UGM Mundur dari Penelitian Vaksin Nusantara Gagasan Terawan

CNN Indonesia | Senin, 08/03/2021 17:35 WIB
FK-KMK UGM menyatakan alasan para peneliti dari pihaknya mundur karena sejauh ini hanya mendapat komunikasi ajakan informal, tanpa ada kelanjutan pembahasan. Ilustrasi peneliti. FK-KMK UGM menyatakan alasan para peneliti dari pihaknya mundur karena sejauh ini hanya mendapat komunikasi ajakan informal, tanpa ada kelanjutan pembahasan. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengajukan pengunduran diri dari penelitian uji Vaksin Nusantara untuk Covid-19 yang diprakarsai mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto.

Surat pengunduran diri dari tim penelitian uji klinis vaksin sel dendritik SARS-Cov-2 ini ditujukan kepada menteri kesehatan.

Wakil Dekan FK-KMK UGM Bidang Penelitian dan Pengembangan, Yodi Mahendradhata, mengatakan latar belakang pengunduran diri karena para peneliti FK-KMK UGM sejauh ini tidak dilibatkan dalam proses uji klinis, termasuk penyusunan protokol.


"Belum ada keterlibatan sama sekali. Kita baru tahu saat itu muncul di media massa bahwa itu dikembangkan di Semarang kemudian disebutkan dalam pengembangannya melibatkan tim dari UGM," kata Yodi melalui keterangannya, Senin (8/3).

Yodi mengakui sejumlah peneliti UGM memang sempat memperoleh komunikasi informal terkait wacana pengembangan vaksin di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan. Kala itu, kata Yodi, mereka menyatakan bersedia mendukung penelitian itu. Namun, setelahnya malah nihil komunikasi terkait penelitian vaksin ini.

Para peneliti bahkan tak tahu menahu bahwa Kemenkes telah menerbitkan Surat Keputusan Nomor HK 01.07/MENKES/11176/2020 yang mencantumkan nama mereka beserta posisi yang diduduki dalam tim.

"Waktu itu belum ada detail ini vaksinnya seperti apa, namanya saja kita tidak tahu. Hanya waktu itu diminta untuk membantu, ya kami di UGM jika ada permintaan dari pemerintah seperti itu kami berinisiatif untuk membantu," ujar Yodi.

Para peneliti, kata Yodi, mengaku merasa keberatan karena tidak pernah dilibatkan dalam seluruh proses penelitian. Bahkan, belum pernah melihat protokol uji klinis sama sekali. Atas dasar itulah, para peneliti juga tak mampu memberikan komentar apa pun terkait vaksin termaksud beserta tahap penelitiannya.

Sepanjang pandemi Covid-19, FK-KMK UGM sendiri telah berpartisipasi dalam sejumlah penelitian, salah satunya pengembangan Vaksin Merah Putih bersama perguruan tinggi lainnya di bawah konsorsium inisiasi Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).

FK-KMK UGM juga bekerja sama dengan Kemenkes mengawal program vaksinasi yang telah berjalan dan memonitor pelaksanaannya di lapangan.

Berdasarkan pengalaman ini, menurut Yodi, penelitian yang dikerjakan melibatkan kerja sama sejumlah pihak memerlukan komunikasi intens antara pihak terkait. Serta proses koordinasi yang dibangun dengan baik sebelum dan selama penelitian dilakukan.

Lazimnya, bagi Yodi dalam kerja sama penelitian pihak terlibat terlebih dahulu mengadakan pertemuan dan koordinasi sebelum dimulai penelitian. Dalam hal ini Kemenkes selaku koordinator penelitian menjelaskan detail penelitian yang akan dikerjakan.

Dalam kasus Vaksin Nusantara, jelasnya, tahapan-tahapan tersebut tidak dilakukan dan peneliti yang namanya dicatut dalam Surat Keputusan Menkes. Mereka belum mengetahui detail penelitian sebelum hal tersebut akhirnya muncul di pemberitaan media massa.

"Kita belum pernah menerima surat resmi, protokol, atau apapun. Teman-teman agak keberatan, kalau disebutkan sebagai tim pengembang kan harus tahu persis yang diteliti apa," katanya.

(kum/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK