Anak dari Penggugat UU Larangan Ganja ke MK Meninggal Dunia

CNN Indonesia
Senin, 28 Dec 2020 14:09 WIB
Anak dari ibu penggugat UU Narkotika yang melarang penggunaan ganja untuk medis di MK meninggal dunia karena cerebal palsy. Ilustrasi. Anak dari ibu penggugat soal UU larangan ganja untuk medis di MK meninggal dunia. (Foto: Istockphoto/PeopleImages)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anak dari salah satu pemohon gugatan pelarangan ganja dalam UU Narkotika di Mahkamah Konstitusi (MK) meninggal dunia akibat mengidap kelainan otak cerebral palsy, pada Sabtu (26/12).

"Setelah mendapatkan konfirmasi lengkap, kabar duka datang dari salah satu pemohon uji materil pasal pelarangan narkotika untuk pelayanan kesehatan, Musa," demikian diumumkan Koalisi Advokasi Narkotika untuk Kesehatan dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (28/12).

Musa adalah anak dari pasangan Hassan Pedersen dan Dwi Pertiwi, salah satu pemohon dalam gugatan UU Narkotika di MK. Musa meninggal setelah 16 tahun menderita cerebral palsy, keadaan lumpuh otak akibat perkembangan otak yang tidak normal.


Dalam rilisnya, Koalisi Advokasi Narkotika untuk Kesehatan menyebut kondisi Musa adalah titik awal yang melatarbelakangi mereka menginisiasi pengajuan permohonan uji materil UU Narkotika pada 19 November lalu.

Sakit yang dialami Musa bermula dari penyakit pneumonia yang dideritanya sejak bayi. Saat berusia 40 hari, peneumonia yang dialami Musa kemudian menjadi meningitis yang menyerang otak akibat kesalahan diagnosa dan tindakan medis.

Kondisi Musa sempat membaik saat satu bulan menjalani pengobatan dan terapi ganja di Australia pada 2016 silam. Kala itu, Musa disebut tak lagi mengalami kejang akibat sakitnya.

Namun, ia tak lagi bisa menjalani terapi tersebut sepulang ke Indonesia karena terbentur UU yang melarang penggunaan narkotika untuk medis.

Pada 2017, UU itu juga sempat menjerat seorang bernama Fidelis saat berupaya mengobati penyakit langka, syringomyelia, yang diderita istrinya.

Menurut koalisi, risiko serupa tidak dapat diambil oleh Dwi, ibu Musa, sehingga pengobatan ganja terhadap anaknya terpaksa harus dihentikan. Hingga Musa akhirnya meninggal dunia pada 26 Desember lalu.

Infografis 7 Manfaat dan Bahaya GanjaInfografis 7 Manfaat dan Bahaya Ganja. (Foto: CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)

Musa meninggal dunia setelah kondisi fisiknya menurun karena berjuang melawan sesak napas akibat produksi phlegm atau dahak yang lebih banyak dari biasanya. Phlegm disebut menghambat asupan oksigen ke dalam paru-paru Musa.

"Kami merasakan duka yang teramat dalam atas meninggalnya Musa, anak pemberani yang memberikan kami alasan dan semangat untuk terus berjuang," ujar koalisi.

Sebelumnya, tiga orang ibu dari anak dengan gangguan pada otak menguggat poin pelarangan ganja dalam UU Narkotika ke MK.

Merujuk berbagai penelitian internasional telah membuktikan manfaat kesehatan dari ganja. Bahkan di berbagai negara penggunaannya sudah dilegalkan untuk kepentingan kesehatan.

Dwi Pertiwi, sebagai salah satu pemohon memberi pengobatan ganja setiap hari kepada anaknya ketika di Australia. Namun pengobatan tak bisa dilanjutkan karena ganja ilegal di Indonesia.

Dalam Pasal 6 ayat (1) dan Pasal 8 ayat (1) UU Narkotika itu mengatur tiga macam narkotika yakni golongan I, II, dan III. Dijelaskan bahwa narkotika golongan I berupa ganja dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.

(thr/psp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER