TNI Minta Investigasi Penembakan Tak Hanya Fokus ke Yeremia

CNN Indonesia | Selasa, 03/11/2020 18:14 WIB
Kepala Penerangan Kogabwilhan III menyatakan penembakan di Intan Jaya adalah serangkaian kejadian yang turut menewaskan tiga warga sipil dan dua anggota TNI. Ilustrasi penembakan. (Istockphoto/ra-photos)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Penerangan Kogabwilhan III TNI Kolonel Czi IGN Suriastawa meminta agar pihak-pihak yang ikut melakukan investigasi tak hanya berfokus pada kasus penembakan yang mengakibatkan Pendeta Yeremia Zanambani meninggal di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua pada September lalu.

Suriastawa menyatakan ada serangkaian kejadian penembakan yang telah menewaskan lima orang baik dari sipil maupun TNI sepanjang September lalu.

"Rangkaian kejadian di Intan Jaya itu menelan lima korban jiwa, tiga warga sipil dan dua TNI," kata Suriastawa melalui keterangan resmi, Selasa (3/11).


Suriastawa mengatakan pemerintah melalui Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Intan Jaya pada awal Oktober lalu telah melakukan investigasi untuk mengusut rangkaian kejadian yang menewaskan lima orang tersebut. Mereka, katanya lagi, tak hanya fokus pada kejadian yang menewaskan Pendeta Yeremia.

Oleh karena itu, Suriastawa pun mengingatkan, agar tim lain di luar TGPF Intan Jaya juga melakukan hal serupa dan tak hanya fokus pada kejadian yang menewaskan tokoh agama tersebut.

"Jangan hanya fokus pada satu kasus dan mengenyampingkan kasus lainnya, karena ini adalah satu rangkaian kejadian," kata Suriastawa.

"Dikesampingkannya seluruh fakta dari rangkaian kejadian ini, akan mengaburkan masalah yang paling mendasar yaitu keberadaan gerombolan kriminal bersenjata, sumber masalah di Papua ini," tambahnya.

TGPF sendiri telah mengumumkan hasil temuannya melalui Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. Dari hasil temuan itu, Mahfud menyebut ada kemungkinan keterlibatan aparat atas meninggalnya tokoh agama tersebut.

Namun bersamaan dengan itu, Mahfud juga mengumumkan empat orang lain yang tewas sepanjang September lalu adalah ulah KKSB-OPM atau kelompok kriminal bersenjata di Papua.

Di sisi lain, Tim Independen Kemanusiaan yang diketuai Haris Azhar juga mengumumkan temuan hasil investigasinya. Berbeda dengan rekomendasi TGPF, hasil investigasi tim yang beranggotakan para aktivis ini menyebut dengan detail uraian kejadiannya, waktu, tempat bahkan nama-nama pelaku dalam kejadian yang telah menewaskan Pendeta Yeremia.

Haris dalam keterangannya menyebut, penembakan Yeremia berawal dari insiden yang terjadi pada 17 September 2020. Kala itu, terjadi baku tembak antara personel TNI di kawasan Sugapa Lama dengan komplotan OPM. Insiden itu mengakibatkan 1 orang anggota TNI tewas dan 1 senjata laras panjang diambil OPM.

Menanggapi temuan tim Haris tersebut, Ketua Tim Investigasi Lapangan TGPF Intan Jaya, Benny Mamoto menyatakan pihaknya memiliki temuan lebih lengkap.

"Temuan TGPF lebih lengkap karena narasumbernya termasuk anggota Polri (termasuk penyidik) dan anggota TNI, di samping keluarga korban dan tokoh agama, tokoh masyarakat," kata Benny lewat pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Kamis (29/10).

Selain itu, pria yang juga Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) itu mengatakan TGPF Intan Jaya tak berhak menyebutkan nama pihak-pihak yang terlibat.

Dia menegaskan bahwa TGPF hanya bertugas mengumpulkan informasi atau data di lapangan. Semua data itu sudah diserahkan kepada Panglima TNI, Kapolri, KSAD, Kepala BIN serta Mendagri untuk ditindaklanjuti.

(tst/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK