ANALISIS

Fanatisme Pendukung Rizieq di Balik Lumpuhnya Bandara Soetta

CNN Indonesia | Rabu, 11/11/2020 07:27 WIB
Sosiolog mengungkapkan, meluapnya massa yang menyambut Rizieq Shihab pulang dilatarbelakangi fanatisme. Sejumlah momen politik ikut menyumbang situasi ini. Pemimpin Front Pembela Islam FPI, Muhammad Rizieq Shihab. (Foto: AP/Achmad Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang lumpuh pada Selasa (10/11) jelang kepulangan Pemimpin FPI, Muhammad Rizieq Shihab. Sebagian publik dibuat heran akan alasan ribuan orang yang rela datang sejak Senin (9/11) untuk menyaksikan kedatangan seorang pimpinan ormas Islam.

Seluruh akses menuju Bandara Soetta telah ditutup sejak Senin (9/11) malam. Massa dari berbagai daerah yang hendak menjemput Rizieq tertahan di berbagai ruas jalan menuju bandara.

Pagi harinya, akses masih ditutup. Kendaraan bermotor tak bisa masuk area bandara. Para pengikut Rizieq tak habis akal. Mereka berjalan kaki 5-10 kilometer untuk masuk ke bandara.


Wahidin, warga Palmerah, rela jalan kaki sekitar 5 kilometer sejak pagi. Ia meninggalkan sepeda motornya di pinggir jalan. Tujuannya cuma satu: melihat kedatangan Rizieq Shihab.

Simpatisan lain, Yusuf, rela datang dari Sukabumi sejak Senin (9/11). Bahkan ia menginap di dalam mobil, di pinggir jalan, agar tak telat menjemput Rizieq.

Di pintu kedatangan internasional Terminal 3 Bandara Soetta, massa menyemut sejak pagi. Ribuan orang berdesakan mengepung pintu keluar. Arahan pihak keamanan pun diabaikan.

Imam Besar Front Pembela Islam  (FPI) Rizieq Shihab di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (10/11).Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (10/11). (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)

Sekitar pukul 09.30 WIB, Sang Habib menampakkan diri. Massa pun berebut mendekat, sekadar ingin menyapa dan cium tangan. Sebagian menitikkan air mata menyaksikan kehadiran Rizieq setelah 3 tahun terpisah.

Peneliti sosial LIPI Amin Mudzakkir berpendapat aksi para simpatisan Rizieq di Bandara Soetta dilatarbelakangi fanatisme. Para jemaah mencurahkan kecintaannya secara besar kepada junjungan mereka, Rizieq.

Fanatisme itu, kata Amin, telah terbangun sejak lama. Namun kisah Rizieq "diasingkan" ke Saudi menjadi penyulut membesarnya fanatisme tersebut.

"Setelah beliau hampir tiga tahun exiled (terasingkan) di Arab Saudi, maka kecintaan para pendukungnya akan semakin berlipat ganda. Apalagi diimbuhi dengan berbagai macam mitos atau pesan seolah-olah beliau disingkirkan dari Indonesia secara sengaja," kata Amin kepada CNNIndonesia.com, Selasa (10/11).

Amin menilai sosok Rizieq melekat pada para pendukungnya lantaran mendobrak pakem lama kaum hadrami atau keturunan arab. Hadrami, khususnya sayyid atau keturunan Rasulallah SAW, biasanya fokus berkiprah di bidang keagamaan.

Rizieq tampil beda dengan menambahkan penekanan pada sisi politik Islam. Ia bahkan sering terlibat dalam momen elektoral, misalnya di Pemilu 2014, Pilkada DKI 2017, dan Pemilu 2019.

"Habib Rizieq mampu merespons dengan karakter yang unik, agresif, tajam. Bagi sebagian orang yang punya semacam ketidakpuasan, menemukan salurannya lewat Habib Rizieq," papar Amin.

Dihubungi terpisah, guru besar riset sosiologi LIPI Endang Turmudzi melihat fanatisme muncul karena Rizieq mampu menjawab kebutuhan sebagian umat Islam akan sosok junjungan.

Endang menyebut sosok tokoh yang ada, termasuk di kalangan parpol Islam, dianggap tak mampu memperjuangkan keresahan umat Islam. Sementara ulama karismatik seperti Rizieq muncul dan terlihat sebagai kalangan yang murni.

"Umat Islam kita masih mengandalkan karisma. Jadi kalau ada orang yang berkarisma, akan diikuti apapun perintahnya," kata Endang kepada CNNIndonesia.com, Selasa (10/11).

Infografis Jejak Tiga Tahun Rizieq di Arab SaudiInfografis Jejak Tiga Tahun Rizieq di Arab Saudi. (Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen)

Tumbangnya Ahok, Kebangkitan Rizieq

Amin pun mengurai, fanatisme atas Rizieq tak lepas dari proses elektoral dan polarisasi yang berkembang di Indonesia. Kiprah Rizieq mulai menanjak setidaknya pada Pilpres 2014, ketika polarisasi berbasis agama menguat.

Tiga tahun kemudian, ada Pilkada DKI 2017 yang juga kental dengan politik identitas. Rizieq punya andil besar dalam pertarungan politik tersebut.

"Peristiwa penggulingan Ahok, 212 itu. Jelas beliau sosok kuncinya," tutur Amin.

Sepakat dengan Amin, Endang juga menyebut Pilkada DKI 2017 jadi momen emas Rizieq. Ia bilang saat itu spirit berislam, setidaknya di Jakarta, sedang memuncak.

Rizieq hadir sebagai pimpinan Ormas Islam yang diperhitungkan di DKI, Front Pembela Islam.

Ia lantas bertemu dengan momen Pilkada DKI yang diwarnai aksi SARA petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Fanatisme pun tumbuh subur.

"HRS berhasil mendudukkan dirinya sebagai ulama yang menjanjikan atau membawa semangat Islam tadi, untuk memperjuangkan harapan mereka (simpatisan)," kata Endang.

[Gambas:Video CNN]

(dhf/nma/NMA)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK