BMKG Catat Getaran Susulan Usai Gempa Majene Magnitudo 5,9

CNN Indonesia | Kamis, 14/01/2021 15:11 WIB
BMKG mencatat gempa bumi dengan magnitudo 5,9 di barat laut Majene (Sulbar), dirasakan hingga wilayah Sulawesi Selatan yakni di Toraja sampai Parepare. Ilustrasi. Petugas BMKG dengan latar belakang laporan pemantauan wilayah Indonesia. (AFP PHOTO / ADEK BERRY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,9 terjadi di wilayah daratan Sulawesi Barat dengan pusatnya berada sekitar 4 kilometer dari ibu kota kabupaten Majene, Kamis (14/1) siang.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa itu berada di barat laut Majene dengan kedalaman 10 kilometer. Atas gempa yang terjadi pukul 13.35 WIB itu, BMKG melansir peringatan dini tak ada potensi tsunami.

Meskipun demikian, BMKG memberikan imbauan dan tetap tenang kepada masyarakat dan untuk mempercayai sumber-sumber informasi yang resmi dan terverifikasi. BMKG sendiri mencatat pascagempa utama yang berkekuatan magnitudo 5,9 terjadi lagi gempa susulan.


"Hingga hari Kamis, 14 Januari 2021 pukul 14.00 WIB, Hasil monitoring BMKG menunjukkan 2 aktivitas gempabumi susulan (aftershock) dengan magnitudo maksimum M=4,9," ujar Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Praytino dalam keterangannya yang diterima, Kamis sore.

Ia menerangkan guncangan gempa yang pertama dirasakan begitu kuat untuk warga di daerah Majene dan sekitarnya. Guncangan gempa itu bahkan terasa hingga Poso dan Parepare yang berada di Sulawesi Selatan.

Guncangan paling kuat dirasakan warga di daerah Polewali, Mamuju, dan Majene (Sulawesi Barat) dengan skala IV-V MMI. Lebih ringan yakni skala III-IV MMI, dirasakan warga di Mamuju Utara dan Mamuju Tengah, kemudian Mamasa (Sulawesi Barat).

Guncangan juga dirasakan di Sulawesi Selatan dengan skala lebih ringan yakni Toraja, Pinrang, Poso, Wajo, dan Parepare.

"Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami," ujar Bambang Setiyo.

Ia memaparkan dari hasil analisis BMKG pada lokasi episentrum dan kedalaman hiposentrum, goncangan yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik ( thrust fault )," kata Bambang Setiyo.

(kid/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK