Rocky Tuding Jokowi Bohong, Irma Singgung Orba dan Marsinah

CNN Indonesia | Kamis, 22/10/2020 11:22 WIB
Rocky Gerung memberi nilai A untuk kebohonan di masa Jokowi-Ma'ruf, politikus Irma Chaniago menyebut Rocky bisa di-Marsinah-kan jika masih di zaman Orba. Rocky Gerung mengkritik kinerja setahun pemerintahan Jokowi-Ma'ruf. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti Perhimpunan Pendidikan dan Demokrasi Rocky Gerung memberi nilai A minus untuk kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Ma'ruf Amin dalam satu tahun pertama ini.

Sementara, politikus Partai NasDem Irma Suryani Chaniago menyebut Rocky bisa hilang jika RI masih ada di bawah kendali Presiden Soeharto.

Perang wacana itu disampaikan keduanya dalam tayangan Mata Najwa bertajuk 'Tahun Pertama: Jokowi-Mar'uf Sampai Dimana', Rabu (21/10) malam. Pada acara itu, selain Rocky dan Irma, hadir pula politikus PKS Mardani Ali Sera, politikus PDIP Aria Bima, Tenaga Ahli Utama KSP Dany Amrul Ichdan, serta Direktur Pusako Feri Amsari.


"Skor [satu tahun pemerintah Jokowi-Ma'ruf] A minus; A minus itu, A buat kebohongan, minus untuk kejujuran," kata Rocky dalam tayangan Mata Najwa bertajuk 'Tahun Pertama: Jokowi-Mar'uf Sampai Di mana?', di Trans7, Rabu (21/10) malam.

Rocky tak merinci apa saja kebohongan yang dilakukan Presiden Jokowi. Dia hanya bilang bahwa skor itu didasarkan dari survei yang dilakukan oleh salah satu media nasional. Bahwa, kepuasan publik terhadap pemerintah menurun.

"Kepuasan hilang. Padahal bulan Agustus saya masih baca SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) bikin polling, kepuasannya 60 persen, sekarang di bawah 50 persen. Ini tahun pertama lho, udah hilang itu (kepuasan) ," klaimnya.

"Itu artinya kalau di Eropa perdana menteri udah turun," lanjut Rocky.

Hasil survei SMRC pada 12-15 Agustus, 67 persen responden mengaku puas (60 persen cukup puas dan 7,4 persen sangat puas) dengan kinerja Jokowi. Sementara, 30,5 persen menyebut tak puas (27,1 persen kurang puas dan 3,1 persen tidak puas sama sekali).

Sementara, survei Indikator Politik pada 24-30 September mengungkapkan 60 persen responden percaya pada Jokowi (57,7 persen cukup percaya dan 3 persen sangat percaya); 24,1 persen kepercayaannya biasa saja; dan 14 persen tak percaya (2,7 persen tak percaya dan 1,8 persen sangat tidak percaya).

Pada kesempatan yang sama, Dany Amrul Ichdan mengatakan beberapa lembaga survei lain menyebut kepercayaan publik pemerintahan Jokowi justru naik, terutama di beberapa bulan terakhir.

"Memang di beberapa bulan masa pandemi memang sempat turun, tapi sekarang dengan komunikasi publik yang baik, penanganan Covid-19 dan PEN yang baik," kata Dany.

Terkait komunikasi publik pemerintah, Dany mengakui pada awal pandemi Covid-19 belum terintegrasi dengan baik. Namun, seiring berjalannya waktu pemerintah memperbaiki dan telah terstruktur.

"Cuma dari hari-hari kita perbaiki gap, sehingga beberapa survei menyatakan public trust terhadap pemerintah lebih baik," ujarnya.

Sementara itu, Irma Suryani Chaniago menyebut Rocky Gerung sudah hilang jika saja yang berkuasa saat ini adalah Pemerintahan Soeharto. Hal itu lantaran kritik dan cacian yang seringkali disampaikan Rocky kepada pemerintah.

"Rocky ini selalu berpersepsi dia seolah olah paling pintar, benar dan demokratis, padahal tahu enggak, kalau di zaman Soeharto, orang seperti Rocky ini udah hilang, orang seperti Feri [Amsari, pakar hukum tata negara] ini sudah hilang, udah enggak ada itu, udah di-Marsinah-kan orang dua ini," kata Irma, Rabu (21/10).

Marsinah merupakan aktivis buruh di era Orde Baru yang lantang menyuarakan kesejahteraan pekerja kerah biru. Ia hilang tiga hari sebelum jenazahnya ditemukan dengan bekas penganiayaan berat, pada 1993.

Infografis 5 Aksi Pembungkaman di InternetFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian

Namun demikian, Irma menyebut hal itu tidak terjadi di masa pemerintahan saat ini. Presiden Jokowi, kata dia, tidak terlalu ambil pusing dengan kritik dan caci maki yang diarahkan ke pemerintah.

"Kalau di zaman Jokowi, Rocky ini mencaci Jokowi, ya Jokowi tenang-tenang saja. Feri tadi ngomong seenaknya, Jokowi tenang-tenang saja. Itu kenapa? karena memang demokrasi kita ini sekarang sudah kebablasan, orang merasa dirinya paling pinter, paling bener, dan paling bersih," ucap dia.

(yoa/fra)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK