Banjir Bandang Sukabumi, 2 Warga Hanyut Ditemukan Meninggal

CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2020 14:31 WIB
Dua warga hanyut dalam banjir bandang di Sukabumi ditemukan dalam kondisi meninggal, sementara satu korban lainnya masih dalam pencarian. Sisa-sisa banjir bandang Sukabumi yang terjadi pada Senin (21/9). (Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dua korban hanyut dalam banjir bandang di wilayah Sukabumi, Jawa Barat, sejak Senin (21/9), ditemukan dalam kondisi meninggal. Satu warga lainnya masih dalam proses pencarian tim gabungan.

"Hingga pagi ini unsur tim SAR gabungan sudah menemukan dua orang meninggal yang hanyut oleh bencana banjir bandang yang terjadi di Sukabumi kemarin," ujar Kepala Kantor SAR Jakarta Hendra Sudirman dalam keterangan tertulis, Selasa (22/9).

Korban pertama atas nama Jeje (58), ditemukan di daerah Tenjo Jaya Lewuliar dalam keadaan meninggal dunia. Kemudian korban kedua atas nama Hasyim (70) ditemukan di daerang Parung Kuda dalam keadaan meninggal dunia. Sedangkan korban ketiga atas nama Anang (25) masih dalam pencarian.


"Tim rescue dari Pos SAR Sukabumi, langsung bergabung dengan tim yang berada di lokasi untuk melakukan pencarian terhadap korban," ucap Hendra.

Ketua Forum Koordinasi SAR Daerah FKSD Kabupaten Sukabumi Okih Fajri menambahkan bahwa korban terakhir yang ditemukan berada di di Sungai Luewilieur, Desa Tenjojaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi atau sekitar 10 km dari tempat kejadian musibah.

"Kondisi korban masih utuh dan segar, ada beberapa luka di bagian tubuhnya yang diduga saat terseret arus terbentu dengan benda keras lainnya seperti puing bangunan rumah, batang pohon dan bebatuan sungai," ujar dia, dikutip dari Antara.

Aliran Sungai Cibuntu, yang menjadi hulu banjir bandang tersebut, mengarah ke berbagai sungai di wilayah utara Kabupaten Sukabumi yang nantinya bermuara di Palabuhanratu. Lokasi jasad korban ditemukan merupakan satu aliran dengan sungai yang berada di Kecamatan Cicurug tersebut.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati menyatakan untuk sementara banjir bandang ini membuat 299 kepala keluarga (KK) terdampak, 210 jiwa mengungsi, dan 20 orang luka-luka.

"Mereka yang mengalami luka-luka sudah dirujuk ke rumah sakit," kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa (22/9).

Pemerintah Kabupaten Sukabumi, katanya, masih terus melakukan upaya penanganan darurat atas peristiwa itu. Selain itu, kata dia, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD bersama tim gabungan juga terus melakukan pencarian korban hilang.

"Tim gabungan bersama masyarakat bergotong royong membersihkan sisa lumpur akibat banjir bandang. Alat berat telah di turunkan guna melakukan pencarian korban dan membersihkan material lumpur," ucap dia.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, berdasar data dari TRC BPBD Sukabumi ada tiga kecamatan yang terdampak banjir itu, yakni Kecamatan Cicurug, Parung Kuda dan Cidahu.

"Pusdalops BNPB masih memonitor situasi pasca banjir bandang di tiga kecamatan terdampak," kata dia.

Di sisi lain, ia menyebut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), telah mengeluarkan peringatan dini cuaca wilayah Provinsi Jawa Barat pada 22 dan 23 September, di mana cuaca diperkirakan berpotensi hujan dengan disertai kilat atau petir dan angin kencang.

"Masyarakat diimbau selalu waspada terhadap potensi bahaya hidrometeorologi seperti angin kencang atau angin puting beliung, banjir, banjir bandang dan tanah longsor," kata dia.

Kepala Stasiun Klimatologi Bogor Abdul Mutholib menuturkan banjir bandang di Sukabumi ini didukung oleh kondisi angin, tekanan rendah, pemanasan pada pagi hingga siang, serta kelembaban yang basah, yang "mendukung suplai awan-awan hujan yang cukup signifikan di sepanjang Selat Karimata hingga Jawa Barat".

Infografis Langkah Selamat Saat Banjir(CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

Menurutnya pula, data curah hujan di sekitar Sukabumi dan Bogor menunjukkan telah terjadi hujan yang cukup merata dengan intensitas yang bervariasi ringan hingga sangat lebat pada sore hingga malam hari kemarin.

"Akumulasi curah hujan yang cukup tinggi dari hulu dengan durasi yang cukup lama berpotensi menyebabkan naiknya luapan air sungai, pada daerah dengan dataran yang cukup rendah hal ini berpotensi memicu terjadinya banjir bandang," ungkapnya.

Sebelumnya, hujan dengan intensitas tinggi membuat Sungai Citarik - Cipeuncit meluap pada Senin (21/9), pukul 17.00 WIB, dan memicu banjir bandang di sejumlah wilayah Sukabumi, Jawa Barat.

(hyg/yoa/Antara/arh)

[Gambas:Video CNN]