Longsor Gunung Salak, BNPB Tak Temukan Bekas Penebangan Liar

CNN Indonesia | Minggu, 27/09/2020 01:14 WIB
Tanah longsor di Gunung Salak, yang menyebabkan Kerusakan di sekitar Kabupaten Bogor, disebut tak terkait penebangan liar. Ilustrasi longsor di pegunungan. (Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut tanah longsor di Gunung Salak, Jawa Barat, yang memicu banjir bandang di sejumlah wilayah disebabkan oleh faktor cuaca. Sebab, tak ada temuan terkait penebangan liar.

Sebelumnya, tanah longsor terjadi di Gunung Salak yang dipicu, salah satunya, oleh hujan yang sangat lebat dengan angin kencang pada Senin (21/9). Hal itu menyebabkan banjir bandang di sejumlah wilayah.

Dikutip dari siaran persnya, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan hal itu memicu kerusakan di sejumlah wilayah. Misalnya, longsor yang menimpa rumah warga, musala, jembatan di Kampung Palalangon dan Kampung Loji, Bogor.


Berdasarkan laporan dari Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) Gunung Salak 1, kata dia, bencana ini diakibatkan oleh curah hujan tinggi yang menyebabkan debit air Sungai Cikedung meluap. Hal itu memicu longsoran di bibir sungai.

Hasil survei hulu Sungai Cikedung dan Cisereh di puncak Gunung Salak-3 juga menyebutkan terdapat longsoran di sepanjang bibir hulu sungai akibat hujan deras itu.

Hal itu berdasarkan pemantauan di Desa Pasirjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hingga jalur Sungai Cikedung dari hulu atau puncak Salak 3 sampai hilir (Palalangon).

"Pada pemantauan saat itu Tim Resort Salak-1 dan PSSEJ tidak menemukan adanya bekas penebangan liar. Bencana longsor akibat fenomena alam, kayu yang dibawa air sungai merupakan longsoran sepanjang aliran sungai," Raditya, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (26/9).

Pada saat kejadian, tinggi air sungai di hulu atau puncak Salak 3 cukup tinggi. Air terpecah di lokasi pesawahan dan ladang atau kebun masyarakat. Pada cuaca normal aliran air sungai sangat kecil, dan akan sangat besar pada saat hujan deras atau ekstrem.

"Luapan Sungai Cikedung juga dipicu oleh rusaknya jalur sungai, seperti pendalaman dan pelebaran jalur sungai, serta kerusakan lain di bagian hilir," imbuh Raditya.

Menyikapi laporan tersebut, Kepala BNPB Doni Monardo meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk mengingatkan masyarakat yang berada di bagian bawah dan di sekitar kawasan agar berhati-hati.

"Jangan sampai kena material longsor. Kalau ada yg berisiko, ambil langkah mengungsi selama musim hujan," ucapnya.

Dalam laporan yang diterima BNPB, Danramil Cijeruk dan babinsa wilayah setempat melakukan pengecekan ke lokasi.

Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak menutup mata terhadap keberadaan perusahaan tambang legal yang beraktivitas di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menyebut sejumlah perusahaan tambang legal beraktivitas di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS). (Foto: Dok. Istimewa (JATAM)

Masyarakat pun diimbau waspada dan siap siaga mengingat Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan peringatan dini cuaca, khususnya pada 26 dan 27 September 2020.

Bahwa, Jawa Barat termasuk salah satu wilayah dengan potensi hujan lebat yang diikuti dengan petir/kilat dan angin kencang, sedangkan pada 28 September 2020, potensi hujan masih dapat terjadi dengan disertai petir atau kilat dan angin kencang.

Diberitakan sebelumnya, banjir bandang juga menerpa 12 desa di tiga kecematan di Sukabumi. Daerah ini merupakan dataran rendah yang berada di bawah kaki Gunung Salak yang dilalui Sungai Citarik-Cipeuncit dan Sungai Cibojong.

(asa/arh)

[Gambas:Video CNN]