Momen Jokowi Bagi-bagi Hadiah ke Kerumunan Warga NTT

CNN Indonesia | Rabu, 24/02/2021 07:15 WIB
Epidemiolog menyarankan pembagian hadiah dititipkan ke lembaga karena kerumunan saat pandemi tak hanya berbahaya bagi warga, tapi juga Jokowi sendiri. Presiden Joko Widodo disambut kerumunan warga saat berkunjung ke Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (23/2). Foto: Muchlis Biro Setpres
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo disambut kerumunan warga saat berkunjung ke Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (23/2). Jokowi pun bagi-bagi hadiah ke kerumunan itu.

Kejadian berlangsung saat Jokowi hendak meresmikan Bendungan Napun Gete. Saat rombongan kepresidenan datang, warga berebut mendekat.

"Saat dalam perjalanan, masyarakat sudah menunggu rangkaian di pinggir jalan. Saat rangkaian melambat, masyarakat maju ke tengah jalan. Sehingga, membuat iring-iringan berhenti," kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin kepada wartawan, Selasa (23/2).


Bey menyebut kejadian berlangsung secara spontan. Ia menilai hal itu jadi bentuk antusias warga NTT menyambut kehadiran Jokowi.

Saat warga NTT berkerumun, Jokowi membuka atap mobilnya. Ia keluar dan melambaikan tangan ke arah massa. Warga pun berteriak kegirangan.

Sesekali Jokowi menunjuk masker di mulutnya seraya mengingatkan warga akan protokol kesehatan. Setelah itu, ia membagi beberapa hadiah ke kerumunan tersebut.

"Itu spontanitas Presiden untuk menghargai antusiasme masyarakat. Suvenirnya itu buku, kaos, dan masker. Tapi poinnya, presiden tetap mengingatkan warga tetap taati protokol kesehatan," tuturnya.

Epidemiolog asal Universitas Griffith, Dicky Budiman mengkritik kerumunan penyambutan Jokowi tersebut.

"Presiden harusnya mengingatkan anak buahnya bahwa kondisi kita belum aman dari Covid-19," tegas Dicky kepada CNNIndonesia.com.

Menurut Dicky, Indonesia saat ini butuh keteladanan atau contoh untuk menghindari kerumunan. Pemerintah pusat dan daerah harus bisa mengingatkan bahwa situasi di Indonesia belum terkendali karena tingkat positivity rate yang masih jauh dari angka 5 persen.

"Covid-19 ini masih lama, bisa dua tahun lagi. Korban akan makin banyak jatuh kalau tidak disiplin dan buat kerumunan terus," kata Dicky.

Dicky pun menilai situasi kerumunan di NTT justru membahayakan Jokowi sendiri. Walaupun Jokowi terlihat di dalam mobil, tidak menjamin tidak ada penularan.

"Itu berisiko, walau Presiden sudah divaksin itu tetap beresiko tertular," kata Dicky.

Ia pun menyarankan pemberian bantuan dari pemerintah pusat selama Covid-19 harusnya tidak dilakukan dengan cara kerumunan. Namun dengan cara lewat lembaga dan diberikan kepada perwakilan warga saja.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka berencana melakukan penelusuran kontak kasus Covid-19 menyusul kerumunan Jokowi tersebut.

"Penanganan cepat yang akan dilakukan oleh kami dengan contact tracing. Sehingga, bisa mengetahui penyebaran covid-19 (di Sikka)," ucap Bupati Sikka yang juga Ketua Satgas Covid-19 Sikka Fransiskus Roberto Diogo saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (23/2).

Fransiskus mengaku pemda dan satgas setempat telah memperingatkan potensi tersebut. Mereka mengingatkan agar warga tak berkerumun saat Jokowi datang.

Meski begitu, warga tetap datang ke lokasi saat Jokowi berkunjung. Akibatnya, kerumunan tak terhindarkan.

"Itu spontanitas dari masyarakat Sikka. Sebelumnya, juga kami sudah sampaikan untuk tidak berkerumun, tapi mungkin mereka (masyarakat) sangat menantikan Bapak Presiden," ucapnya.

(dhf/gil)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK