Pesantren Digeledah Densus, PWNU Jatim Sindir Ajaran Wahabi

CNN Indonesia | Senin, 05/04/2021 19:09 WIB
PWNU Jatim tak masalah pondok pesantren di Jogja digerebek, seraya menyinggung beberapa ponpes beraliran Wahabi yang berpotensi jadi pintu terorisme. Ilustrasi operasi Densus 88/AT Polri. (Foto: ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)
Surabaya, CNN Indonesia --

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menyinggung soal keberadaan pesantren mengajarkan Wahabisme kepada para santri yang dinilai bisa memicu radikalisme.

Hal ini dikatakan terkait langkah Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri yang menggeledah Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, pada Jumat (2/4). Selain itu, penangkapan terduga teroris juga terjadi di sejumlah wilayah di Bantul dan Sleman 2-4 April.

Katib Suriyah PWNU Jatim Safruddin Syarif berpendapat teroris adalah musuh bersama. Ia pun tak mempermasalahkan penggeledahan oleh Densus 88 jika itu diperlukan.


"Itu menjadi satu hal yang memang harus dilakukan Densus 88 untuk menggeledah, termasuk ke pesantren," kata dia, Senin (5/4).

Ia menyebut saat ini banyak pesantren salafi yang mengembangkan ajaran Wahabi ke santri-santrinya. Pesantren itu mengajarkan dakwah tentang Islam Ekstrim.

Contohnya, kata dia, pesantren milik terpidana terorisme Abu Bakar Ba'asyir. Pesantren itu, kata dia, bahkan sampai merilis buku yang menyebut pemerintah Indonesia adalah thagut alias musuh.

"Tentu ajaran itu menyebabkan santrinya menjadi radikal. Tidak ada toleransi sama sekali," ucap Safruddin.

Namun demikian, Safruddin mengatakan bahwa teroris tidak identik dengan Islam. Dia mencontohkan dengan kasus penghancuran masjid di India, lalu penyerangan umat Islam saat salat di Selandia Baru.

Hal itu, Safruddin pun menyimpulkan bahwa kesalahan tak terdapat pada agamanya, tapi pada kekeliruan pemahaman orang dalam mempelajari agama.

"Maka kami minta ulama harus sering mengajarkan agamanya yang benar, karena semua agama tidak mengajarkan kekerasan," pungkas dia.

Terpisah, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengaku tak masalah dengan penggerebekan terduga teroris di wilayahnya lantaran bisa meminimalisasi potensi teror.

Sultan sendiri tak mengetahui secara detail soal operasi di Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta selama 2-4 April itu. Termasuk, soal dugaan keterlibatan warga atau pendatang.

"Saya enggak tahu persis, itu memang orang Jogja atau memang non-Jogja, tapi ndelik (sembunyi) atau memang dia berdomisili di Jogja, baik orang Jogja asil maupun pendatang, saya kan enggak tahu persis itu," tuturnya, di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Senin (5/4).

"Kalau saya dengan ditangkap itu malah senang. Dalam arti kecenderungan-kecenderungan untuk terjadi sesuatu yang menimpa Jogja kan berkurang," tandasnya.

Ia pun meminta warganya mengintensifkan peran 'Jaga Warga' menyusul serangkaian operasi Densus 88 itu.

Diinisiasi kali pertama 2015, program Jaga Warga, yang diatur melalui Peraturan Gubernur (Pergub) DIY Nomor 6 Tahun 2019, merupakan program pengoptimalan peran dan komunikasi warga dan perangkat desa dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah masing-masing.

Infografis Kasus Terorisme Sepanjang 2019Infografis Kasus Terorisme Sepanjang 2019. (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)

"Mungkin per kelurahan 25 orang untuk kerukunan warga dan sebagainya, mereka yang bertanggungjawab di bawah koordinasi pejabat setempat di level desa," kata Sultan.

Mereka yang terlibat dalam Jaga Warga ini berada di bawah koordinasi pembinaan dari otoritas terkait di tiap-tiap wilayah. Dengan intensifikasi Jaga Warga, ia berharap ke depan tercipta pengawasan yang lebih ketat dari segala aktivitas mencurigakan atau menyimpang.

Diberitakan sebelumnya, Densus 88 Antiteror Mabes Polri sejak menggelar operasi penggeledahan di DIY pada 2-4 April 2021.

Jajaran antiteror diketahui menggeledah dua buah rumah Bantul, tepatnya Kelurahan Pleret dan Sewon, pada Jumat (2/4). Malam harinya, Densus 88 melanjutkan operasinya di Berbah, Sleman. Sasarannya, satu rumah warga dan Pondok Pesantren Ibnu Qoyyim.

Sehari berselang, Densus 88 menggeledah sebuah rumah warga di Salakan Jotawang, Jotawang, Bangunharjo, Sewon, Bantul.

Minggu (4/4), giliran kantor milik Syam Organizer yang berlokasi di Kumendaman, Suryatmajan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, yang digeledah.

Dari lokasi-lokasi di atas, petugas membawa sejumlah barang bukti. Berupa, dokumen, perangkat komputer, busur beserta anak panah, kaleng donasi, handy talky.

(kum/frd/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK