Meneropong Organisasi Pelajar Dulu dan Gerakan Masa Kini

CNN Indonesia | Selasa, 27/10/2020 13:19 WIB
Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda dimotori oleh organisasi mahasiswa. Pelopornya para pemuda, tak mengenal suku, etnis, ataupun kelas sosial. Ilustrasi. Organisasi mahasiswa disebut memiliki peran penting dalam pelaksanaan Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda. (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hari Sumpah Pemuda yang setiap tahun diperingati saban 28 Oktober, tidak lepas dari peran para pemuda yang saat itu mendambakan sebuah kemerdekaan.

Cikal bakal Sumpah Pemuda bermula dari pertemuan dan tukar gagasan pemuda yang tergabung dari pelbagai organisasi, baik organisasi kedaerahan, organisasi masyarakat ataupun organisasi pelajar. Saat itu Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia--organisasi pemuda beranggotakan pelajar di seluruh Indonesia--menggagas penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Dosen Departemen Sejarah Universitas Indonesia, Agus Setiawan mengatakan, pelbagai organisasi pemuda berperan besar dalam membangun semangat persatuan yang kemudian dirumuskan dalam sumpah pemuda.


Sejak berdirinya organisasi Budi Utomo pada 1908, semangat untuk mencapai kemerdekaan Indonesia mulai bangkit. Meskipun awalnya organisasi ini terbatas untuk kaum pelajar kedokteran yang bersekolah di Stovia--sekolah dokter kala itu. Namun pergerakannya kemudian kian masif untuk memajukan bangsa dan tanah air Indonesia.

Mengikuti Budi Utomo, organisasi kepemudaan mulai bangkit dengan berdirinya organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatrenan Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Minahasa dan organisasi dengan entitas kesukuan lainnya. Kendati, sejarawan menyebut di dalam organisasi itu tak secara khusus hanya diisi pemuda dari suku tertentu.

Penggagas Budi Utomo, Dr Wahidin Soedirohoesodo lalu mewariskan pemikiran tentang persatuan kebangsaan kepada generasi pemuda selanjutnya, seperti Mohammad Yamin, dan pelajar Stovia lainnya.

"Jadi 1908-1928 itu masih dalam satu generasi dan generasi di bawahnya. Orang-orang ini yang kemudian pada 1926 itu sudah makan asam garam kehidupan, mereka ingin merdeka dari kolonialisme Belanda," terang Agus kepada CNNIndonesia.com.

Infografis Rekam Jejak Gerakan Pemuda di Ranah Politik IndonesiaInfografis Rekam Jejak Gerakan Pemuda di Ranah Politik Indonesia. (CNN Indonesia/Fajrian)

Pada 1926, para pemuda dari berbagai organisasi lantas sepakat untuk menggelar pertemuan guna membahas satu wadah organisasi yang bisa menyatukan seluruh pemuda dari berbagai daerah dan organisasi. Pada Kongres Pemuda I itu juga dibahas penguatan organisasi kedaerahan untuk mencapai persatuan bangsa.

Angkatan pertama organisasi ini jadi pelopor gerakan kongres kepemudaan pertama pada 30 April-2 Mei 1926, dipimpin oleh Mohammad Tabrani Soerjowitjiro.

Meskipun demikian, Kongres Pemuda I dianggap belum mendapat hasil yang memuaskan bagi setiap golongan. Ini karena saat itu dianggap masih ada sekat antar-pemuda. Setiap perwakilan organisasi masih berorientasi pada satu aspek tertentu, misalnya pendidikan--seperti Taman Siswa--atau juga aspek sosial kedaerahan.

Pengaruh Ide Nasionalisme dari Eropa

Pada masa kolonialisme, tidak sedikit pelajar pribumi yang mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Eropa. Hal ini lah, yang menurut Agus, kemudian memicu semangat nasionalisme untuk bebas dari penjajahan di tanah air.

Para pelajar di luar negeri jadi berkaca pada perlawanan rakyat di beberapa negara Eropa. Kala itu, rakyat kecil ditindas oleh sistem kapitalisme dan kaum bangsawan. Kehidupan miskin dan sengsara di negara itu sedikit banyak mirip dengan yang terjadi di Indonesia pada masa kolonialisme Belanda.

Mereka yang bersekolah di luar negeri masih kerap berkontak dengan pelajar di Tanah Air. Proses tukar gagasan pun terjadi, kadang dengan berkirim majalah berbahasa Belanda atau juga berbalas surat berisi buah pikiran masing-masing.

Perkembangan tersebut membuat momen dan pandangan peserta Kongres Pemuda II menjadi berbeda dibanding saat Kongres Pemuda I.

"Jadi meskipun mereka mewakili organisasi kedaerahan, tapi pada Kongres Pemuda II, di kepalanya itu sudah banyak terkumpul informasi nasionalisme karena ada pengaruh dari pelajar Indonesia di luar negeri," ungkap Agus.

Maka pada Kongres Pemuda II yang digelar 27-28 Oktober 1928, para pemuda datang dengan ide dan cita-cita nasionalisme Tanah Air. Tekad mereka, adalah mewujudkan persatuan dan merdeka dari Belanda.

Kongres Pemuda II diinisiasi oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), dihadiri juga perwakilan pemuda dari organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatrenan Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dan lainnya.

Hadir pula beberapa perwakilan pemuda Tionghoa, seperti Oey Kang Siang, Liaw Tjon Hok, dan Tjio Djien Kwie, Kwee Thiam Hong (Jong Sumatrenan Bond), dan Djohan Mohammad Tjai (Jong Islametan Bond).

"Saya melihat ada satu benang merah, anggaplah angkatan pertama kaum pergerakan masih bercorak kedaerahan, dan hanya berorientasi pada aspek kehidupan tertentu, jadi gerakannya itu belum terfokus pada cita-cita kemerdekaan, tapi pada kongres kedua, mereka belajar banyak dari kaum pergerakan yang terutama vokal terhadap pemerintah kolonial," tutur Agus.

Kongres Pemuda II lantas menghasilkan ikrar pemuda yang kemudian menjadi landasan gerakan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Refleksi Gerakan Pemuda Masa Kini

Agus melihat ada satu kesamaan dari gerakan organisasi pemuda pada 1928 dan gerakan organisasi pemuda yang kerapkali muncul belakangan di Indonesia.

Selain sama-sama dari kelompok pemuda, gerakan tersebut juga timbul akibat kesamaan nasib atau rasa khawatir terhadap kondisi rakyat kecil.

Menurut Agus, pelajar Stovia kala itu bisa merasakan kesamaan nasib dan penderitaan yang dialami rakyat kecil ketika terserang wabah penyakit--seperti cacar, dan wabah pes di Malang.

Dr. Tjipto Mangunkusumo merupakan salah satu pelajar Stovia yang membantu mengobati rakyat miskin di Hindia kala itu. Ia lalu menyadari, pangkal penyebabnya adalah sistem kolonialisme. Penjajahan membuat rakyat miskin sehingga dengan mudah terserang penyakit.

"Dr. Tjipto itu diberi penghargaan Ratu Belanda saat itu karena bantuannya, tapi dia gak mau diberi penghargaan. Kenapa? Karena dia melihat wabah ini terjadi karena ada kolonialisme, dibuat miskin, dan akhirnya asupan nutrisinya itu sedikit, dia merasa kalau menerima penghargaan itu, kakinya akan berada di pihak orang-orang kolonialis," jelas Agus lagi.

Kondisi tersebut menurut Agus mirip dengan Indonesia di tengah pandemi infeksi virus corona (Covid-19). Kemunculan organisasi pemuda, baik dari kalangan mahasiswa, pelajar, ataupun organisasi masyarakat sipil boleh jadi dipicu kondisi rakyat yang mengkhawatirkan.

Di tengah wabah, masyarakat diminta untuk berdiam diri di rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Sedangkan pekerja harian atau buruh upahan, tidak punya pilihan untuk bisa bekerja dari rumah atau work from home seperti saran pemerintah.

Kelompok terpinggirkan itu masih harus bergelut dengan nasibnya sendiri-sendiri: tetap aman dari Covid-19 tapi tanpa penghasilan atau, keluar rumah untuk beroleh rupiah meski berisiko terpapar Covid-19.

Agus menduga, perasaan senasib ini yang memantik kembalinya gerakan kepemudaan--terlepas dari kepentingan sosial dan politiknya.

"Sekarang kalau kita lihat ada Ormas tertentu yang sangat peduli pada kelas bawah ini, yang tanpa Covid sekalipun mereka sudah sulit secara ekonomi. Perasaan senasib itu lah bisa jadi memunculkan semangat perlawanan untuk mendapat hidup yang lebih baik," pungkas Agus.

(mel/NMA)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK