BPPTKG Prediksi Erupsi Gunung Merapi Efusif Maksimal 5 Km

CNN Indonesia | Sabtu, 23/01/2021 03:00 WIB
BPPTKG memprediksi erupsi Gunung Merapi bakal cenderung bersifat efusif atau berupa lelehan lava sejauh maksimal 5 km ke arah barat daya. Kubah lava Gunung Merapi terlihat dari Desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (6/10/2020). (Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memprediksi kemungkinan letusan Gunung Merapi bersifat efusif.

Erupsi efusif merupakan lelehan yang terjadi karena letak dapur magma yang dangkal dan volume gas yang kecil. Prediksi ini berdasarkan penilaian atau asesmen BPPTKG terhadap aktivitas gunung berapi tersebut.

"Sampai saat ini probabilitas tertingginya itu adalah erupsi efusif dengan persentase 43 persen," tutur Kepala BPPTKG, Hanik kepada wartawan, Jumat (22/1).


Hanik menuturkan penilaian itu merujuk pada 17 indikator antara lain jumlah gempa VTMP, VTA, laju deformasi EDM, tren deformasi, total deformasi, letusan gas, tren seismik, serta tren guguran.

VTMP merupakan frekuensi jumlah gempa fase banyak, sementara VTA merupkan gempa vulkanik dalam dam laju deformasi merupakan pengembungan badan gunung.

Kemudian indikator berupa bulging (penggembungan), landslide (longsor lahan), gempa terasa, jumlah gempa terasa, tremor, embusan gas menerus, migrasi hipocenter, area deformasi, dan manifestasi ekstrusi.

Namun Hanik menuturkan masih ada kemungkinan letusan Gunung Merapi boleh jadi bersifat eksplosif. Meski, potensi ini terpantau menurun.

"Potensi erupsi eksplosif dan kubah-dalam menurun signifikan," ucap Hanik.

Untuk kondisi Gunung Merapi saat ini, lanjut Hanik, kegempaan internal tercatat 12 kali per hari, deformasi sudah berhenti atau hanya 1mm/hari, dan gas vulkanik CO2 550 ppm dalam tren turun.

INFOGRAFIS FAKTA MENARIK GUNUNG MERAPIINFOGRAFIS FAKTA MENARIK GUNUNG MERAPI. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

Volume Kubah Lava Merapi 104 Meter Kubik

Sementara untuk guguran masih terbilang tinggi, dengan dominasi bersumber dari lokasi erupsi.

Lebih lanjut, disampaikan Hanik, potensi bahaya erupsi Gunung Merapi yang bersifat efusif itu mengarah ke barat daya.

"Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km," rinci Hanik.

"Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan ekplosif dapat menjangkau sejauh maksimal 3 km dari puncak," imbuh dia lagi.

BPPTKG mencatat peningkatan volume kubah lava Gunung Merapi sebesar 104 ribu meter kubik, per 21 Januari 2021. Hanik mengungkapkan pertumbuhan kubah lava ini mengakibatkan perubahan morfologi yang signifikan di sisi barat daya gunung.

Sementara berdasarkan pemantauan per Jumat (22/1) hari ini, kecepatan pertumbuhan lava sebesar 19 meter kubik tiap harinya dengan rata-rata 8,6 ribu/hari.

Sedangkan untuk sisi tenggara, dia melanjutkan, sampai saat ini belum terpantau ada perubahan yang signifikan. "Namun demikian kami tetap harus konsen ke dalam pemantauan atau pengamatan yang di dalam kawah," kata dia.

Di sisi lain, Hanik menyampaikan pemantauan seismik, deformasi, dan gas pun tercatat mengalami penurunan.

"Tidak ada tekanan magma berlebih yang mencerminkan tambahan suplai magma," ucap Hanik.

(dis/nma)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK