Jan Pieterszoon Coen dan Kisah Para Tionghoa Pertama Batavia

CNN Indonesia
Jumat, 12 Feb 2021 12:03 WIB
Souw Beng Kong, sang kapitein der chinezen meninggal dunia pada 8 April 1644. Seluruh masyarakat Tionghoa ikut berkabung, begitu juga pemerintah Belanda. Kawasan perniagaan Gang Gloria Pasar Pancoran Glodok, Jakarta, Selasa, 2 Februari 2021. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di Pinggir Pelabuhan Sunda Kelapa, di akhir Mei 1619, Gubernur VOC Jan Pieterszoon Coen tengah bengong di siang bolong. Kepalanya masih sakit. Sisa mabuk-mabuk semalam dengan para prajurit.

Mur Jangkung --begitu Coen dijuluki masyarakat setempat-- tengah melamunkan dua hal.

Pertama, ia masih tak terima kenapa kota ini harus bernama Batavia. JP Coen mulanya ingin menamai kota yang ditaklukkan dari Jayakarta ini dengan nama Hoorn, kota kelahirannya di Belanda Utara. (Adolf Heuken dalam 'Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta' 2007).

Tapi di malam pesta itu, ada prajurit yang mabuk dan meracau 'Batavia-Batavia!!'. Menyebut suku nenek moyang mereka: Batavier.

Nama Batavia sampai terdengar Heeren Zeventien (Dewan 17), seluruh direktur/petinggi di semua provinsi kekuasaan VOC. Nama Batavia disepakati. Coen kesal, tapi tak lama. (Alwi Shahab dalam 'Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia' 2013).

Ada persoalan lebih besar yang juga menjadi lamunan JP Coen saat itu. Bagaimana menata Batavia di atas puing kehancuran. Coen lupa mereka tak punya barisan pedagang yang bisa diandalkan. Pribumi tak bisa diharapkan. Belanda menganggap pribumi yang ada malas, tak jarang culas. Kelompok-kelompok ini ditendang VOC ke suatu tempat yang kini bernama Jatinegara.

Suasana sore hari di pelabuhan Sunda Kelapa sepi aktivitas bongkar muat, Jakarta (29/4). (CNN Indonesia/ Hesti Rika)Pelabuhan Sunda Kelapa. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)

Dalam keputusasaan, Coen teringat seorang saudagar sukses dan berpengaruh di pelabuhan milik Kesultanan Banten. Namanya Souw Beng Kong (Belanda menulis Bencon).

Seantero Banten mengenal nama besar Beng Kong. Sosok yang sangat dihormati petani pribumi, dipercaya pedagang lintas negara mulai dari Inggris hingga Portugis. Sultan Banten juga berterima kasih atas perannya. Beng Kong mengajarkan teknologi pertanian hingga negosiasi dagang. (YKSBK dalam 'Riwayat Kapiten Tionghoa Pertama di Batavia SOUW BENG KONG' 2013).

Melihat kepiawaian dan pengaruhnya, JP Coen merayu mati-matian pria kelahiran Tang Oa, Provinsi Hokkian pada 1580 itu. Beng Kong diimingi jabatan, harta, dan kekuasaan. Beng Kong bahkan berhak memungut pajak lapak sampai tempat judi jika mau pindah ke Batavia.

Meski sempat menolak, akhirnya Beng Kong sepakat pindah ke Batavia. Kesepakatan ini yang dianggap sebagai awal mula pergerakan terstruktur kelompok Tionghoa ke Batavia.

"Tidak ada yang lebih cocok untuk tujuan kita selain bekerja-sama dengan komunitas Tionghoa," tulis laporan JP Coen kepada Heeren Zeventien (Dewan 17 VOC).

Tercatat daftar gelombang pertama orang-orang Tionghoa masuk Batavia yakni Beng Kong dan asistennya Lim Lak Co. Disusul 170 keluarga Tionghoa beberapa bulan berselang. Semua orang itu diurus oleh Souw Beng Kong.

Di saat itu juga JP Coen pada 11 Oktober 1619 mengangkat Souw Beng Kong menjadi Kapiten (Kapitein) Tionghoa pertama yang diangkat oleh Pihak Belanda. (Benny G Setiono dalam 'Tionghoa dalam Pusaran Politik' 2003).

Pelabuhan Banten, sepeninggal Beng Kong tak lagi jadi magnet cantik aktivitas dagang. Aktivitas perniagaan bergeser ke Pasar Ikan. Populasi Tionghoa di Batavia naik signifikan dari satu dekade ke dekade berikutnya.

Secara rinci, misalnya, pada 1620 jumlah populasi Tionghoa di Batavia menjadi 800 orang. Setahun berikutnya, jumlahnya bertambah lagi menjadi 2.100 orang. Bahkan pada 1627 jumlah warga Tionghoa di Batavia menjadi 3.500 orang. Bahkan hingga 1679 populasi pemukim Tionghoa di Batavia sekitar 16.695 orang (Mona Lohanda dalam 'Menjadi Peranakan Tionghoa' 2009).

Souw Beng Kong, sang kapitein der chinezen meninggal dunia pada 8 April 1644. Seluruh masyarakat Tionghoa ikut berkabung, begitu juga pemerintah Belanda. Makam Souw Beng Kong terletak di Jalan Pangeran Jayakarta, persisnya di Gang Taruna yang hingga 1960 dikenal warga setempat dengan Gang Souw Beng Kong.

Hingga saat ini, Souw Beng Kong tetap dikenal sebagai perintis perekonomian Tionghoa di Batavia pada awal abad ke-17. Andai saja Souw Beng Kong dan 400 orang Tionghoa tidak pindah, bisa dipastikan ekonomi Batavia tidak berkembang. (Iwan Santosa dalam 'Peranakan Tionghoa di Nusantara' 2012).

(ain/ain)


[Gambas:Video CNN]
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER