Beda Nasib Mantan Sejoli Prabowo-Sandiaga Usai Pilpres 2019

CNN Indonesia | Jumat, 06/11/2020 17:46 WIB
Prabowo Subianto menjadi menteri dengan kinerja terbaik berdasarkan hasil survei. Sementara elektabilitas Sandiaga Uno cenderung makin menurun. Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno saat memberikan keterangan pers terkait putusan MK tentang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2019 di Jakarta, Kamis (27/6/2019). (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --

"Saudara Sandiaga Uno merupakan pilihan terbaik yang ada," kata Prabowo Subianto saat mengenalkan Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden jelang Pilpres 2019 lalu.

Prabowo-Sandi memang pernah sangat mesra karena keduanya merupakan pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2019. Namun, mereka tak mujur.

Pasangan ini kalah dari lawannya, Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Prabowo-Sandi hanya meraih 44,50 persen suara. Sementara Jokowi-Ma'ruf unggul 55,50 persen.


Selepas pilpres, peta perpolitikan di Indonesia berlangsung dinamis. Prabowo dan Sandiaga mengambil jalan yang berbeda. Prabowo memilih bergabung dan menjadi Menteri Pertahanan di Kabinet Indonesia Maju Jokowi-Ma'ruf.

"Demi kepentingan nasional saya diminta masuk dan saya bilang oke," kata Prabowo Oktober 2019 lalu.

Langkah Prabowo bergabung dengan kabinet Jokowi kala itu sempat menuai kritik dan kekecewaan dari sebagian pendukungnya. Salah satunya, Persaudaraan Alumni (PA) 212. Kelompok ini termasuk salah satu motor utama penggerak pendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019.

Di sisi lain, Sandiaga memilih menjaga jarak dari kekuasaan. Meski demikian Sandi masih kerap muncul untuk merespons isu-isu nasional.

Prabowo tak ambil pusing dengan kekecewaan dan kritik para pendukungnya saat itu.

"Saya putuskan saat itu untuk mengambil langkah besar rekonsiliasi nasional dengan mengesampingkan kepentingan partai, perasaan pribadi dan segala sesuatu yang menjadi pikiran kita saat itu," kata Prabowo dalam sebuah video yang dipublikasi akun Twitter @Prabowo, 22 April lalu. 

Menteri Terbaik

Sikap Prabowo itu pun perlahan mulai berbuah manis. Satu tahun pemerintahan Jokowi berjalan, kerja Prabowo sebagai menteri pertahanan mulai mendapat sorotan.

Dia menggerakkan sejumlah rencana dan program. Mulai dari rencana pembelian alat utama sistem pertahanan (alutsista) hingga menjadi komando dalam program lumbung pangan nasional (Food Estate) telah menyibukkan agenda keseharian Prabowo belakangan ini.

Kerja-kerja tersebut pun mendapat pengakuan positif. Setidaknya berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga yang menempatkan Prabowo sebagai menteri dengan kinerja terbaik di Kabinet Indonesia Maju.

Menhan Prabowo Subianto (kiri) bersama Kepala Bakamla Laksdya Bakamla A Taufiq R (tengah) dan Menlu Retno Marsudi menyapa wartawan seusai konferensi pers terkait kasus Natuna di Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (3/1/2020). Pemerintah Indonesia menyatakan tidak akan pernah mengakui klaim sepihak China atas teritorial di bagian laut Natuna yang disebut Nine Dash Line seusai peristiwa masuknya kapal nelayan dan Coast Guard China pada akhir Desember 2019. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww.Menhan Prabowo Subianto (kiri) saat menyapa wartawan seusai konferensi pers di Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (3/1/2020). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Hasil survei Indo Barometer yang digelar 10-17 Oktober 2020 pun menunjukkan hampir 30 persen responden menyebut Prabowo sebagai menteri yang menunjukkan kinerja terbaik selama satu tahun pemerintahan.

Indo Barometer mencatat ada 17 alasan publik dalam menilai kinerja Prabowo. Alasan paling populer adalah jiwa kepemimpinan yang bagus (22,5 persen), keputusannya tegas dan lugas (19,1 persen), serta mampu menjaga keamanan (11 persen).

Sebelumnya, Juli 2020, Survei Charta Politika Indonesia menempatkan Prabowo di peringkat teratas daftar menteri kinerja terbaik, dengan angka 12.8 persen. Prabowo mengalahkan Menkeu Sri Mulyani (11,5 persen), Menteri BUMN Erick Thohir (5,8 persen), dan Menko Polhukam Mahfud MD (4,6 persen).

Sebulan kemudian, Agustus 2020, lembaga Akurat Poll menyebut Prabowo sebagai menteri dengan nilai terbaik di jajaran Kabinet Indonesia Maju berdasarkan survei pada 15-24 Juli 2020.

Prabowo berada di urutan pertama dengan nilai 6,57. Kemudian disusul Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan skor 6,44; Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dengan skor 6,25; Menteri BUMN Erick Thohir dengan skor 6,24.

Direktur Akurat Poll, Adlan Nawawi mengatakan proses pengambilan data dilakukan secara wawancara tatap muka langsung menggunakan kuisioner.

Tak hanya soal kinerjanya sebagai menteri yang 'dipuji' lembaga survei, Prabowo bahkan 'dinobatkan' mendapat elektabilitas tertinggi sebagai calon presiden di Pilpres 2024 menurut hasil survei.

Setidaknya ada lima lembaga survei telah menyatakan bahwa Prabowo sebagai sosok dengan elektabilitas tertinggi jika berkompetisi di Pilpres 2024. Indo Barometer pada Februari lalu menyatakan Prabowo adalah calon presiden terkuat dengan elektabilitas mencapai 22,5 persen.

Selain itu, hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Cyrus Network menunjukkan Prabowo mendapatkan elektabilitas tertinggi yakni 18,7 persen (Maret 2020), New Indonesia Research & Consulting (elektabilitas 18,9 persen pada Juni 2020), Charta Politica (17,5 persen pada Juli 2020) dan Indikator Politik (16,2 persen pada Juli).

Elektabilitas Sandiaga

Berbeda dengan Prabowo yang terbilang moncer, eksistensi Sandiaga Uno usai Pilpres 2019 perlahan mulai memudar. Salah satu indikasinya adalah hasil survei terhadap Sandi.

Elektabilitas Sandiaga pernah berada di urutan teratas pada survei yang dilakukan Cyrus Network, Januari 2020 lalu. Kala itu, Sandiaga mendapatkan elektabilitas sebesar 18,8 persen. Posisinya berada di posisi kedua setelah Prabowo.

Namun, lambat laun elektabilitas Sandiaga cenderung menurun, setidaknya berdasarkan hasil survei yang dikeluarkan empat lembaga.

Politikus Gerindra Sandiaga Uno memberikan keterangan pada wartawan di kediamannya. Jakarta, Kamis, 17 Oktober 2019.Politikus Gerindra Sandiaga Uno memberikan keterangan pada wartawan di kediamannya, Jakarta, Kamis, 17 Oktober 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Indo Barometer misalnya, pada Februari 2020 menyatakan elektabilitas Sandiaga hanya berkisar 8,1 persen. Posisinya berada di urutan 3 di bawah Prabowo dan Gubernur DKI Anies Baswedan.

Lalu, survei Charta Politika dan Indikator Politik sama-sama menunjukkan elektabilitas Sandiaga terpental dari posisi 3 besar tokoh yang berpeluang menang di Pilpres 2024. Charta Politika yang melakukan survei pada Juli 2020 menunjukkan elektabilitas Sandiaga hanya 11,2 persen. Ia kalah dari Prabowo, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan.

Sementara survei Indikator Politik yang dilakukan Juli 2020 menunjukkan elektabilitas Sandiaga hanya 9,2 persen. Elektabilitasnya kalah dibanding Ganjar, Anies dan Prabowo di posisi 3 besar.

Dengan elektabilitas yang masih diperhitungkan pasca Pilpres, belakangan santer beredar isu Sandi didekati oleh PPP dan Perindo yang ingin meminangnya untuk mengisi kursi strategis di partai tersebut.

Sejumlah sumber CNNIndonesia.com membeberkan bahwa pimpinan kedua partai itu sudah bertemu dan menawarkan jabatan strategis untuk Sandi demi pemenangan Pemilu dan Pilpres 2024.

Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Kunto Adi Wibowo mengatakan wacana Sandiaga menjadi ketum parpol, baik PPP maupun Perindo, karena peluang Sandiaga bisa maju kembali dalam Pilpres 2024 cukup kecil bila tetap bertahan di Partai Gerindra.

Terlebih Gerindra dan PDIP sangat mesra pasca-penyelenggaraan Pilpres 2019. Posisi Sandi yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra sendiri belum cukup strategis untuk mengamankan diri maju di Pilpres 2024.

"Ini sulit posisi Sandi apalagi untuk 2024 hitungan politiknya belum jelas, tapi politik enggak sebatas di atas kertas. Peluang Sandi di Gerindra ada, walau tidak besar, karena selama Prabowo di Gerindra akan susah," kata Kunto.

Meski demikian, anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Andre Rosiade mengklaim partainya belum memfokuskan diri untuk menyiapkan kader sebagai calon presiden di Pemilihan Presiden 2024.

Andre menerangkan bahwa masalah capres dari Gerindra akan dibahas dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang digelar pada 2023 mendatang. 

"Capres belum ada, sekarang saatnya bekerja," ucap Andre kepada CNNIndonesia.com, Kamis (5/11).

(rzr/pmg)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK