Epidemiolog: Pfizer dan AstraZeneca Belum Tentu Aman

CNN Indonesia | Rabu, 30/12/2020 10:02 WIB
Epidemiolog mengingatkan, meski 3 kandidat vaksin Covid-19 telah memiliki klaim efikasi tapi untuk digunakan di Indonesia tetap harus melalui uji coba. Ilustrasi vaksin Covid-19. (Foto: AP/Hans Pennink)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Masdalina Pane mengatakan tiga kandidat vaksin Covid-19 yang rencananya digunakan di Indonesia belum tentu aman untuk masyarakat.

Tiga kandidat vaksin Covid-19 tersebut antara lain Pfizer, AstraZeneca, dan Novavax. Pfizer dan AstraZeneca memiliki klaim efikasi atau keampuhan yang tinggi, yakni lebih dari 70 persen untuk Astrazeneca, dan 90 persen untuk Pfizer. Sementara Novavax, belum mengklaim efikasi.

Namun meski klaim efikasi ketiga vaksin tergolong tinggi, belum tentu vaksin Covid-19 tersebut aman dan ampuh untuk melawan virus corona yang berkembang di masyarakat Indonesia, sebab belum ada data uji klinis yang mengikutsertakan masyarakat Indonesia.


"Mestinya diuji coba dulu di Indonesia baru bisa dikatakan aman, kalau hanya pakai referensi [data pasca vaksinasi] negara lain, saya no comment," kata Masdalina saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (30/12).

Masdalina juga menyinggung soal Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang mungkin akan terjadi di Indonesia setelah melakukan vaksinasi Covid-19.

Diketahui vaksin Pfizer sempat menunjukkan KIPI berat kepada orang yang sudah disuntik, saat vaksinasi Covid-19 di Inggris. Tidak menutup kemungkinan KIPI juga bakal terjadi di Indonesia ketika vaksin Covid-19 yang sama digunakan.

"Publikasi mereka cukup aman walaupun ada 2 kasus KIPI sedang dan berat pada Pfizer di Inggris, tapi untuk melawan mutasi virus belum ada evidence-nya, semua sedang menanti perkembangan Covid-19 di Inggris juga," jelas Masdalina.

"KIPI itu bisa saja terjadi, meskipun vaksinnya sudah diuji coba di Indonesia, kemungkinan selalu ada," imbuh Masdalina.

Sementara itu, Ahli Biologi Molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo menjelaskan, vaksin Covid-19 semestinya tetap ampuh mendeteksi virus corona dalam tubuh, meski telah bermutasi. Namun hal tersebut tetap harus dibuktikan melalui kajian ilmiah.

"Secara teoritis harusnya bisa [mendeteksi] karena vaksin menargetkan keseluruhan bodi dari protein spike virus, walaupun ada sebagian bodi bermutasi, antibodi yang muncul karena vaksin masih bisa mengenali bagian dari bodi spike yang lain, we will see, seperti apa ke depan," terang Ahmad.

Diketahui Pemerintah Indonesia akan memboyong sekitar 400 juta vaksin Covid-19 dari empat jenis vaksin Covid-19. Vaksin Covid-19 yang akan digunakan di Indonesia meliputi Sinovac, Novavax, AstraZeneca, dan BioNTech Pfizer. Indonesia juga akan bekerja sama dengan organisasi vaksin internasional GAVI.

Infografis Jenis Vaksin Corona Pfizer Efektif 90 PersenInfografis Jenis Vaksin Corona Pfizer Efektif 90 Persen. (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)
(mln/nma)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK