Epidemiolog Soroti Kontradiksi Pemerintah soal di Rumah Saja

CNN Indonesia | Kamis, 29/10/2020 14:35 WIB
Epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono menyebut ada kontradiksi antara imbauan di rumah dengan langkah pemerintah menekan tiket pesawat jadi murah. Sejumlah kendaraan memadati ruas jalan jalur Puncak, Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (28/10/2020). (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono mengaku putus asa soal penyebaran kasus corona (Covid-19) di Indonesia yang diprediksi akan kembali mengalami ledakan akibat libur panjang selama lima hari hingga 1 November mendatang.

Pandu menyebut kebijakan pemerintah untuk menekan mobilitas warga jelang libur panjang justru saling kontradiktif. Misalnya, kata dia, imbauan Presiden atau menteri agar warga tetap diam di rumah justru kontradiksi dengan kebijakan tiket pesawat murah.

"Problemnya itu disadari. Presiden mengimbau. Semua mengimbau. Tapi di lain pihak menteri-menterinya memberikan kemudahan untuk imbauan itu tidak dipatuhi. Jadi, imbauan presiden disabotase oleh menterinya sendiri," kata Pandu lewat sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Kamis (29/10).


Pandu mengaku saat ini tak memiliki saran apapun dan menyerahkan semuanya pemerintah terkait penanganan Covid-19 di Indonesia. Namun, ia hanya mewanti-wanti agar potensi ledakan kasus Covid-19 nantinya bisa diiringi persiapan fasilitas yang memadai.

Ia memastikan kasus Covid-19 akan mengalami ledakan pascalibur panjang. Apalagi, pemerintah sejauh ini kata dia hanya melakukan imbauan untuk menekan mobilitas warga.

Upaya itu, menurut dia jelas tidak cukup. Sebab, imbauan itu justru diiringi kebijakan yang saling berkontradiksi.

"Ya nggak lah. Karena yang lebih menggiurkan itu kan tiket pesawat dikurangi, didiskon. Airport tax dihapuskan. Itu kan antara, yang satu bener dikerjain, yang satu imbauan, lebih kuat mana? Lebih kuat yang harga tiket makin murah kan," kata Pandu.

"Jadi memang ada unsur kesengajaan untuk membiarkan masyarakat bergerak," imbuhnya.

Berkaca dari sejumlah peristiwa sebelumnya, Pandu menyebut momen liburan dipastikan bakal diiringi dengan lonjakan kasus Covid-19 yang eksponensial. Saat libur pertengahan September lalu misalnya, Bali mengalami lonjakan kasus Covid-19 mencapai 100 persen.

Penambahan itu, lanjut Pandu, diiringi dengan penambahan kasus corona di 9 provinsi, sebelum kemudian Jokowi menunjuk Luhut Binsar Panjaitan untuk mengatasi masalah tersebut.

"Bukan hanya bali tapi di 9 provinsi terjadi peningkatan kasus sehingga Pak Luhut disuruh menangani masalah itu, itu kan akibat dari liburan panjang," kata dia.

Sementara itu, epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menyarankan pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar terus meningkatkan strategi 3T-Tracing (penelusuran, testing (pengujian), dan treatment (perawatan)-untuk menekan lonjakan kasus Covid-19.

Upaya itu, kata Dicky, harus terus dilakukan hingga angka positivity rate (rasio positif) mencapai angka atau di bawah 5 persen. Dia menyebut, kasus suspek di Indonesia saat ini terus mengalami kesenjangan dari jumlah kasus positif dengan angka mencapai lebih dari 160 ribu.

Dicky mencatat, ledakan kasus mencapai 80 persen pada dua momen libur panjang sebelumnya, yakni 23 Mei - 17 Agustus lalu. Kenaikan itu, kata dia, terutama terlihat sebulan pascamomentum libur.

Ledakan, lanjutnya, juga akan terjadi pada momen liburan panjang kali ini. Bahkan, ia memprediksi persentase kenaikan kasus buntut libur panjang saat ini mencapai 75-85 persen, dengan asumsi tidak ada perubahan dalam strategi 3T dan 3M.

"Ini bahaya sekali. Ketika terjadi ledakan (kasus Covid-19), akan menimpa kapasitas fasilitas kesehatan. Kondisinya akan sangat chaos," kata dia.

(thr/ain)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK