Fenomena Awan Cumulonimbus di Ambon, BMKG Minta Warga Waspada

CNN Indonesia | Senin, 18/01/2021 10:45 WIB
BMKG memperingatkan warga waspada dengan kemunculan awan cumulonimbus di Ambon karena berpotensi mengakibatkan banjir dan longsor. Gulungan awan Comulonimbus muncul di Ambon, Maluku Senin (18/1) pagi. (Foto: Tangkapan layar facebook Rudy Muhrim)
Ambon, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan warga mewaspadai fenomena awan Cumulonimbus yang muncul di Ambon, Maluku pada Senin (18/1).

Staf Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas II BMKG Pattimura, Ambon, Rion Suaib Salman menyatakan bahwa awan hitam yang sempat membuat warga khawatir itu bukan fenomena awan berbentuk gelombang tsunami.

"Awan ini merupakan awan Cumulonimbus, bukan awan bak tsunami, cuma roll cloud bisa terbentuk di depan awan Cumulonimbus," kata Suaib saat dikonfirmasi.


Meski demikian, ia meminta warga tetap waspada sebab kemunculan fenomena awan Cumulonimbus itu bisa menjadi faktor yang meningkatkan intensitas curah hujan di Ambon.

"Seperti kilat, petir, angin kencang, pohon tumbang, hujan sedang hingga lebat yang mengakibatkan terjadi banjir dan longsor dan tinggi gelombang," ujarnya.

Selain itu, lanjut Suaib, awan tersebut juga berbahaya bagi penerbangan dan pelayaran. Sejumlah bencana banjir dan tanah longsor biasanya juga terjadi akibat awan Cumulonimbus.

Pada daerah kepulauan, Suaib menjelaskan, awan Cumulonimbus muncul karena penguapan yang besar dari suplai massa udara di lautan atau perairan sekitar dan dari segi udara lapisan atau kelabilan udara.

"Pada umumnya jika di Pulau Ambon, aktif tumbuh pada bulan peralihan musim," ungkapnya.

Suaib menuturkan, siklus hidup awan Cumulonimbus biasanya cukup singkat dan sering muncul kurang lebih satu jam. Namun jika aktif bisa membentuk multi-cell atau terdiri dari beberapa awan Cumulonimbus.

"Jadi biasanya cepat saja terjadi. Namun jika cukup aktif, bisa hidup dari sumber awan baru atau membentuk multi-cell," pungkasnya.

(sai/psp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK