas dan dukungan masyarakat. Salah satu langkah yang diambil adalah mendukung putra dan menantu Jokowi di pilkada.

"Nah, yang sekarang dia lakukan ini lagi berusaha dapat dukungan pemerintah dulu, jadi ya pasti ada manuver-manuver seperti yang dilakukan Fahri sekarang, mendukung Gibran di solo," kata Hendri kepada CNNIndonesia.com melalui telepon, Senin (21/9).

Meski banyak yang tak suka dengan pemerintah, tetapi tak sedikit yang mendukung pemerintah. Bukan tidak mungkin Gelora bermanuver seperti itu dengan tujuan dapat dukungan dari pendukung pemerintah.

Menurut Hendri, apa yang dilakukan Fahri dan Anis adalah cara paling pragmatis dalam bermanuver di medan tempur politik demi mendulang dukungan.

"Ini cara pragmatis untuk bisa minimal muncul untuk tambah popularitas dia," katanya.

Hendri juga menduga Gelora bertekad mendapat dukungan dari kalangan muda. Bersaing dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang fokus mencari dukungan kalangan milenial.

Mantan Presiden PKS Anis Matta saat menjadi pembicara di acara halal bihalal bersama kaum milenial. Jakarta, Minggu 14 Juli 2019. Acara tersebut mengangkat tema sikap milenial pasca pilpres 2019 dan peran serta milenial dalam menciptakan lapangan kerja dan industri kreatif. CNN Indonesia/Andry NovelinoMantan Presiden PKS yang kini menjadi Ketua Umum Partai Gelora, Anis Matta dinilai tengah mencari dukungan pemerintah dengan mendukung putra dan menantu Presiden Jokowi di Pilkada Serentak 2020  (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Pengamat Politik dari LIPI Wasisto Rahardjo Jati mengungkapkan hal yang tak jauh berbeda. Menurutnya, langkah Fahri Hamzah dan Anis Matta mudah terbaca, yaitu bertujuan agar Partai baru ini mendapat akomodasi politik dari pemerintah.

"Misalnya berkesempatan diundang ke Istana untuk membahas isu-isu tertentu. Hal itu jelas akan menambah pamor partai baru ini, yang berusaha kritis-independen tapi juga konstruktif," kata dia.

Lagi pula menurut Wasis, jika Partai Gelora kritis terhadap pemerintah malah akan menjadi boomerang. Gelora, yang baru dibentuk, bakal semakin sulit meningkatkan popularitasnya.

"Tentunya, Gelora paham betul kalau menempuh di jalur yang sama, kans meraih simpati publik justru makin sempit karena dituntut adu kreativitas politik," kata dia.

Ihwal dukungan Gelora terhadap Gibran di Pilkada Solo dan Bobby di Pilkada Kota Medan, Wasisto menilai Gelora ingin memetakan kantong-kantong suara di beberapa daerah.

"Saya pikir ini bagian dari strategi politik bersayap. Mereka dukung itu karena sebagai bagian dari upaya mereka pula untuk memetakan kantong dan perilaku pemilih anak muda," katanya.



(tst/bmw/bmw)

[Gambas:Video CNN]