Pengamat soal Banjir Semarang: Pembangunan Kota Terlalu Masif

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 07/02/2021 11:31 WIB
Pengamat menilai bahwa banjir di Semarang, Jawa Tengah, terjadi karena pesatnya pembangunan infrastruktur kota yang memangkas daerah resapan air. Ilustrasi. Pengamat menilai bahwa banjir di Semarang, Jawa Tengah, terjadi karena pesatnya pembangunan infrastruktur kota yang memangkas daerah resapan air. (CNN Indonesia/Damar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Yoga menilai banjir di Semarang, Jawa Tengah terjadi karena pesatnya pembangunan infrastruktur memangkas daerah resapan air di kota tersebut.

Nirwono mengatakan, ada tiga faktor penyebab banjir di Semarang. Pertama, pembangunan infrastruktur kota yang masif sehingga menutup daerah bukaan atau resapan air.

"Sehingga banjir menggenangi landasan pacu bandara yang notabenenya berada di kawasan sekitar hutan mangrove dan kawasan kota termasuk stasiun kereta api," kata Nirwono kepada CNNIndonesia.com, Minggu (7/2).


Pembangunan infrastruktur yang masif juga membuat penyedotan air tanah yang tidak terkendali. Akibatnya, terjadi penurunan muka tanah dengan cepat, sehingga ketika air rob atau limpasan air laut meningkat menimbulkan banjir.

Menurut Nirwono, pemerintah daerah perlu segera melakukan percepatan dan perluasan kawasan hutan mangrove di pesisir pantai. Hal ini lebih efektif ketimbang membangun tanggul pantai yang berbiaya mahal dan tidak ramah lingkungan.

Kedua, banjir terjadi karena berkurangnya luasan saluran air akibat sampah dan lumpur. Hal ini membuat saluran air tak lagi mampu mengalirkan air sesuai dengan kapasitas dan curah hujan yang semakin membesar.

Banjir melanda kawasan Kota Lama Semarang, Sabtu. (ANTARA/ I.C.Senjaya)Ilustrasi. Banjir Semarang dinilai terjadi karena pesatnya pembangunan infrastruktur kota yang menutup kawasan resapan air. (ANTARA/ I.C.Senjaya)

Maka dari itu, ia menilai pemerintah perlu segera melakukan rehabilitasi saluran air dan menata kembali jaringan di dalam saluran air secara terpadu. Tak ketinggalan, perlu dipastikan pula bahwa aliran air mengalir dengan lancar ke danau, waduk, hingga embung terdekat sebagai cadangan air di musim kemarau.

Ketiga, banjir muncul karena kurangnya aktivitas penghijauan di sekitar sungai. Selain itu, aktivitas pengerukan lumpur dan pembebasan daerah sungai dari pemukiman juga perlu dilakukan.

"Pemda juga perlu merevitalisasi dan kalau perlu menambah daerah penampung air seperti danau atau waduk baru," imbuhnya.

Nirwono juga melihat pemerintah Semarang perlu melakukan evaluasi kembali mengenai tata ruang dan peruntukan serta pemanfaatan lahan-lahan hijau di kawasan bukit yang ada di sekeliling Semarang. Hal ini dirasa perlu agar penghijauan dapat dilakukan, sehingga daerah resapan air bertambah dan banjir bisa diminimalisir.

Pandangan ini juga diamini oleh Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Jawa Tengah, Fahmi Bastian. Dia mengatakan, ketidaksesuaian tata ruang turut menjadi faktor penyebab banjir di Semarang. Hal ini terjadi karena pembangunan menurunkan porsi kawasan hijau.

"Faktor tata ruang memengaruhi, di mana daerah resapan air dan wilayah hijau di Semarang semakin berkurang," kata Fahmi.

Data yang dikantonginya mencatat bahwa kawasan yang terbangun di Semarang mulanya hanya sekitar setengah dari keseluruhan kota pada 1995. Sementara separuhnya lagi merupakan daerah yang belum terbangun dan kawasan agraria.

Namun, kini kondisi tersebut berubah drastis. Bahkan, sejak 2017 saja, sudah hampir seluruh kawasan di Semarang yang terbangun menjadi daerah komersial, pemukiman, industri dan perdagangan, pertanian, dan pendidikan. Sedangkan daerah konservasi hanya tinggal sedikit dan hanya berada di kawasan Semarang Selatan.

Kendati begitu, Fahmi juga memandang bahwa cuaca ekstrem yang melanda belakangan juga turut andil memicu banjir Semarang. "Selain itu juga dipicu oleh dampak perubahan iklim. Dampak dari perubahan iklim adalah cuaca ekstrem," tandasnya.

(uli/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK