Kesaksian Warga Klaten: Sumur Satu Desa Amblas Usai Dentuman
CNN Indonesia
Kamis, 18 Feb 2021 13:03 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi jalan amblas. Foto: Muhammad Arif Pribadi
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebanyak 12 sumur rumah milik warga di Desa Jungkare, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dilaporkan amblas ke dalam tanah. Sumur-sumur gali itu amblas secara bertahap sejak dua pekan terakhir. Warga mengaku sempat mendengar beberapa kali dentuman sebelum sumur amblas sampai-sampai membuat penduduk keluar rumah.
Berdasarkan laporan detikcom di lokasi, sumur warga yang amblas berada di permukiman padat. Mayoritas sumur tersebut berupa sumur gali di luar rumah.
Sumur beserta temboknya masuk ke tanah sehingga yang tampak hanya lubang di permukaan. Sebagian besar lubang yang amblas tersebut sudah ditutup tanah meskipun tak merata dengan permukaan tanah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kejadian-kejadian itu (sumur amblas) sudah dua Minggu lalu. Tidak bersamaan tapi mulai Minggu yang lalu terus tambah sampai hari ini," ungkap Kades Jungkare Kecamatan Karanganom, Wakhid Muchsin, dikutip detikcom Rabu (17/2).
Muchsin menjelaskan dari data sementara ada 12 sumur yang amblas. Delapan di antaranya tanahnya sudah amblas dan empat lainnya menunjukkan tanda retak-retak.
"Jumlah sekitar 12 sumur. Delapan sudah runtuh tanah dan bangunannya, sedangkan empat masih gejala retak," sambung Muchsin.
Pemerintah desa sudah berkoordinasi dengan BPBD Pemkab Klaten untuk mengecek dan mendata lokasi. Sebagian besar lubang sumur yang amblas sudah ditutup warga.
"Sementara diurug dengan tanah. Kalau tidak diurug nanti menganga membahayakan anak-anak dan masyarakat sekitarnya," ungkap Muchsin.
Muchsin menduga curah hujan tinggi jadi penyebabnya. Hujan deras beberapa hari menyebabkan debit air di sumur naik.
"Curah hujan tinggi tahun ini. Sampai-sampai volume air di sumur naik 2 sampai 3 meter dari permukaan normal sehingga lapisan yang pasir tergerus," kata Muchsin.
Salah seorang warga RT 11 Dusun Jungkare, Wasil (55), mengatakan sumur milik keluarganya merupakan yang pertama runtuh dan amblas. Tidak hanya sumur dan tembok yang masuk ke tanah tapi juga bangunan kamar mandinya.
"Ya paling awal dua minggu lalu, kejadiannya sekitar jam 03.00 WIB. Jadi sumur dan bangunan kamar mandi hilang masuk ke tanah jadi sementara cari air ke tetangga," papar Wasil kepada detikcom.
Kadus 2 Desa Jungkare, Wakhid Hasyim menambahkan sumur-sumur warga yang amblas berada di dua RT yaitu RT 10 dan 11. Sumur-sumur itu merupakan sumur gali.
"Sumur warga ini sumur gali. Sumur di sini tidak dipasang bus beton di bawahnya tapi cuma di atas saja," kata Wakhid pada detikcom.
Tidak adanya bus beton lingkaran di bagian bawah sumur, ucap Wakhid, menyebabkan tanah di bawah sumur rawan longsor. Apalagi curah hujan tinggi beberapa waktu belakangan ini.
"Curah hujan tinggi beberapa minggu terakhir di sini. Ini sementara warga yang sumurnya rusak hanya mengungsi mandi," pungkas Wakhid.
Berlanjut ke halaman selanjutnya.. Kesaksian Warga Dengar Dentuman
Sebelum sumur ditelan bumi, warga mengaku mendengar suara dentuman dari dalam tanah cukup keras.
"Ada dentuman beberapa kali, 'dum, dum' begitu dan terakhir keras sehingga keluarga keluar rumah semua," ujar Tulus Budiyono (59) warga RT 10 kepada detikcom.
Tulus mengatakan sumurnya amblas sedalam sekitar tiga meter pada Sabtu (13/2) dini hari lalu beserta temboknya. Sebelum ada suara dentuman, keluarganya juga mendengar suara gemericik dari dalam sumur sehingga keluarga waspada.
"Kita semua di rumah bagian depan sebab sudah curiga sumur akan ambrol. Barang sudah saya pindahkan semua dan ternyata benar sumur amblas," sambung Tulus.
Tulus pun mengaku was-was dengan peristiwa sumur amblas di rumahnya. Dia khawatir amblasnya sumur akan merambat ke bagian rumahnya yang lain.
"Ya setelah ini resah, tidak tenang. Kadang ke rumah mertua dan kadang pulang, sementara tidak ada tembok rumah yang retak," terang Tulus.
Kapolsek Karanganom AKP Tri Harni Sugondho mengatakan tim Polsek, bersama BPBD dan perangkat desa sudah mengecek lokasi. Lokasi pun sudah dipasangi garis polisi agar tidak membahayakan warga.
"Kita garis polisi untuk sementara agar tidak membahayakan warga. Kita terus pantau," kata Tri Harni kepada detikcom.
Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Pemkab Klaten Sri Yuwana Haris Yulianto mengatakan kejadian sumur amblas itu terjadi dalam kurun waktu 10 hari terakhir ini. Berdasarkan keterangan warga, curah hujan yang tinggi menyebabkan kondisi tanah tergerus dan amblas.
"Terdampak 12 sumur warga, tanggal kejadian sejak tanggal 7-17 Februari dan tidak ada laporan korban. Penyebabnya karena curah hujan yang tinggi dalam waktu yang cukup lama sehingga tanah tergerus dan amblas," terang Haris.
Pakar Geologi (geolog) Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Wahyu Wilopo menyebut kejadian itu tidak berhubungan dengan gempa besar di Yogyakarta dan Klaten tahun 2006 silam.
Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan sumur warga Klaten itu amblas. Di antaranya struktur bangunan sumur hingga material endapan di lokasi sumur rapuh.
"Apalagi kalau kita melakukan pendalaman sumur gali pada waktu musim kemarau tidak diikuti dengan membangun struktur yang ada di sekelilingnya," kata Wahyu kepada detikcom.
Dosen Departemen Teknik Geologi UGM ini juga bicara jika amblasnya sumur itu karena faktor tanah yang belum terkondisikan sehingga rapuh. Daerah yang tanahnya belum terkonsolidasi kuat biasanya berada di sekitar sungai maupun pantai.
"Yang ketiga bisa akibat proses erosi di dalam sumur sendiri akibat besarnya aliran air tanah yang ada, apalagi pada saat ini curah hujan sangat tinggi," katanya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebanyak 12 sumur rumah milik warga di Desa Jungkare, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dilaporkan amblas ke dalam tanah. Sumur-sumur gali itu amblas secara bertahap sejak dua pekan terakhir. Warga mengaku sempat mendengar beberapa kali dentuman sebelum sumur amblas sampai-sampai membuat penduduk keluar rumah.
Berdasarkan laporan detikcom di lokasi, sumur warga yang amblas berada di permukiman padat. Mayoritas sumur tersebut berupa sumur gali di luar rumah.
Sumur beserta temboknya masuk ke tanah sehingga yang tampak hanya lubang di permukaan. Sebagian besar lubang yang amblas tersebut sudah ditutup tanah meskipun tak merata dengan permukaan tanah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kejadian-kejadian itu (sumur amblas) sudah dua Minggu lalu. Tidak bersamaan tapi mulai Minggu yang lalu terus tambah sampai hari ini," ungkap Kades Jungkare Kecamatan Karanganom, Wakhid Muchsin, dikutip detikcom Rabu (17/2).
Muchsin menjelaskan dari data sementara ada 12 sumur yang amblas. Delapan di antaranya tanahnya sudah amblas dan empat lainnya menunjukkan tanda retak-retak.
"Jumlah sekitar 12 sumur. Delapan sudah runtuh tanah dan bangunannya, sedangkan empat masih gejala retak," sambung Muchsin.
Pemerintah desa sudah berkoordinasi dengan BPBD Pemkab Klaten untuk mengecek dan mendata lokasi. Sebagian besar lubang sumur yang amblas sudah ditutup warga.
"Sementara diurug dengan tanah. Kalau tidak diurug nanti menganga membahayakan anak-anak dan masyarakat sekitarnya," ungkap Muchsin.
Muchsin menduga curah hujan tinggi jadi penyebabnya. Hujan deras beberapa hari menyebabkan debit air di sumur naik.
"Curah hujan tinggi tahun ini. Sampai-sampai volume air di sumur naik 2 sampai 3 meter dari permukaan normal sehingga lapisan yang pasir tergerus," kata Muchsin.
Salah seorang warga RT 11 Dusun Jungkare, Wasil (55), mengatakan sumur milik keluarganya merupakan yang pertama runtuh dan amblas. Tidak hanya sumur dan tembok yang masuk ke tanah tapi juga bangunan kamar mandinya.
"Ya paling awal dua minggu lalu, kejadiannya sekitar jam 03.00 WIB. Jadi sumur dan bangunan kamar mandi hilang masuk ke tanah jadi sementara cari air ke tetangga," papar Wasil kepada detikcom.
Kadus 2 Desa Jungkare, Wakhid Hasyim menambahkan sumur-sumur warga yang amblas berada di dua RT yaitu RT 10 dan 11. Sumur-sumur itu merupakan sumur gali.
"Sumur warga ini sumur gali. Sumur di sini tidak dipasang bus beton di bawahnya tapi cuma di atas saja," kata Wakhid pada detikcom.
Tidak adanya bus beton lingkaran di bagian bawah sumur, ucap Wakhid, menyebabkan tanah di bawah sumur rawan longsor. Apalagi curah hujan tinggi beberapa waktu belakangan ini.
"Curah hujan tinggi beberapa minggu terakhir di sini. Ini sementara warga yang sumurnya rusak hanya mengungsi mandi," pungkas Wakhid.
Berlanjut ke halaman selanjutnya.. Kesaksian Warga Dengar Dentuman
Kesaksian Warga Dengar Dentuman
Ilustrasi jalan amblas. Foto: Muhammad Arif Pribadi
Sebelum sumur ditelan bumi, warga mengaku mendengar suara dentuman dari dalam tanah cukup keras.
"Ada dentuman beberapa kali, 'dum, dum' begitu dan terakhir keras sehingga keluarga keluar rumah semua," ujar Tulus Budiyono (59) warga RT 10 kepada detikcom.
Tulus mengatakan sumurnya amblas sedalam sekitar tiga meter pada Sabtu (13/2) dini hari lalu beserta temboknya. Sebelum ada suara dentuman, keluarganya juga mendengar suara gemericik dari dalam sumur sehingga keluarga waspada.
"Kita semua di rumah bagian depan sebab sudah curiga sumur akan ambrol. Barang sudah saya pindahkan semua dan ternyata benar sumur amblas," sambung Tulus.
Tulus pun mengaku was-was dengan peristiwa sumur amblas di rumahnya. Dia khawatir amblasnya sumur akan merambat ke bagian rumahnya yang lain.
"Ya setelah ini resah, tidak tenang. Kadang ke rumah mertua dan kadang pulang, sementara tidak ada tembok rumah yang retak," terang Tulus.
Kapolsek Karanganom AKP Tri Harni Sugondho mengatakan tim Polsek, bersama BPBD dan perangkat desa sudah mengecek lokasi. Lokasi pun sudah dipasangi garis polisi agar tidak membahayakan warga.
"Kita garis polisi untuk sementara agar tidak membahayakan warga. Kita terus pantau," kata Tri Harni kepada detikcom.
Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Pemkab Klaten Sri Yuwana Haris Yulianto mengatakan kejadian sumur amblas itu terjadi dalam kurun waktu 10 hari terakhir ini. Berdasarkan keterangan warga, curah hujan yang tinggi menyebabkan kondisi tanah tergerus dan amblas.
"Terdampak 12 sumur warga, tanggal kejadian sejak tanggal 7-17 Februari dan tidak ada laporan korban. Penyebabnya karena curah hujan yang tinggi dalam waktu yang cukup lama sehingga tanah tergerus dan amblas," terang Haris.
Pakar Geologi (geolog) Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Wahyu Wilopo menyebut kejadian itu tidak berhubungan dengan gempa besar di Yogyakarta dan Klaten tahun 2006 silam.
Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan sumur warga Klaten itu amblas. Di antaranya struktur bangunan sumur hingga material endapan di lokasi sumur rapuh.
"Apalagi kalau kita melakukan pendalaman sumur gali pada waktu musim kemarau tidak diikuti dengan membangun struktur yang ada di sekelilingnya," kata Wahyu kepada detikcom.
Dosen Departemen Teknik Geologi UGM ini juga bicara jika amblasnya sumur itu karena faktor tanah yang belum terkondisikan sehingga rapuh. Daerah yang tanahnya belum terkonsolidasi kuat biasanya berada di sekitar sungai maupun pantai.
"Yang ketiga bisa akibat proses erosi di dalam sumur sendiri akibat besarnya aliran air tanah yang ada, apalagi pada saat ini curah hujan sangat tinggi," katanya.