Balada Gerakan Mahasiswa, Menjaga Idealisme dari Jerat Kuasa

CNN Indonesia | Kamis, 29/10/2020 14:14 WIB
Sejumlah aktivis yang dulu lantang menyuarakan kritik dan mengorganisir massa, kini semakin nyaman dalam lingkaran kekuasaan. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kejatuhan rezim Orde Baru, salah satunya adalah buah dari gerilya aktivisme mahasiswa yang terentang sejak 1970-an hingga di 1990-an. Jalan panjang aktivisme tersebut mencapai puncaknya pada 1998, ketika gerakan mahasiswa berhasil menduduki Gedung Parlemen yang berujung mundurnya Presiden Soeharto.

Sejarah merekam derap aktivisme mahasiswa tersebut, termasuk bagaimana semangat perlawanan diturunkan dari generasi ke generasi melalui kaderisasi bawah tanah.

Demikian banyak aktivis mahasiswa dari masa ke masa, beberapa di antaranya muncul sebagai tokoh populer di panggung politik hari ini. Sebut saja Fahri Hamzah, Budiman Sudjatmiko, Fadli Zon, Fadjroel Rachman, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, Adian Napitupulu, Andi Arief, Desmond J Mahesa, Nezar Patria, Mugiyanto, dan sejumlah nama lain.


Pada dekade 80-an, nama Fadjroel dikenal karena sempat ditunjuk menjadi komandan lapangan dalam aksi long march sejauh 60 kilometer dari kampus ITB menuju Cicalengka, Bandung. Aksi Fadjroel dan kawan-kawan mahasiswa sempat dibubarkan dengan peluru karet polisi.

Kelompok mahasiswa Bandung bersama Fadjroel juga sempat menolak kedatangan Rudini yang kala itu menjabat Menteri Dalam Negeri di bawah Soeharto. Buntut aksi itu membawa ia dan rekannya ditangkap dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Sekarang Fadjroel menjabat juru bicara Presiden Joko Widodo.

Dekade 90-an ada Budiman Sudjatmiko dan kawan-kawan yang sempat divonis 13 tahun penjara setelah mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 1996 dan dituding menjadi dalang peristiwa penyerangan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta pada 27 Juli 1996. Budiman saat ini tercatat sebagai politikus PDI Perjuangan.

Sementara pendiri Partai Gelombang Rakyat (Gelora), Fahri Hamzah adalah mahasiswa Universitas Mataram yang turut membidani kelahiran Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Malang.

Bersama KAMMI, Fahri turut ambil bagian dalam melawan kediktatoran rezim Orba, dan mendukung BJ. Habibie menggantikan Soeharto.

Ada Nezar Patria, anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang ditangkap di sebuah rumah susun di Klender, Jakarta Timur. Nezar dan beberapa rekannya juga menjadi korban penculikan oleh Tim Mawar pada Maret 1998. 

Dalam wawancaranya dengan CNNIndonesia.com pada Mei 2016, Nezar menuturkan pengalamannya saat diculik Tim mawar pada petang 13 Maret 1998 silam.

Mantan jurnalis yang kini ditunjuk sebagai Direktur PT. Post Indonesia itu dijemput paksa oleh tentara dari kontrakannya di Rusun Klender. Dia disekap selama hampir tiga bulan di sejumlah lokasi bersama dua kawannya, Mugiyanto dan Aan Rusdianto. Mereka semua satu kontrakan dan aktivis SMID.

"Agaknya sudah menjadi takdir bagi seluruh aktivis prodemokrasi yang berjuang melawan politik kediktatoran Orde Baru untuk bersiap menghadapi penjara, intimidasi, teror dan berbagai bentuk penindasan yang sama sekali tak terbayangkan," tulis Nezar dalam pengantar testimoni kesaksiannya.

Selain Nezar, Fahri, Fadjroel, maupun Budiman, semua pihak yang mendaku sebagai aktivis politik di masa Orde Baru punya ceritanya masing-masing.

Tak sedikit masyarakat yang menaruh hormat kepada mereka karena dianggap telah membidani era baru bagi Indonesia, yakni era demokratisasi.

Demokratisasi pasca kejatuhan Orde Baru ditandai dengan kebebasan berpendapat di ruang publik; penghapusan dwi fungsi tentara; dan pemilu langsung dengan pembatasan periode kekuasaan.

Generasi '98 jadi angkatan paling dominan di kancah politik hari ini. Namun, pemerhati sosial dan politik, Ray Rangkuti menyebut saat ini label aktivis '98 tak memiliki definisi khusus.

Menurut dia, semua orang dapat mendaku sebagai aktivis karena terlibat dalam rangkaian proses penjatuhan Presiden Soeharto. Keterlibatan mereka dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Gerakan langsung biasanya dilakukan mahasiswa dengan cara mengorganisir massa dan aksi turun ke jalan atau berdemonstrasi. Sedangkan, gerakan tidak langsung dilakukan mahasiswa lewat penyampaian gagasan dalam tulisan untuk membangun wacana kontra pemerintah.

"Jadi semua, mereka atau mahasiswa kebetulan masih jadi mahasiswa, statusnya saat itu mereka yang terlibat dalam aksi-aksi gerakan mahasiswa, baik langsung ataupun tidak langsung ya itulah yang didefinisikan sebagai aktivis mahasiswa '98," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Minggu (25/10).

Oleh sebab itu, menurut Ray, semua orang bisa mengaku sebagai mantan aktivis '98. Bahkan, label aktivis '98 kerap diklaim oleh seseorang yang kiprahnya tak banyak terdengar di tahun-tahun itu.

Jerat Politik Praktis

Pasca Orba jatuh, satu dari sekian wacana yang kemudian lahir di antara para aktivis yakni, perdebatan mengenai kiprah mereka di dunia politik. Menurut Ray, wacana itu panas diperdebatkan karena mengingat trauma sejarah.

Trauma yang dimaksud merujuk pada pengalaman rekan-rekan aktivis generasi sebelumnya. Menurut Ray, para aktivis '98 kala itu menyesalkan generasi aktivis sebelum mereka yang tak membawa prinsip perubahan setelah masuk politik praktis dan berada di lingkaran kekuasaan.

Belajar dari sejarah itu, kata Ray, mereka kemudian memperdebatkan, apakah para aktivis boleh berkiprah di dunia politik pasca kejatuhan Soeharto.

"Apakah kita para aktivis ini terlibat aktif di dunia politik atau tidak. Kenapa? Mengingat ada trauma sejarah itu. Yang ada hanya mereka memperkuat, mempertebal, dan melindungi rezim Orde Baru. Kira-kira begitu." ungkap Ray.

"Trauma itu sebetulnya cukup berdengung, di kalangan aktivis '98 itu sehingga agak terlambat di dunia politik. Pada '99 itu kan rata-rata menahan diri semua," imbuhnya.

Puncak perdebatan itu kemudian dibahas dalam pertemuan di antara mereka pada 2004. Dalam sebuah pertemuan yang digelar di gedung Mahkamah Konstitusi, Ray mengaku dipercayai tanggung jawab mengumpulkan sekitar 200 mantan aktivis '98.

Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan bahwa para aktivis '98 tak haram aktif dalam politik formal.

"Nah, sejak saat itulah mulai tradisi aktivis 98 itu masuk ke dunia politik formal. Baik di tingkat nasional maupun di tingkat kabupaten kota, atau daerah itu," kata dia.

Ray menuturkan, masuknya para aktivis ke gelanggang politik praktis sebenarnya sempat menghadirkan asa perubahan sesuai cita-cita reformasi.

Wacana HAM yang kian menguat, terbentuknya lembaga-lembaga demokratis, hingga kebebasan berpendapat yang ikut terdorong sedemikian kuat. Namun, kian masuk dalam lingkar kekuasaan, Ray menilai para aktivis '98 belakangan justru memperlihatkan gelagat yang mengkhawatirkan.

Menurut dia para aktivis '98 yang saat ini bercokol di partai politik justru mengulangi kesalahan kelompok aktivis sebelum mereka.

Para aktivis saat ini ,baik di parlemen maupun pemerintah, menurut Ray sama sekali tak memiliki gagasan perubahan. Ia mengkritik mereka karena semakin terbelenggu partai.

Dalam banyak hal-hal penting, Ray menyebut para aktivis '98 justru lebih condong menyuarakan gagasan partai yang justru kerap menyakitkan bagi rakyat.

"Revisi UU KPK, MK, Minerba, Omnibus law. Contoh-contohnya lah itu. Kita enggak tahu mereka juga nggak bersuara soal dinasti politik yang makin marak, padahal itu menyalahi prinsip apa yang kita sebut sebagai arti KKN pada 98, katanya.

Aktivis mahasiswa hari ini, yang lantang menolak Omnibus Law Cipta Kerja, atau aktif mengorganisir dan memberikan pemahaman politik kepada rakyat, pantas belajar dari pengalaman generasi aktivis sebelum mereka agar tidak terjebak di lubang yang sama.

(thr/wis)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK