Istana Akui Tak Mudah Tangkap Kelompok MIT Ali Kalora

CNN Indonesia | Selasa, 01/12/2020 18:50 WIB
Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengatakan medan pegunungan mempersulit penangkapan kelompok MIT pimpinan Ali Kalora. Kepala Staf Kepresiden Moeldoko. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pihak Istana Kepresidenan mengakui upaya menangkap kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Ahmad alias Ali Kalora bukan perkara mudah. Kelompok Ali Kalora sebelumnya diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan satu keluarga di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu.

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengatakan Operasi Tinombala yang dimulai sejak 2015 itu menemui sejumlah kendala dalam upaya menangkap kelompok MIT. Sejumlah kendala itu di antaranya area hutan dan pegunungan yang dimanfaatkan pelaku sebagai tempat persembunyian.

"Kalau kita gambarkan di sini mungkin, kok susah amat sih enggak bisa diberesin, tapi kalau teman-teman melihat medannya di sana yang gunungnya itu berlapis-lapis seperti itu memang tidak mudah," kata Moeldoko dalam rekaman suara yang dibagikan KSP kepada wartawan, Selasa (1/12).


Saat ini, kelompok teroris yang dipimpin Ali Kalora itu menyisakan 10 anggota. Namun demikian, jumlah mereka yang sedikit, menurut eks Panglima TNI itu justru membuat pencarian semakin sulit.

Moeldoko mengatakan para anggota MIT itu dapat membaur dengan masyarakat dan memiliki manuver yang cepat. Mereka, kata Moeldoko, juga sudah memahami seluk beluk daerah pegunungan di sana.

"Itu juga salah satu kesulitan yang dihadapi pasukan yang diturunkan ke sana," tutur Moeldoko.

Kendati begitu, Moeldoko mengakui saat ini Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto telah menerjunkan pasukan khusus TNI untuk menghadapi itu semua.

Selain itu, Moeldoko mengatakan operasi pemberantasan kelompok Ali Kalora ini butuh kerja sama antara TNI dan kepolisian. Sejauh ini, Operasi Tinombala merupakan operasi kepolisian, sementara TNI sifatnya hanya diperbantukan.

"Kepolisian juga punya keterbatasan, ada batas kemampuan untuk menghadapi situasi medan yang seperti itu," ujar Moeldoko.

"Maka sesungguhnya di sini kalau kita berbicara tentang terorisme, tidak saja sekarang yang ada di kota, tapi terorisme juga berada di wilayah-wilayah seperti itu, maka semuanya ya kolaborasi antara TNI dengan kepolisian yang lebih baik lagi itu diperlukan," kata dia menambahkan.

Sebelumnya, satu keluarga yang terdiri atas empat orang di Dusun Lepanu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah tewas dibunuh. Pelaku pembunuhan diduga kuat dari kelompok teroris pimpinan Ali Kalora.

Keempat korban yang dibunuh adalah Yasa alias Yata sebagai kepala rumah tangga, Puni, Nata alias Papa Jana alias Naka dan Pedi. Selain itu, para pelaku turut membakar tujuh rumah warga dalam aksinya.

(dmi/pmg)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK