5 Kabupaten/Kota di Kalsel Masih Tergenang Banjir 5-30 Cm

CNN Indonesia | Selasa, 02/02/2021 18:11 WIB
5 Kabupaten/Kota di Kalsel disebut masih tergenang banjir setinggi 5-30 Cm, dengan Banjar jadi yang terparah karena terdampak pasang surut laut. Ilustrasi banjir. Sejumlah daerah di Kalsel masih tergenang banjir hingga kini. (Foto: ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan melaporkan 5 kabupaten/kota di wilayah tersebut masih tergenang banjir. Sementara, 6 kabupaten/kota lainnya sudah dalam keadaan normal.

Wilayah yang masih tergenang banjir diantaranya adalah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (10-30 Sentimeter/Cm), Kota Banjarmasin (10-15 Cm), Kabupaten Banjar (10-30 Cm), Kabupaten Hulu Sungai Selatan (5-30 Cm) dan Kabupaten Tanah Laut (kurang lebih 30 Cm).

Plt. Kepala BPBD Kalsel Mujiyat mengatakan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Tanah Laut merupakan dua wilayah yang diduga akan mengalami banjir dalam kurun waktu yang paling lama karena bentuk daratan yang cekung atau berada dekat dengan perairan laut.


"Tanggal 14 [Januari] itu betul-betul sebagian Banjar ini hampir seleher ketinggian airnya. Sekarang 10-30 cm. Dan ini juga nanti akan alami genang air paling panjang, karena tumpukan airnya luar biasa karena berhubungan dengan pasang surut laut," tuturnya melalui konferensi video, Selasa (2/2).

Ia menjelaskan hingga hari ini ada 28.379 orang yang masih harus mengungsi karena rumahnya masih tergenang. Sementara 107.227 pengungsi lainnya sudah kembali ke rumah masing-masing.

Kendati kondisi sudah membaik, Mujiyat mengatakan pihaknya masih mempertimbangkan opsi memperpanjang status tanggap darurat di wilayah Kalimantan Selatan. Pasalnya, masih banyak pengungsi yang belum bisa pulang dan pemulihan bencana belum selesai.

"Kita tetapkan status tanggap darurat 14 hari, 14 sampai 27 Januari. Lalu kita perpanjang 28 Januari sampai 3 Februari. Tapi tidak menutup kemungkinan [diperpanjang] kalau kondisi masih belum normal dan pengungsi masih ada," katanya.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut intensitas hujan lebat hingga ekstrem terjadi di 12 titik terdampak banjir di Kalsel pada 10-12 Januari, atau kurun waktu ketika banjir hebat pertama menggenang.

Dalam kurun waktu tersebut, hujan lebat hingga ekstrem terpantau di Kota Banjarbaru, Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Tanah Laut. Hujan ekstrem terjadi sekali di Kabupaten Tanah Laut dengan kekuatan 174 milimeter pada 10 Januari.

"Ada beberapa wilayah yang diatas 100 milimeter dalam satu hari yang kita kategorikan hujan lebat. Kalau dilihat dari sisi curah hujan, masuk akal banjir. Karena tinggi dan tiga hari berturut-turut," ucap Prakirawan BMKG Jakarta Kiki dalam kesempatan yang sama.

Infografis Banjir Kalsel dari Hulu sampai HilirInfografis Banjir Kalsel dari Hulu sampai Hilir. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

Ia menjelaskan curah hujan lebat hingga ekstrem ini didukung dengan kondisi atmosfer global. Di antaranya, fenomena La Nina yang masih aktif dan memicu peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur, suhu perairan laut yang hangat, hingga posisi osilasi madden-julian (MJO) yang menambah muatan basah pada awan.

Namun begitu, Kiki mengatakan BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem sejak 7 Januari 2021 dan potensi cuaca berdampak banjir sejak 11 Januari 2021 untuk wilayah Kalsel melalui situs resmi, telegram ke BPBD, media sosial, hingga jejaring Whatsapp.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menegaskan anomali cuaca menjadi faktor utama terjadinya banjir di Kalsel. Argumen yang sama juga disampaikan Presiden Joko Widodo ketika berkunjung ke sana.

Namun keduanya tidak menyoroti permasalahan tutupan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito di wilayah Kalsel maupun di Pulau Kalimantan secara keseluruhan yang terus menyusut.

Padahal, menurut Walhi, masalah tutupan hutan membuat DAS tak mampu menampung air hujan yang berlebih.

Cuaca ekstrem juga diduga merupakan akibat dari krisis iklim. Diketahui, deforestasi atau penurunan tutupan hutan merupakan salah satu aktivitas yang dapat memperparah perubahan iklim secara global.

(fey/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK