Menkes Ungkap Alasan Penyintas Covid Tak Masuk Daftar Vaksin

CNN Indonesia | Kamis, 14/01/2021 17:29 WIB
Menkes menjelaskan salah satu alasan penyintas Covid-19 tak masuk daftar penerima vaksin karena dinilai telah memiliki antibodi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. (Dok. Biro Setpres/Rusman)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan orang yang telah sembuh atau penyintas Covid-19 tidak masuk dalam daftar penerima vaksin Covid-19.

Budi mengatakan pihaknya memprioritaskan orang-orang yang belum terpapar Covid-19 sama sekali. Pasalnya, kata dia, orang yang telah sembuh atau penyintas Covid-19 masih mempunyai antibodi.

"Memang penyintas Covid-19 sampai sekarang tidak kami masukkan sebagai target vaksinasi karena mereka masih memiliki imunitas sehingga nanti tidak dimasukkan ke prioritas vaksinasi saat ini," kata Budi dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (14/1).


Selain itu, sambung Budi, vaksinasi Covid-19 untuk saat ini masih memprioritaskan penduduk berusia 18-59 tahun. Keputusan itu merujuk pada hasil uji klinis fase III vaksin Sinovac di Bandung, Jawa Barat.

Mantan Wakil Menteri BUMN itu pun membuka kemungkinan vaksinasi Covid-19 untuk warga berusia 60 tahun ke atas atau lansia di masa mendatang. Sebab uji klinis Sinovac, Pfizer, dan AstraZaneca di negara lain telah dilakukan terhadap lansia.

Budi juga menyebut ada kemungkinan vaksinasi untuk anak-anak menggunakan Sinovac dan AstraZaneca. Namun, ia belum bisa memastikan waktu penerapannya.

"Sudah ada yg mulai melakukan uji klinis usia di bawah 16 tahun, yaitu AstraZaneca dan Sinovac, tapi tahapnya masih tahap sangat dini. Tahapnya masih tahap sangat dini," ujar Budi.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Widyastuti membeberkan alasan penyintas atau orang yang pernah terpapar Covid-19 tak menjadi sasaran utama penerima vaksin tahap awal. Serupa Budi yang berada di DPR, Widyastuti mengatakan alasan paling pertama adalah penyintas Covid-19 sebenarnya secara alami sudah memiliki antibodi di dalam tubuhnya.

"Sebenarnya seorang penyintas begitu sudah pernah terinfeksi secara alami di dalam tubuh terbentuk antibodi sehingga penyintas tidak menjadi prioritas," kata Widyastuti di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Kamis.

Kendati demikian, kata Widyastuti, tak ada efek samping yang akan muncul jika seorang penyintas Covid-19 menerima vaksin.

Hal tersebut pun merujuk apabila ada orang yang merasa sehat tapi tak sadar bahwa dirinya positif virus corona dengan status tanpa gejala (OTG) lalu mendapatkan vaksin Covid-19.

"Kalian anak muda, selama ini ternyata positif, selama ini tidak terasa, tidak ada gejala padahal enggak pernah periksa, ya enggak apa-apa. Dalam tubuhnya kan sudah ada antibodi jadi ya double," tutur Widyastuti.

"Enggak [ada efek samping]," imbuhnya.

Itulah pula, sambungnya, yang membuat Gubernur serta Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ahmad Riza Patria tak menjadi sasaran vaksinasi Covid-19 meskipun berstatus kepala daerah. Diketahui, dua pimpinan DKI tersebut merupakan penyintas Covid-19 di mana Riza berhasil sembuh lebih dulu dibandingkan Anies.

"Untuk di Jakarta, beliau [Anies-Riza] karena penyintas bukan jadi sasaran vaksinasi saat ini," ujar Widyastuti saat dihubungi, Rabu (13/1).

Diketahui, Pemprov DKI mulai melakukan program vaksinasi Covid-19 mulai Kamis (14/1) hari ini. Dengan jumlah yang diterima sebanyak 120.040 dosis vaksin, ada sekitar 60 ribu tenaga kesehatan yang menjadi penerima vaksin di tahap awal.

Selain itu, sebanyak 21 tokoh di wilayah Jakarta juga akan mendapat suntikan vaksin pada Jumat (15/1) mendatang.

Secara nasional, Indonesia telah memulai vaksinasi Covid-19 pada Rabu (13/1). Presiden RI Joko Widodo jadi orang pertama yang disuntik vaksin Sinovac di Indonesia.

Pemerintah menargetkan vaksinasi terhadap 181 juta orang dalam waktu 15 bulan. Pemerintah akan menyiapkan 426 juta dosis vaksin untuk memenuhi program tersebut.

(dhf, dis/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK